ABSTRAK
Perekonomian internasional saat ini menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang semakin kompleks akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga energi, perubahan kebijakan suku bunga, tekanan inflasi, serta meningkatnya utang pemerintah di berbagai negara.
Kondisi tersebut turut memengaruhi perdagangan internasional, arus modal, nilai tukar, dan stabilitas perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk membahas berbagai permasalahan dan tantangan yang dihadapi perekonomian internasional serta dampaknya terhadap kondisi perekonomian Indonesia.
Pembahasan menunjukkan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi global mengalami perlambatan dan ketidakpastian meningkat, perekonomian Indonesia masih memiliki ketahanan yang relatif baik dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, inflasi yang masih terkendali, serta surplus perdagangan. Namun, pelemahan nilai tukar, peningkatan impor, tekanan harga energi, ketidakpastian geopolitik, dan menyempitnya surplus perdagangan tetap menjadi tantangan yang perlu diantisipasi.
Oleh karena itu, diperlukan penguatan industri dalam negeri, peningkatan produktivitas, diversifikasi pasar ekspor, pengembangan hilirisasi, serta koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi perubahan perekonomian internasional.
Kata kunci:
ABSTRACT
The international economy is currently facing various problems and challenges that are increasingly complex due to slowing global economic growth, geopolitical uncertainty, energy price fluctuations, changes in interest rate policies, inflationary pressures, and increasing government debt in various countries. These conditions also affect international trade, capital flows, exchange rates, and economic stability in developing countries, including Indonesia. This article aims to discuss various problems and challenges faced by the international economy and their impact on Indonesia’s economic conditions. The discussion shows that although global economic growth has slowed and uncertainty has increased, Indonesia’s economy still has relatively good resilience with economic growth above 5 percent, inflation still under control, and trade surpluses. However, weakening exchange rates, increasing imports, energy price pressures, geopolitical uncertainty, and narrowing trade surpluses remain challenges that need to be anticipated. Therefore, it is necessary to strengthen the domestic industry, increase productivity, diversify export markets, develop downstreaming, and coordinate fiscal and monetary policies to strengthen Indonesia’s economic resilience in the face of changes in the international economy.
PENDAHULUAN
Perekonomian internasional saat ini menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang semakin kompleks, seperti perlambatan pertumbuhan ekonomi global, konflik geopolitik, ketegangan perdagangan, perubahan suku bunga, fluktuasi harga energi, serta gangguan rantai pasok. Kondisi tersebut meningkatkan ketidakpastian terhadap aktivitas perdagangan dan investasi antarnegara serta memberikan tekanan bagi negara berkembang, termasuk Indonesia. Dampaknya dapat terlihat melalui perubahan nilai tukar, peningkatan biaya produksi dan transportasi, tekanan inflasi, serta perubahan kondisi perdagangan internasional. Meskipun demikian, perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap berada di atas 5 persen, inflasi yang relatif terkendali, dan masih tercatatnya surplus perdagangan. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk memperkuat industri dalam negeri, meningkatkan produktivitas, memperluas pasar ekspor, serta menjaga stabilitas ekonomi agar Indonesia mampu menghadapi berbagai perubahan dan tantangan dalam perekonomian internasional.
LANDASAN TEORI
Perekonomian internasional pada dasarnya menggambarkan hubungan ekonomi antarnegara yang terbentuk melalui kegiatan perdagangan, investasi, arus modal, serta pertukaran barang dan jasa. Dalam teori perdagangan internasional, Adam Smith melalui teori keunggulan absolut menjelaskan bahwa suatu negara dapat memperoleh manfaat perdagangan dengan melakukan spesialisasi pada barang yang dapat diproduksi secara lebih efisien. Pemikiran tersebut kemudian dikembangkan oleh David Ricardo melalui teori keunggulan komparatif yang menjelaskan bahwa perdagangan tetap dapat memberikan keuntungan bagi negara meskipun suatu negara tidak memiliki keunggulan absolut dalam seluruh kegiatan produksi. Perkembangan teori perdagangan selanjutnya menjelaskan bahwa hubungan perdagangan tidak hanya ditentukan oleh perbedaan produktivitas, tetapi juga oleh faktor produksi, skala ekonomi, struktur pasar, dan kebijakan perdagangan.
Dalam perkembangan perekonomian modern, keterkaitan antarnegara semakin kuat sehingga perubahan yang terjadi pada suatu negara dapat memberikan dampak terhadap negara lainnya. Perdagangan internasional yang semakin terintegrasi membuat negara saling bergantung dalam memperoleh bahan baku, energi, teknologi, modal, dan pasar. Oleh karena itu, gangguan terhadap satu bagian dari sistem ekonomi global dapat menimbulkan dampak yang lebih luas melalui rantai pasok, harga komoditas, arus perdagangan, dan kondisi keuangan internasional. Bank Indonesia juga menggambarkan perekonomian global dalam kondisi ketidakpastian yang dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi, inflasi, suku bunga yang tinggi, dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
Dalam konteks saat ini, keterkaitan tersebut menghadapi tantangan berupa fragmentasi ekonomi global. Fragmentasi terjadi ketika hubungan perdagangan dan investasi antarnegara semakin dipengaruhi oleh kepentingan geopolitik, kebijakan proteksionisme, pembatasan perdagangan, serta pertimbangan keamanan rantai pasok.
IMF menilai bahwa memburuknya fragmentasi geopolitik dan meningkatnya kembali ketegangan perdagangan merupakan risiko yang dapat melemahkan pertumbuhan ekonomi global. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa teori perdagangan internasional tidak dapat dipandang hanya dari sisi keuntungan pertukaran barang, tetapi juga perlu mempertimbangkan risiko ketergantungan ekonomi dan perubahan hubungan antarnegara.
Berdasarkan teori tersebut, permasalahan perekonomian internasional saat ini dapat dilihat dari hubungan antara perdagangan, pertumbuhan ekonomi, harga energi, inflasi, kebijakan moneter, serta kondisi geopolitik. Ketika terjadi gangguan pada perdagangan atau energi, dampaknya dapat menyebar melalui peningkatan biaya produksi dan transportasi, perubahan harga barang, tekanan inflasi, hingga perubahan arus modal.
World Bank juga menunjukkan bahwa konflik dan kenaikan harga energi dapat menekan pertumbuhan global sekaligus meningkatkan inflasi dan biaya pembiayaan. Dengan demikian, pemahaman mengenai teori perdagangan internasional dan keterkaitan ekonomi global menjadi dasar untuk menganalisis berbagai permasalahan dan tantangan perekonomian internasional saat ini, termasuk dampaknya terhadap perekonomian Indonesia.
PEMBAHASAN
- Kondisi Perekonomian Global yang Semakin Tidak Pasti
Perekonomian global pada 2026 menghadapi kondisi yang semakin kompleks. Pertumbuhan ekonomi dunia mengalami perlambatan di tengah meningkatnya konflik geopolitik, ketegangan perdagangan, perubahan kebijakan suku bunga, serta ketidakpastian harga energi. International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,1 persen pada 2026 dan kemudian merevisinya menjadi 3,0 persen dalam pembaruan Juli 2026. Sementara itu, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 2,5 persen pada 2026. Meskipun terdapat perbedaan proyeksi, kedua lembaga tersebut menunjukkan bahwa perekonomian dunia menghadapi pertumbuhan yang lebih lemah dan ketidakpastian yang lebih tinggi.
Salah satu permasalahan utama adalah semakin kuatnya pengaruh geopolitik terhadap aktivitas ekonomi. Konflik antarnegara dapat mengganggu jalur perdagangan dan pasokan energi sehingga meningkatkan harga minyak, biaya transportasi, dan biaya produksi. Kondisi tersebut kemudian dapat memberikan tekanan terhadap inflasi dan daya beli masyarakat. Selain itu, meningkatnya fragmentasi ekonomi global membuat negara dan perusahaan tidak hanya mempertimbangkan efisiensi dalam menentukan mitra perdagangan, tetapi juga keamanan rantai pasok dan risiko geopolitik.
- Suku Bunga, Nilai Tukar, dan Perdagangan Internasional
Perubahan kebijakan moneter negara maju juga menjadi salah satu tantangan bagi perekonomian internasional. Kebijakan suku bunga Amerika Serikat dapat memengaruhi arus modal, nilai tukar, serta biaya pembiayaan di negara berkembang. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap Indonesia. Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen pada September 2026 sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar dan perekonomian nasional.
Tekanan eksternal juga terlihat dari perkembangan perdagangan Indonesia. Pada Januari–Agustus 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai US$193,64 miliar, sedangkan impor mencapai US$186,39 miliar. Indonesia masih mencatat surplus perdagangan sekitar US$7,25 miliar, tetapi pertumbuhan impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor menunjukkan bahwa surplus perdagangan mulai mengalami tekanan. Kondisi tersebut perlu diperhatikan karena peningkatan kebutuhan impor, terutama energi, dapat meningkatkan tekanan terhadap sektor eksternal Indonesia.
- Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Permasalahan global juga dapat memengaruhi stabilitas harga dalam negeri. Kenaikan harga energi dan biaya transportasi berpotensi meningkatkan biaya produksi serta harga barang dan jasa. BPS mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen, meningkat dibandingkan Juli yang sebesar 2,88 persen. Meskipun mengalami kenaikan, tingkat inflasi tersebut masih berada dalam sasaran Bank Indonesia sehingga stabilitas harga domestik masih relatif terjaga.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menjadi salah satu penyangga utama. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan I-2026 dan 5,29 persen pada triwulan II-2026. Secara kumulatif, ekonomi Indonesia pada semester I-2026 tumbuh 5,45 persen. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih memiliki ketahanan meskipun menghadapi lingkungan eksternal yang penuh ketidakpastian.
- Tantangan Indonesia Menghadapi Perekonomian Global
Meskipun memiliki ketahanan yang relatif baik, Indonesia tetap menghadapi berbagai risiko. Pelemahan nilai tukar, meningkatnya impor, tekanan harga energi, menyempitnya surplus perdagangan, serta ketidakpastian geopolitik dapat memberikan tekanan terhadap perekonomian apabila berlangsung dalam jangka panjang. Selain itu, meningkatnya utang global juga menjadi tantangan karena dapat membatasi ruang pemerintah berbagai negara dalam memberikan stimulus ketika terjadi tekanan ekonomi.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Indonesia perlu memperkuat fondasi ekonomi domestik melalui peningkatan produktivitas, penguatan industri dalam negeri, pengembangan hilirisasi, dan diversifikasi pasar ekspor. Ketergantungan terhadap impor energi juga perlu dikurangi secara bertahap. Di sisi kebijakan, koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia diperlukan untuk menjaga stabilitas inflasi, nilai tukar, serta keberlanjutan fiskal. Dengan langkah tersebut, ketahanan ekonomi Indonesia diharapkan tidak hanya mampu menghadapi tekanan jangka pendek, tetapi juga menjadi dasar bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dalam menghadapi perubahan perekonomian internasional.
KESIMPULAN
Perekonomian internasional saat ini menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan, mulai dari perlambatan pertumbuhan ekonomi global, konflik geopolitik, fragmentasi perdagangan, perubahan suku bunga, fluktuasi harga energi, hingga meningkatnya utang global. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap perekonomian Indonesia melalui nilai tukar, perdagangan, inflasi, dan arus modal.
Meskipun demikian, Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap berada di atas 5 persen, inflasi yang relatif terkendali, serta surplus perdagangan yang masih terjaga.
Untuk mempertahankan kondisi tersebut, Indonesia perlu memperkuat industri dalam negeri, meningkatkan produktivitas, mendorong hilirisasi, memperluas pasar ekspor, serta menjaga koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. Dengan penguatan tersebut, Indonesia diharapkan mampu menghadapi ketidakpastian perekonomian internasional sekaligus membangun pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. (2026, 6 Mei). Ekonomi Indonesia resilien dan tumbuh solid pada triwulan I-2026. Badan Pusat Statistik. “BPS – Ekonomi Indonesia Triwulan I 2026” (https://reference-url-citation.invalid/0)
Badan Pusat Statistik. (2026, 5 Agustus). Ekonomi Indonesia triwulan II-2026. Badan Pusat Statistik. “BPS – Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II 2026” (https://reference-url-citation.invalid/1)
Badan Pusat Statistik. (2026, 1 September). Inflasi year on year (y-on-y) pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen. Badan Pusat Statistik. “BPS – Inflasi Agustus 2026” (https://reference-url-citation.invalid/2)
Badan Pusat Statistik. (2026, 1 Oktober). Ekspor dan impor Indonesia Agustus 2026 masing-masing tercatat USD 26,61 miliar dan USD 23,06 miliar. Badan Pusat Statistik. “BPS – Ekspor dan Impor Agustus 2026” (https://reference-url-citation.invalid/3)
Bank Indonesia. (2026, 23 September). BI-Rate tetap 5,75%: Memperkuat stabilitas, mendorong pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia. “Bank Indonesia – BI-Rate September 2026” (https://reference-url-citation.invalid/4)
Federal Reserve. (2026, September 16). Federal Reserve issues FOMC statement. Board of Governors of the Federal Reserve System. “Federal Reserve – FOMC Statement September 2026” (https://reference-url-citation.invalid/5)
International Monetary Fund. (2026, April). World economic outlook: Global economy in flux, prospects remain uncertain. International Monetary Fund. “IMF – World Economic Outlook April 2026” (https://reference-url-citation.invalid/6)
International Monetary Fund. (2026, April). Fiscal monitor: Fiscal policy under pressure—High debt, rising risks. International Monetary Fund. “IMF – Fiscal Monitor April 2026” (https://reference-url-citation.invalid/7)
International Monetary Fund. (2026, July). World economic outlook update. International Monetary Fund.
World Bank. (2026, June). Global economic prospects, June 2026. World Bank Group. “World Bank – Global Economic Prospects June 2026” (https://reference-url-citation.invalid/8)
Penulis:
Ridho Farhad
Satrio Putro Romadho
Shalikhatun Nisa
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, Universitas Pemulang







