DI tengah perkembangan teknologi, menyampaikan pikiran kepada orang lain terasa semakin praktis. Lewat TikTok, Instagram, dan platform digital lainnya, anak muda dapat membagikan pengalaman, menanggapi suatu isu, atau mengutarakan pendapat hanya dengan menggunakan ponsel. Meski begitu, ada hal yang menarik untuk dipertanyakan: mengapa sebagian mahasiswa yang terbiasa berinteraksi di media sosial justru masih merasa canggung ketika harus berbicara di hadapan orang lain secara langsung?
Menurut pandangan saya, keadaan ini menunjukkan bahwa komunikasi digital dan kemampuan berbicara secara langsung merupakan dua hal yang tidak selalu berjalan beriringan. Seseorang mungkin terbiasa menulis komentar atau membuat konten, tetapi belum tentu nyaman ketika harus berdiri di depan kelas dan menyampaikan gagasan secara spontan. Dalam situasi tatap muka, pembicara perlu menghadapi respons audiens secara langsung tanpa bisa mengulang perkataan seperti saat merekam video.
Situasi tersebut cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa. Sebagian mahasiswa memahami materi yang dipelajari, tetapi kesulitan menyampaikannya ketika mendapat giliran presentasi. Ada juga yang memilih tidak berbicara dalam diskusi karena khawatir jawabannya keliru atau pendapatnya mendapat tanggapan negatif. Penelitian Halimah dan Nuraida (2025) terhadap 27 mahasiswa tahun pertama di sebuah perguruan tinggi swasta di Cianjur, Jawa Barat, menemukan bahwa 63% responden mengalami kecemasan berbicara di depan umum pada tingkat sedang. Temuan ini menggambarkan bahwa rasa gugup saat berbicara merupakan persoalan yang patut diperhatikan, meskipun hasil penelitian tersebut tidak dapat digeneralisasi untuk semua mahasiswa.
Public speaking tidak terbatas pada kemampuan berpidato di atas panggung. Keterampilan ini juga berarti mampu menjelaskan gagasan secara runtut, memilih kata yang tepat, dan menyampaikan pesan agar mudah dimengerti. Bagi mahasiswa, kemampuan tersebut berguna dalam berbagai kegiatan, mulai dari presentasi di kelas dan organisasi hingga wawancara kerja serta aktivitas profesional.
Teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk melatih kemampuan tersebut. Mahasiswa, misalnya, bisa merekam diri ketika berlatih presentasi, membuat video singkat yang berisi penjelasan suatu topik, atau mencoba menyampaikan gagasan dalam waktu satu menit.
Penelitian Lai dan rekan-rekannya (2023), yang melibatkan 1.740 mahasiswa dari tujuh perguruan tinggi di Tiongkok, menunjukkan bahwa pola penggunaan media sosial berkaitan dengan kecemasan sosial dan kapasitas komunikasi. Karena konteks penelitian tersebut berbeda, temuannya tidak berarti media sosial pasti meningkatkan kepercayaan diri setiap mahasiswa, tetapi mengingatkan kita bahwa cara menggunakan media sosial dan kemampuan berkomunikasi layak diperhatikan bersama.
Walaupun demikian, latihan melalui kamera saja belum cukup. Komunikasi secara langsung juga menuntut seseorang untuk mendengarkan lawan bicara, memahami situasi, menyesuaikan cara penyampaian, dan menjawab pertanyaan secara spontan. Oleh sebab itu, penggunaan teknologi sebaiknya disertai kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan orang lain.
Saya berpendapat bahwa mahasiswa tidak harus menunggu rasa percaya diri muncul sepenuhnya sebelum mulai berbicara. Keberanian justru bisa dibangun sedikit demi sedikit melalui pengalaman. Memulai dengan mengajukan pertanyaan di kelas, menyampaikan pendapat saat kerja kelompok, atau menjadi moderator dalam kegiatan sederhana dapat menjadi langkah awal. Kekeliruan saat berbicara bukanlah akhir dari segalanya, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Selain usaha pribadi, lingkungan kampus juga berperan dalam membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan komunikasi. Dosen dapat membuka ruang diskusi yang nyaman, memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menyampaikan pendapat, serta memberikan masukan tanpa mempermalukan mereka. Dengan suasana belajar yang mendukung, mahasiswa dapat berlatih sekaligus belajar menghargai perbedaan pandangan.
Pada akhirnya, generasi muda perlu mengembangkan kemampuan komunikasi, baik di ruang digital maupun dalam pertemuan langsung. Mampu menulis komentar di media sosial merupakan salah satu bentuk komunikasi, tetapi menyampaikan ide dengan jelas, berdiskusi secara santun, dan menanggapi pertanyaan secara langsung juga merupakan keterampilan yang penting. Media sosial bisa menjadi tempat untuk memulai latihan, sedangkan pengalaman sehari-hari membantu mengasah kemampuan tersebut.
Berbicara dengan baik bukan berarti harus menjadi orang yang paling keras suaranya atau paling sering mengambil kesempatan untuk bicara. Hal yang lebih penting adalah menyampaikan gagasan secara jelas dan membuat orang lain memahami maksudnya. Jangan sampai kita begitu lancar mengungkapkan pendapat melalui layar, tetapi justru terdiam ketika kesempatan untuk menyampaikan ide secara langsung terbuka di depan kita.
DAFTAR PUSTAKA
Halimah, H., & Nuraida, I. (2025). Exploring public speaking anxiety among the first-year college students in West Java Indonesia. EDUCASIA: Jurnal Pendidikan, Pengajaran, dan Pembelajaran, 10(1), 83–94. https://doi.org/10.21462/educasia.v10i1.300
Lai, F., Wang, L., Zhang, J., Shan, S., Chen, J., & Tian, L. (2023). Relationship between social media use and social anxiety in college students: Mediation effect of communication capacity. International Journal of Environmental Research and Public Health, 20(4), 3657. https://doi.org/10.3390/ijerph20043657
Penulis:
Tania Ade Haryani
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang







