DUNIA kerja saat ini tidak hanya menjadi tempat untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga menjadi ruang bagi seseorang untuk berkembang dan menunjukkan pencapaian. Bagi Generasi Z, perkembangan karier sering kali menjadi sesuatu yang cukup diperhatikan.
Apalagi dengan adanya media sosial, pencapaian orang lain dapat terlihat dengan mudah. Ada yang baru lulus sudah mendapatkan pekerjaan, ada yang sudah mendapatkan promosi, mengikuti banyak sertifikasi, bahkan ada yang sudah membangun bisnis sendiri.
Melihat pencapaian tersebut terkadang membuat muncul pertanyaan dalam diri, “Kok aku belum seperti mereka?” atau “Apakah karierku sudah tertinggal?” Perasaan takut tertinggal dalam perkembangan karier inilah yang dikenal dengan istilah Career FOMO (Fear of Missing Out).
Career FOMO sebenarnya bukan hanya tentang rasa iri terhadap pencapaian orang lain. Fenomena ini lebih kepada kekhawatiran seseorang bahwa dirinya tidak berkembang secepat orang lain dalam perjalanan karier. Ketika melihat teman sebaya mendapatkan kesempatan yang lebih baik, seseorang dapat merasa bahwa dirinya harus segera melakukan sesuatu agar tidak tertinggal.
Media sosial membuat fenomena tersebut semakin mudah terjadi. Hanya dengan membuka Instagram, TikTok, atau LinkedIn, kita dapat melihat berbagai pencapaian orang lain. Namun, yang sering dilupakan adalah bahwa media sosial hanya memperlihatkan sebagian dari perjalanan seseorang. Kita melihat hasil akhirnya, tetapi tidak selalu melihat proses, kegagalan, tekanan, dan perjuangan yang mereka jalani.
Hal tersebut menjadi menarik ketika dikaitkan dengan Generasi Z yang saat ini mulai mendominasi dunia kerja. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Wahyuningsih dan rekan-rekan dalam Jurnal Manajemen Ekonomi dan Akuntansi membahas fenomena Career FOMO pada karyawan Generasi Z di BFI Finance. Penelitian tersebut melibatkan 100 karyawan Generasi Z di kantor pusat BFI Finance, Serpong, BSD.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Career FOMO, kepuasan kerja, dan stres kerja secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap keinginan pindah kerja, dengan kontribusi sebesar 55,1%. Artinya, ketiga faktor tersebut memiliki hubungan yang cukup besar dengan munculnya keinginan karyawan untuk berpindah pekerjaan.
Menariknya, Career FOMO menjadi faktor yang paling dominan dalam penelitian tersebut. Career FOMO memiliki pengaruh positif terhadap keinginan pindah kerja. Artinya, semakin tinggi rasa takut tertinggal dalam perkembangan karier, semakin tinggi pula kecenderungan seseorang untuk memiliki keinginan berpindah pekerjaan.
Fenomena ini sebenarnya cukup mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seorang karyawan merasa pekerjaannya tidak berkembang setelah melihat teman seusianya mendapatkan promosi. Kemudian muncul keinginan untuk mencari pekerjaan baru karena merasa perusahaan lain mungkin memberikan kesempatan karier yang lebih baik.
Namun, apakah berpindah pekerjaan selalu menjadi solusi?
Jawabannya tentu tidak sesederhana itu. Keinginan untuk berkembang dalam karier merupakan sesuatu yang wajar. Setiap orang tentu ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, meningkatkan kemampuan, dan memiliki masa depan yang sesuai dengan harapannya. Yang perlu diperhatikan adalah ketika pencapaian orang lain justru menjadi ukuran utama dalam menilai keberhasilan diri sendiri.
Selain Career FOMO, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kepuasan kerja berpengaruh negatif terhadap keinginan pindah kerja. Dengan kata lain, semakin tinggi kepuasan kerja seseorang, semakin rendah keinginannya untuk berpindah pekerjaan. Sebaliknya, stres kerja memiliki pengaruh positif terhadap keinginan pindah kerja.
Hal ini menunjukkan bahwa persoalan karier Gen Z tidak hanya berkaitan dengan bagaimana seseorang melihat pencapaian orang lain. Kondisi di tempat kerja juga memiliki peran. Lingkungan kerja, beban pekerjaan, kesempatan berkembang, serta rasa puas terhadap pekerjaan dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk tetap bertahan atau mulai mencari peluang baru.
Bagi perusahaan, fenomena Career FOMO juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Perusahaan tidak cukup hanya memberikan pekerjaan dan gaji, tetapi juga perlu memberikan ruang bagi karyawan untuk berkembang. Kesempatan belajar, pengembangan karier, komunikasi yang baik antara atasan dan karyawan, serta lingkungan kerja yang sehat dapat membantu karyawan melihat bahwa mereka masih memiliki kesempatan untuk berkembang di dalam perusahaan.
Sementara bagi Gen Z sendiri, mungkin sudah waktunya untuk berhenti menjadikan perjalanan karier orang lain sebagai patokan utama. Setiap orang memiliki waktu dan jalannya masing-masing. Ada yang cepat mendapatkan pekerjaan, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang berkembang melalui promosi, sementara yang lain berkembang dengan mempelajari keterampilan baru.
Karier bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat sampai.
Melihat kesuksesan orang lain boleh menjadi motivasi, tetapi jangan sampai berubah menjadi tekanan. Daripada terus bertanya, “Kenapa aku belum seperti mereka?”, mungkin lebih baik mulai bertanya, “Apa yang bisa aku lakukan untuk mengembangkan diriku dari posisi sekarang?”
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan menjadi lebih cepat dari orang lain, tetapi terus berkembang menjadi versi diri yang lebih baik.
Sumber:
Wahyuningsih, I., Handayani, P. T., Sahdeli, A., Sigit, A. N., Setiawan, D. A., Ruslani, I. F., Ridho, M., & Rifkhan. (2026). Analisis Career FOMO, Kepuasan Kerja dan Stres Kerja Terhadap Keinginan Pindah Kerja Karyawan Generasi Z Di BFI Finance. Jurnal Manajemen Ekonomi dan Akuntansi, 2(3), 624–633. https://doi.org/10.63921/jmaeka.v2i3.478.
Penulis:
Irma Wahyuningsih
Mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang







