PERKEMBANGAN dalam dunia teknologi digital menjadikan persaingan bisnis lebih mudah terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini, para konsumen memiliki kemampuan untuk membandingkan harga dan kualitas barang dari berbagai gerai hanya dengan menggunakan ponsel mereka.
Situasi ini mendorong perusahaan dan penjual daring untuk merancang strategi yang sesuai agar produk mereka tetap menarik minat pembeli. Persaingan tak hanya berlangsung melalui mutu produk, tetapi juga dalam hal harga, potongan, pengiriman gratis, dan berbagai penawaran lainnya.
Salah satu gejala yang tampak jelas adalah persaingan marketplace seperti Shopee dan TikTok Shop dalam menarik konsumen. Persaingan keduanya semakin berkembang, tidak hanya melalui harga murah, tetapi juga melalui fitur belanja, layanan, dan pengalaman konsumen. . Fenomena ini memperlihatkan bahwa perusahaan perlu memahami kebutuhan konsumen sekaligus memperhatikan strategi yang dipakai oleh pesaingnya.
Persaingan tersebut semakin terlihat ketika berlangsungnya promo tanggal kembar, seperti 10.10. Pada momen ini, konsumen biasanya menemukan beragam penawaran berupa potongan harga, voucher, dan gratis ongkir. Penawaran tersebut dapat menjadi daya tarik bagi konsumen untuk menjalankan pembelian. Akan tetapi, bagi penjual, menyajikan promo juga membutuhkan perhitungan karena potongan harga dapat memperkecil keuntungan jika tidak diimbangi dengan kenaikan penjualan yang memadai. Berbagai penawaran dalam program 10.10 juga terlihat pada promosi marketplace di Indonesia. .
Fenomena tersebut dapat dikaitkan dengan teori permainan atau game theory, yaitu strategi untuk memahami bagaimana keputusan suatu pihak dapat memengaruhi keputusan pihak lain. Dalam persaingan marketplace, ketika satu penjual memberikan diskon besar, penjual lain dapat memilih untuk memberikan diskon serupa, menawarkan bonus, atau mempertahankan harga dengan menonjolkan kualitas produk. Setiap pilihan mempunyai keuntungan dan risiko yang berbeda. Karena itu, penjual perlu mempertimbangkan kemungkinan respons pesaing sebelum menentukan strategi.
Sebagai contoh, dijumpai dua penjual yang menawarkan produk serupa di marketplace. Penjual pertama memberikan potongan harga untuk menarik pembeli. Penjual kedua kemudian menghadapi pilihan, yaitu ikut menurunkan harga atau memakai strategi lain, seperti memberikan bonus produk dan menaikkan pelayanan. Jika keduanya terus menurunkan harga, keuntungan yang didapatkan dapat semakin kecil. Sebaliknya, apabila salah satu penjual mampu menawarkan nilai tambah yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, persaingan tidak harus selalu berpusat pada harga termurah. Contoh ini menggambarkan bagaimana teori permainan dapat membantu menguraikan pilihan strategi dalam persaingan bisnis.
Meskipun diskon dapat meningkatkan daya tarik produk, strategi tersebut tidak selalu menjamin keuntungan yang lebih besar. Penjual juga perlu memperhitungkan biaya produk, biaya operasional, komisi platform, dan kemungkinan perubahan perilaku konsumen. Konsumen yang awalnya membeli karena diskon belum tentu kembali melakukan pembelian ketika harga kembali normal. Maka dari itu, penjual perlu membangun kepercayaan melalui kualitas produk, pelayanan yang baik, dan informasi yang jelas agar hubungan dengan konsumen dapat bertahan lebih lama.
Ujungnya, teori permainan memberikan pemahaman bahwa persaingan bisnis tidak hanya berhubungan dengan keputusan perusahaan sendiri, tetapi juga dengan kemungkinan tindakan pesaing. Fenomena persaingan marketplace dan promo tanggal kembar menunjukkan bahwa strategi yang berdaya guna tidak selalu berarti memberikan harga paling murah. Perusahaan dan penjual perlu mempertimbangkan keuntungan, risiko, serta nilai yang ditawarkan kepada konsumen. Dengan memahami hal tersebut, keputusan bisnis dapat dibuat secara lebih terarah dan tidak hanya mengikuti strategi pesaing.
Penulis:
Besti Gemining Daeli
Fadli Alwi Yahya
Nabil Satrio
Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Pamulang







