• ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber
tangselxpress.com
Rabu, 21 Oktober, 2026
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
tangselxpress.com
No Result
View All Result
Home DUNIA KAMPUS

Digital Marketing: Kita Membeli Karena Butuh atau Terpengaruh?

Redaksi Tangselxpress by Redaksi Tangselxpress
September 15, 2026
in DUNIA KAMPUS
Reading Time: 5min read
Alasan Membeli Barang, Butuh Atau Perlu?
221
SHARES
2.4k
VIEWS

PERNAHKAH kita membuka TikTok atau Instagram hanya untuk melihat-lihat, tetapi akhirnya membeli sesuatu yang sebelumnya tidak pernah direncanakan? Awalnya hanya ingin melihat konten, kemudian muncul video promosi, rekomendasi influencer, diskon, atau tulisan “stok terbatas”.

Tanpa sadar, kita mulai tertarik dan akhirnya melakukan pembelian. Dari fenomena tersebut muncul sebuah pertanyaan menarik: kita membeli karena benar-benar membutuhkan atau karena terpengaruh oleh digital marketing?

Menurut saya, pada era digital saat ini, keputusan pembelian konsumen tidak lagi hanya didasarkan pada kebutuhan. Kebutuhan memang menjadi salah satu alasan utama seseorang membeli produk, tetapi digital marketing mempunyai kemampuan yang sangat besar untuk memengaruhi keinginan dan keputusan konsumen.

Perkembangan teknologi membuat aktivitas pemasaran mengalami perubahan yang cukup besar. Jika dahulu perusahaan banyak menggunakan televisi, radio, koran, dan baliho, sekarang perusahaan dapat memasarkan produk melalui Instagram, TikTok, YouTube, marketplace, website, influencer, hingga iklan digital. Perubahan tersebut terjadi karena masyarakat semakin aktif menggunakan internet.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024, sebanyak 72,78% penduduk Indonesia telah mengakses internet pada tahun 2024. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun 2023 yang berada pada 69,21%. Data tersebut menunjukkan bahwa internet telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Selain itu, berdasarkan DataReportal dalam Digital 2025: Indonesia, terdapat sekitar 212 juta pengguna internet di Indonesia pada Januari 2025, atau sekitar 74,6% dari jumlah penduduk. Pada periode yang sama, terdapat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia. Besarnya jumlah tersebut menjadikan media sosial sebagai tempat yang sangat potensial bagi perusahaan untuk memengaruhi konsumen.

Dari Kebutuhan Menjadi Keinginan

Hal yang menarik dari digital marketing adalah kemampuannya mengubah kebutuhan menjadi keinginan. Kebutuhan dan keinginan sebenarnya berbeda. Kebutuhan muncul karena seseorang memang memerlukan suatu barang atau jasa, sedangkan keinginan dapat muncul karena adanya rangsangan tertentu.

Sebagai contoh, seseorang mungkin memang membutuhkan sepatu baru karena sepatu lamanya sudah rusak. Namun, ketika melihat video sepatu terbaru di TikTok dengan desain yang menarik dan harga sedang diskon, keputusannya dapat berubah. Ia mungkin awalnya hanya membutuhkan sepatu, tetapi kemudian merasa membutuhkan model tertentu yang sedang viral.

BACA JUGA :  Memahami Pentingnya Akuntansi dalam Kehidupan Sehari-Hari

Di sinilah digital marketing memainkan perannya. Pemasaran digital tidak hanya memberikan informasi mengenai produk, tetapi juga menciptakan daya tarik emosional. Produk dikemas dengan foto menarik, video kreatif, testimoni, review influencer, dan berbagai promosi sehingga konsumen merasa produk tersebut penting untuk dimiliki.

Konsumen terkadang bukan membeli barang karena barang tersebut benar-benar dibutuhkan, tetapi karena berhasil diyakinkan bahwa barang tersebut akan membuat hidup mereka lebih mudah, lebih menarik, lebih modern, atau bahkan lebih diterima oleh lingkungan sosial. 

Media Sosial sebagai Tempat Mempengaruhi Konsumen

Media sosial menjadi salah satu alat digital marketing yang paling kuat. Konten promosi sekarang tidak selalu terlihat seperti iklan. Promosi dapat dikemas menjadi video hiburan, tutorial, review, vlog, maupun rekomendasi dari content creator.

