JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, 28 Mei. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.42 WIB, rupiah berada di level Rp17.856 per dolar AS atau melemah 55 poin setara 0,31 persen.
Pelemahan tersebut sekaligus menjadi posisi terendah baru sepanjang sejarah (all time low) bagi rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik AS-Iran serta perhatian pasar terhadap kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
“Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini nggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental,” ujar Purbaya kepada awak media, Rabu, 27 Mei.
Saat ditanya mengenai kemungkinan pemerintah melakukan kembali stress test terhadap APBN seiring tren pelemahan rupiah, Purbaya menegaskan langkah tersebut belum diperlukan.
“Ya, saya stres, nggak (ada stress test),” ujarnya.
Ia menjelaskan pemerintah sejak awal telah memperhitungkan berbagai skenario, termasuk asumsi kenaikan harga minyak mentah dunia beserta dampaknya terhadap kurs rupiah.
“Kita udah hitung. Pada waktu simulasi 102 dolar AS per barel itu asumsi rupiahnya juga sudah kita perhitungkan,” ucapnya.
Menurut Purbaya, terdapat sejumlah faktor yang masih membantu menjaga stabilitas pasar keuangan nasional, salah satunya penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah.
Ia menilai kondisi pasar obligasi masih relatif terkendali meski rupiah mengalami tekanan. Stabilitas tersebut juga disebut didukung langkah pemerintah bersama berbagai pihak dalam menjaga kondisi pasar agar tekanan tidak semakin besar.
“Jadi enggak ada masalah. Saya enggak harus hitung ulang APBN-nya. Walaupun rupiah melemah, kan pertumbuhan yield bond-nya turun,” katanya.







