TANGSELXPRESS– Anemia masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu diwaspadai pada kelompok remaja di Indonesia. Remaja putri menjadi salah satu kelompok yang rentan mengalami kondisi ini, terutama akibat kehilangan darah selama menstruasi setiap bulan.
Anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin (Hb) dalam darah berada di bawah batas normal. Akibatnya, kemampuan darah untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh menjadi berkurang.
Mengutip Kementerian Kesehatan, anemia yang tidak ditangani dapat mengganggu kesehatan dan perkembangan remaja. Dampaknya juga dapat dirasakan dalam aktivitas sehari-hari, terutama selama masa pertumbuhan.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi anemia pada kelompok usia 15–24 tahun mencapai 15,5 persen. Angka tersebut menurun dibandingkan Riskesdas 2018 yang mencatat prevalensi sebesar 32 persen pada kelompok usia yang sama.
Meski mengalami penurunan, anemia masih perlu mendapat perhatian. Kajian dalam Jurnal Surya Medika menunjukkan prevalensi anemia pada remaja berbeda di sejumlah wilayah, mulai dari 10,2 persen di Barito Utara hingga 76 persen di Lombok Utara.
Kekurangan Zat Besi Jadi Salah Satu Penyebab Utama
Salah satu penyebab utama anemia adalah kurangnya asupan zat besi. Mineral ini dibutuhkan tubuh untuk memproduksi hemoglobin yang berfungsi mengangkut oksigen melalui aliran darah.
Kebutuhan zat besi meningkat selama masa remaja seiring pertumbuhan tinggi badan, perkembangan otot, dan bertambahnya massa tubuh. Karena itu, pemenuhan nutrisi melalui pola makan bergizi seimbang menjadi hal penting.
Remaja putri memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekurangan zat besi akibat kehilangan darah selama menstruasi. Selain itu, infeksi cacing dan penyakit kronis juga dapat menjadi pemicu anemia.
Sejumlah faktor lain turut memengaruhi risiko anemia, di antaranya status gizi, kondisi ekonomi keluarga, dan tingkat pendidikan orang tua.
Remaja dengan indeks massa tubuh (IMT) rendah juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia. Sementara itu, keterbatasan ekonomi keluarga dapat memengaruhi kemampuan menyediakan makanan bergizi dan mengakses layanan kesehatan.
Makanan Sumber Zat Besi untuk Mencegah Anemia
Pemenuhan kebutuhan zat besi dapat dilakukan melalui konsumsi makanan bergizi yang mengandung mineral tersebut.
Beberapa sumber zat besi dari pangan hewani antara lain daging merah, hati, ikan, dan kuning telur. Sementara itu, kacang-kacangan serta sayuran berdaun hijau juga dapat menjadi pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan zat besi.
Penyerapan zat besi dapat ditingkatkan dengan mengonsumsi makanan atau buah yang mengandung vitamin C.
Sebaliknya, teh dan kopi mengandung tanin serta polifenol yang dapat menghambat penyerapan zat besi apabila dikonsumsi berdekatan dengan waktu makan.
Karena itu, remaja perlu memperhatikan kombinasi makanan sehari-hari agar kebutuhan zat besi dapat terpenuhi secara optimal.
Kenali Gejala Anemia 5L
Anemia dapat dikenali melalui sejumlah gejala, salah satunya dikenal dengan istilah 5L, yaitu lemah, letih, lesu, lelah, dan lalai.
Selain itu, penderita anemia dapat menunjukkan tanda fisik berupa wajah pucat. Kondisi pucat juga dapat terlihat pada bagian konjungtiva mata, lidah, kuku, dan telapak tangan.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Yasjudan Rastrama Putra, menjelaskan bahwa gejala 5L merupakan salah satu tanda yang sering dirasakan penderita anemia.
“Gejala yang sering dirasakan oleh penderita anemia merupakan 5L. Selain lima gejala tersebut, biasanya orang lain akan menyadari bahwa penderita anemia berwajah pucat,” ujar Yasjudan, dikutip dari laman Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (30/10/2026).
Meski demikian, gejala tersebut tidak selalu memastikan seseorang mengalami anemia. Pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar hemoglobin diperlukan guna memastikan kondisi tersebut.
Anemia Bisa Mengganggu Konsentrasi hingga Berdampak pada Kehamilan
Anemia yang tidak ditangani dapat mengganggu pertumbuhan, daya tahan tubuh, konsentrasi, serta kemampuan remaja dalam mengikuti pembelajaran.
Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini juga berpotensi memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup.
Risiko kesehatan bahkan dapat berlanjut ketika perempuan memasuki masa kehamilan. Anemia selama kehamilan dapat meningkatkan risiko komplikasi, termasuk bayi lahir dengan berat badan rendah.
Karena itu, pencegahan anemia perlu dilakukan sejak usia remaja melalui pola makan bergizi seimbang, pemenuhan kebutuhan zat besi, serta pemeriksaan kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada anemia.