Misalnya, seorang influencer membuat video tentang “barang yang wajib dibawa saat kuliah”. Di dalam video tersebut terdapat tas, parfum, skincare, tumbler, dan berbagai produk lainnya. Penonton mungkin awalnya tidak memiliki niat membeli produk tersebut. Namun, setelah melihat produk digunakan dan mendapatkan rekomendasi dari seseorang yang dipercaya, muncul keinginan untuk membeli.

DataReportal mencatat bahwa 143 juta identitas pengguna media sosial terdapat di Indonesia pada awal 2025. Angka ini menunjukkan betapa besarnya potensi media sosial sebagai sarana pemasaran. Semakin banyak waktu yang dihabiskan konsumen di media sosial, semakin besar pula kemungkinan mereka terpapar informasi mengenai suatu produk.

Kondisi tersebut membuat batas antara hiburan dan iklan menjadi semakin tipis. Kita merasa sedang menikmati konten, padahal secara tidak langsung kita sedang menerima pesan pemasaran.

Diskon dan FOMO Mendorong Pembelian

Selain influencer dan konten media sosial, strategi lain yang sangat efektif adalah diskon, cashback, gratis ongkir, dan flash sale. Strategi tersebut dapat membuat konsumen merasa mendapatkan keuntungan lebih besar jika segera melakukan pembelian.

Kalimat seperti ”diskon hanya hari ini”, “tinggal 2 lagi”, atau “flash sale berakhir 10 menit lagi” dapat menciptakan rasa takut kehilangan kesempatan atau yang dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out).

Data Kementerian Perdagangan yang dikutip Kompas.com menunjukkan bahwa nilai transaksi e-commerce Indonesia mencapai sekitar Rp533 triliun pada 2023, meningkat dari sekitar Rp476 triliun pada 2022. Besarnya nilai transaksi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas belanja online telah menjadi bagian penting dalam perekonomian masyarakat.

BACA JUGA :  Tantangan Manajemen Kompensasi dalam Menyesuaikan Ekspektasi Karyawan Gen Z di Era Digital

Kemudahan berbelanja secara online juga membuat konsumen semakin mudah melakukan pembelian impulsif. Hanya dengan menggunakan smartphone, konsumen dapat memilih barang, membayar, dan menunggu barang dikirim tanpa perlu pergi ke toko.

Apakah Digital Marketing Selalu Berdampak Buruk?

Walaupun dapat memengaruhi konsumen, menurut saya digital marketing tidak selalu memberikan dampak negatif. Digital marketing justru dapat membantu konsumen memperoleh informasi yang lebih lengkap sebelum membeli produk.

Contohnya, seseorang yang ingin membeli laptop untuk kuliah dapat mencari berbagai merek melalui internet, membandingkan spesifikasi dan harga, membaca review, serta menonton video penggunaan produk. Dalam kondisi tersebut, digital marketing membantu konsumen membuat keputusan yang lebih tepat.

BPS dalam Statistik E-Commerce 2024 juga menunjukkan bahwa jumlah usaha e-commerce di Indonesia mengalami pertumbuhan. Jumlah usaha e-commerce pada 2024 tercatat meningkat 15,30% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin banyak pelaku usaha yang memanfaatkan teknologi digital untuk menjangkau konsumen.

Artinya, digital marketing bukan hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga dapat memberikan manfaat kepada konsumen selama informasi yang diberikan benar dan konsumen mampu menggunakannya secara bijak.

Konsumen Harus Lebih Kritis

Masalah sebenarnya bukan terletak pada digital marketing, tetapi pada bagaimana konsumen menyikapinya. Di tengah banyaknya iklan dan promosi, konsumen perlu memiliki kemampuan untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Sebelum membeli suatu produk, kita dapat bertanya kepada diri sendiri: “Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini?”, “Apakah saya sudah merencanakan pembelian ini?”, dan “Apakah saya tetap ingin membelinya jika tidak ada diskon atau influencer yang mempromosikannya?”

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu mengurangi pembelian impulsif. Konsumen juga perlu membandingkan harga, membaca ulasan, memeriksa kualitas produk, dan mempertimbangkan kondisi keuangan sebelum melakukan transaksi. Jangan sampai promosi yang seharusnya memberikan keuntungan justru membuat kita mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan.

Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa kita membeli bukan hanya karena kebutuhan, tetapi juga karena adanya pengaruh dari digital marketing. Tingginya penggunaan internet dan media sosial di Indonesia membuat konsumen semakin sering terpapar berbagai bentuk pemasaran digital.

