TANGSELXPRESS– Delapan Entertainment Studios resmi mengumumkan produksi film layar lebar Begu Ganjang, sebuah film bergenre medical horror mystery yang mengangkat folklor Sumatera Utara. Film ini diadaptasi dari novel Begu Ganjang karya dr. Ferdiriva Hamzah, memadukan dunia kedokteran, misteri, dan legenda lokal dalam sebuah cerita layar lebar.
Delapan Entertainment Studios resmi diluncurkan pada 2026 sebagai rumah produksi kontemporer dengan visi menghadirkan karya sinematik dan pengembangan kekayaan intelektual yang berkelanjutan. Meski hadir sebagai entitas baru, fondasi perusahaan berakar pada sinergi bersama 8 Management, manajemen artis yang berdiri sejak 2005 di bawah kepemimpinan Gugun Ibnu Siregar dan Yusuf Hartono.

Selama lebih dari dua dekade, 8 Management telah mengembangkan deretan talenta papan atas, antara lain Chelsea Islan, Tatjana Saphira, Alexandra Gottardo, Michelle Ziudith, Nasya Marcella, Citra Kirana, Velove Vexia, Hesti Purwadinata, Alisia Rininta, Olivia Morison, Monserat Gizelle, Dasha March Relov, Gemi Nastiti, Fauzi Badilla, Mike Lewis, Jesaya Abraham, Billy Davidson, Rama Michael, dan Irsyaddillah.
Sinergi pengembangan talenta dan visi produksi modern tersebut menjadi fondasi langkah perusahaan memperluas ekosistem kreatif.
Rama Michael, Direktur Utama PT Delapan Entertainment Studios, menyampaikan, “Delapan Entertainment Studios hadir dengan visi besar untuk memajukan lanskap kreatif ke skala yang lebih luas. Kami tidak hanya memosisikan diri sebagai rumah produksi, melainkan sebuah ekosistem integratif. Melalui kekuatan sinergi bersama 8 Management yang telah membentuk industri hiburan dan melahirkan talenta papan atas selama dua dekade, kami berkomitmen menciptakan IP (intellectual property) lokal berstandar global. Kami ingin memastikan karya-karya dari Indonesia tidak hanya merajai pasar domestik, tetapi juga mampu beresonansi kuat dan bersaing di panggung internasional.”
Rama Michael, yang telah berkiprah di industri hiburan sejak 2005, kini mengambil peran baru di balik layar. Setelah sekitar satu tahun hiatus dari dunia akting, ia kembali sebagai pimpinan rumah produksi sekaligus mengawal film Begu Ganjang sebagai Executive Producer dan Producer.
Menghadirkan pendekatan berbeda dalam genre horor Indonesia, film Begu Ganjang memadukan dunia kedokteran modern dengan legenda supranatural yang mengakar dalam kepercayaan masyarakat Batak di Sumatera Utara.
Melalui genre medical horror mystery, film ini membawa teror Begu Ganjang ke dalam lingkungan rumah sakit, tempat ilmu pengetahuan dan keselamatan manusia seharusnya menjadi prioritas utama. Perpaduan antara misteri medis, kekuatan supranatural, serta konflik psikologis menjadi daya tarik utama cerita yang tidak hanya mengandalkan ketegangan, tetapi juga menghadirkan pertentangan antara logika dan kepercayaan.
Diadaptasi dari novel Begu Ganjang karya dr. Ferdiriva Hamzah yang pertama kali diterbitkan pada 2017, film ini membawa karya sastra populer Indonesia ke medium layar lebar. Novel tersebut telah terjual lebih dari 50.000 eksemplar dan kini memasuki cetakan keempat.
Menariknya, latar belakang dr. Ferdiriva Hamzah sebagai seorang dokter turut menjadi nilai tersendiri dalam pengembangan cerita yang mempertemukan dunia medis dengan folklor lokal. Adaptasi ini sekaligus membuka peluang pengembangan ekosistem intellectual property (IP) Begu Ganjang yang lebih luas melalui berbagai medium kreatif.
Film Begu Ganjang mengisahkan Tobias (Tobi), seorang dokter muda yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan meyakini bahwa setiap fenomena mistis memiliki penjelasan medis. Melalui konten edukasinya, Tobi bahkan aktif membantah berbagai kepercayaan mistis menggunakan pendekatan ilmiah. Namun, di balik keyakinannya tersebut, ia menyimpan trauma masa kecil akibat tragedi kebakaran yang merenggut kedua orang tuanya. Kesempatan bekerja di Rumah Sakit Rotua membawa Tobi kembali ke tanah kelahirannya di Sumatera Utara, sekaligus mempertemukannya dengan masa lalu yang selama ini berusaha ia lupakan.
Keyakinan Tobi mulai terguncang ketika serangkaian kematian pasien secara misterius, kondisi medis yang sulit dijelaskan, serta kemunculan sosok mengerikan mulai menghantui Rumah Sakit Rotua. Situasi semakin mencekam ketika Lena, kekasihnya yang merupakan dokter residen kejiwaan, turut menjadi korban teror tersebut. Demi menyelamatkan perempuan yang dicintainya, Tobi harus mengungkap misteri yang menghubungkan rumah sakit dengan legenda Begu Ganjang. Ketika ilmu kedokteran tak lagi mampu menjelaskan segalanya, mampukah seorang dokter mempertahankan keyakinannya pada logika, atau justru harus menerima keberadaan sesuatu yang selama ini dianggapnya mustahil?
Disutradarai oleh Arwin Tri Wardhana, Film Begu Ganjang menghadirkan jajaran pemain lintas generasi, di antaranya Randy Pangalila, Nasya Marcella, Dwi Sasono, Alexandra Gottardo, Omara Esteghlal, Moudy Whilhelmina, Mathias Muchus, Rina Sidabutar, Yama Carlos, Shakeel Fauzi, Fatimah Az Zahra, Qory Sandioriva, Rita Matu Mona, Oding Siregar, David Saragih, Yohana Gabe, dan Eduwart Manalu.
Siap diproduksi pada Oktober 2026, berlatarkan lokasi di Jakarta dan Medan, film Begu Ganjang mendapat dukungan dari berbagai mitra, di antaranya BRODO, salah satu brand alas kaki lokal terdepan di Indonesia; Hotel Des Indes Menteng Jakarta dan Marianna Resort & Convention, Tuktuk-Samosir, yang tergabung dalam jaringan Marclan International, bagian dari Parna Raya Group; Baju Jaga by Cravatte, brand pakaian medis; serta KFC Indonesia. Kolaborasi lintas industri ini menjadi bagian dari dukungan terhadap produksi film yang mengangkat kekayaan cerita lokal Sumatera Utara ke layar lebar.







