TANGERANG SELATAN – Kopi selama ini dikenal sebagai minuman yang mampu meningkatkan energi dan membantu menjaga konsentrasi. Berbagai penelitian juga mengaitkan konsumsi kopi dengan kesehatan jantung yang lebih baik hingga usia harapan hidup yang lebih panjang.
Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa waktu mengonsumsi kopi ternyata turut memengaruhi besarnya manfaat kesehatan yang diperoleh.
Penelitian yang dipublikasikan dalam European Heart Journal menemukan bahwa minum kopi pada pagi hari berpotensi menurunkan risiko kematian dini, termasuk akibat penyakit jantung. Sebaliknya, manfaat serupa tidak ditemukan pada orang yang mengonsumsi kopi hingga sore atau malam hari.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menganalisis data kesehatan dan pola konsumsi lebih dari 40 ribu orang dewasa di Amerika Serikat. Waktu konsumsi kopi dibagi menjadi tiga kategori, yakni pagi hari pukul 04.00–11.59, siang pukul 12.00–16.59, dan malam pukul 17.00–03.59.
Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang hanya minum kopi pada pagi hari memiliki risiko 16 persen lebih rendah mengalami kematian dini dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi kopi. Selain itu, risiko meninggal akibat penyakit kardiovaskular pada kelompok tersebut juga tercatat 31 persen lebih rendah.
Penulis utama studi, Lu Qi, mengatakan penelitian ini menjadi studi pertama yang secara khusus mengamati hubungan antara waktu minum kopi dengan dampak kesehatan.
“Ini adalah studi pertama yang menguji pola waktu minum kopi dan hasil kesehatannya. Biasanya kami tidak memberikan saran mengenai waktu konsumsi dalam pedoman diet, tetapi mungkin ke depan hal ini perlu dipertimbangkan,” ujar Lu Qi dikutip dari CNN.
Menurutnya, salah satu kemungkinan penyebabnya ialah konsumsi kopi pada sore atau malam hari dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh, termasuk produksi hormon melatonin yang berperan penting terhadap kualitas tidur.
“Mengonsumsi kopi pada sore atau malam hari mungkin mengganggu ritme biologis tubuh dan kadar hormon seperti melatonin,” jelasnya.
Penurunan kadar melatonin diketahui berkaitan dengan tekanan darah yang lebih tinggi, stres oksidatif, hingga peningkatan risiko penyakit jantung.
Menariknya, penelitian tersebut juga menemukan pola manfaat serupa pada kopi tanpa kafein atau decaf apabila dikonsumsi di pagi hari.
Manfaat tersebut muncul tanpa dipengaruhi jumlah konsumsi, baik kurang dari satu cangkir maupun lebih dari tiga cangkir per hari.
Meski demikian, para peneliti menegaskan hasil studi ini belum dapat disimpulkan sebagai hubungan sebab-akibat secara langsung. Penelitian bersifat observasional sehingga hanya menunjukkan adanya keterkaitan.
Ahli gizi Vanessa King yang tidak terlibat dalam penelitian menilai temuan ini tetap penting karena penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian utama.
“Penelitian ini bersifat observasional, artinya bukan eksperimen yang merupakan standar emas penelitian. Namun, temuan ini tetap bermakna karena penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian,” kata Vanessa King.
Sementara itu, ahli jantung dari University of Colorado Anschutz Medical Campus, David Kao, menyebut penelitian tersebut sebagai salah satu studi kopi paling menarik dalam beberapa tahun terakhir.
“Studi ini menarik karena menggunakan metode seperti machine learning untuk mengategorikan pola minum kopi dan memvalidasi temuan di lebih dari satu sumber data,” ujar David Kao.
Meski begitu, peneliti mengakui masih terdapat sejumlah keterbatasan dalam studi, termasuk kemungkinan bias dari laporan pola makan responden serta faktor gaya hidup lain yang belum sepenuhnya bisa dikendalikan.
Sebagai contoh, orang yang hanya minum kopi di pagi hari mungkin juga lebih disiplin menjaga pola hidup sehat seperti rutin berolahraga, tidur cukup, dan mengonsumsi makanan minim olahan.
Berdasarkan penelitian tersebut, waktu terbaik minum kopi disebut berada pada pagi hari, mulai pukul 04.00 hingga sebelum tengah hari. Para peneliti juga menyarankan untuk menghindari konsumsi kopi pada sore maupun malam hari, terutama bila berpotensi mengganggu kualitas tidur.
Meski demikian, para ahli menekankan kebutuhan konsumsi kopi setiap orang bisa berbeda, tergantung kondisi kesehatan, sensitivitas terhadap kafein, serta anjuran dokter maupun ahli gizi.