BACA JUGA :  Edukasi Penggunaan Smartphone pada Anak dan Peran IPTEK dalam Pengembangan Pendidikan

Data BPS menunjukkan bahwa 72,78% penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, sedangkan DataReportal mencatat sekitar 212 juta pengguna internet dan 143 juta identitas pengguna media sosial pada awal 2025. Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa ruang digital memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku konsumen.

Digital marketing dapat membantu konsumen menemukan produk yang dibutuhkan, tetapi juga dapat menciptakan keinginan baru melalui iklan, influencer, tren, diskon, dan FOMO. Oleh karena itu, konsumen harus lebih kritis sebelum mengambil keputusan.

Sebelum menekan tombol “Beli Sekarang” mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: ”Saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau saya hanya sedang dibuat merasa membutuhkannya?”

Kesimpulan

Pada akhirnya, keputusan membeli suatu produk tidak selalu muncul karena kebutuhan. Di era digital, kehadiran digital marketing melalui media sosial, influencer, diskon, tren, dan berbagai bentuk promosi dapat memengaruhi cara konsumen menentukan pilihan. Sesuatu yang awalnya tidak dibutuhkan bisa berubah menjadi keinginan setelah konsumen melihat dan menerima berbagai pesan pemasaran.

Namun, digital marketing tidak selalu memberikan dampak buruk. Digital marketing juga dapat membantu konsumen mendapatkan informasi, membandingkan produk, dan menemukan barang yang memang dibutuhkan. Yang terpenting adalah bagaimana konsumen menyikapi berbagai bentuk pemasaran tersebut dengan lebih bijak dan kritis.

Oleh karena itu, sebelum melakukan pembelian, konsumen sebaiknya membedakan antara kebutuhan dan keinginan serta mempertimbangkan apakah produk tersebut memang diperlukan atau hanya menarik karena pengaruh promosi. Dengan begitu, kita tidak hanya menjadi konsumen yang mudah terpengaruh, tetapi juga konsumen yang mampu mengambil keputusan pembelian secara lebih sadar.

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. (2025). Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik E-Commerce 2024. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

DataReportal. (2025). Digital 2025: Indonesia. DataReportal.

Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. (2024). Transaksi e-commerce Indonesia. Jakarta: Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.

 

Penulis:

Dhea Novianti Sofyan

Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang 

Previous Post

Pengembangan dan Pembelajaran Talenta: Kunci Utama Mempertahankan Karyawan Terbaik di Era Digital

Next Post

Dampingi Usaha hingga Edukasi Keamanan Bertransaksi, Mantri BRI Hadir Dekat dengan Masyarakat di Lubuklinggau

Related Posts

Bukan Tidak Pintar, Cuma Takut Bicara: Ketika Pengetahuan Tidak Sejalan dengan Kepercayaan Diri
DUNIA KAMPUS

Public Speaking sebagai Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Prestasi Mahasiswa

Oktober 21, 2026
2.3k
Banyak Views, Sedikit Respons: Apakah Cara Berbicara Menentukan Keberhasilan Public Speaking di Era Digital?
DUNIA KAMPUS

Banyak Views, Sedikit Respons: Apakah Cara Berbicara Menentukan Keberhasilan Public Speaking di Era Digital?

Oktober 21, 2026
2.4k
Kekurangan atau Kelebihan Karyawan? Pentingnya Perencanaan SDM yang Tepat
DUNIA KAMPUS

Kekurangan atau Kelebihan Karyawan? Pentingnya Perencanaan SDM yang Tepat

Oktober 21, 2026
2.4k
Public Speaking: Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Kemampuan Berkomunikasi
DUNIA KAMPUS

Public Speaking: Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Kemampuan Berkomunikasi

Oktober 21, 2026
2.4k
Tinggal Scan, Uang Berkurang: Apakah Kemudahan Pembayaran Digital Membuat Kita Lebih Boros?
DUNIA KAMPUS

Tinggal Scan, Uang Berkurang: Apakah Kemudahan Pembayaran Digital Membuat Kita Lebih Boros?

Oktober 21, 2026
2.4k
Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda
DUNIA KAMPUS

Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda

Oktober 21, 2026
2.1k
Next Post
Dampingi Usaha hingga Edukasi Keamanan Bertransaksi, Mantri BRI Hadir Dekat dengan Masyarakat di Lubuklinggau

Dampingi Usaha hingga Edukasi Keamanan Bertransaksi, Mantri BRI Hadir Dekat dengan Masyarakat di Lubuklinggau

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber

© 2022 TangselXpress.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING

© 2022 TangselXpress.com