TANGSELXPRESS– Di tengah semakin kompleksnya persoalan sosial dan tantangan dakwah di masyarakat, sinergi antara ulama dan pemerintah dinilai semakin penting. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat kehidupan keagamaan, tetapi juga mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial dan mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat.
Semangat itulah yang mengemuka dalam Pengukuhan dan Ta’aruf Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Ciledug Masa Bakti 2026–2031 yang digelar di Aula Masjid Al-Akhyar, Jalan Lembang II RT 04 RW 08, Sudimara Barat, Ciledug, Kota Tangerang, Ahad malam (9/8/2026).
Mengusung tema “Merajut Kesatuan dan Kekuatan dalam Bingkai Kebhinekaan di Kecamatan Ciledug”, kegiatan tersebut menjadi momentum memperkenalkan kepengurusan baru sekaligus memperkuat komitmen MUI dalam menjalankan peran keumatan di tengah masyarakat.
Acara dihadiri Dewan Pertimbangan MUI Kecamatan Ciledug, jajaran pengurus MUI masa bakti 2026–2031, Unsur Muspika Camat, kapolsek, Danramil serta tokoh masyarakat. Kegiatan tersebut juga menjadi momentum membangun sinergi keumatan, ukhuwah, dan penguatan program dakwah di wilayah Ciledug.
Ketua MUI: Pengukuhan Harus Menjadi Awal Pengabdian
Ketua MUI Kecamatan Ciledug KH. Salman Al Faris, M.Ag. dalam sambutannya menekankan bahwa pengukuhan kepengurusan baru bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen pengabdian kepada umat dan masyarakat.
Kepengurusan MUI Kecamatan Ciledug masa bakti 2026–2031 diharapkan mampu menjalankan amanah organisasi secara kolektif dengan mengedepankan ukhuwah, kebersamaan, dan kemaslahatan umat.
Sebagai organisasi yang menjadi wadah para ulama, MUI memiliki tanggung jawab untuk terus memberikan bimbingan keagamaan sekaligus mengambil bagian dalam menjawab persoalan-persoalan kemasyarakatan yang berkembang.
Karena itu, kepengurusan baru diharapkan dapat memperkuat komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai unsur, khususnya pemerintah, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, serta seluruh elemen umat di Kecamatan Ciledug.
Semangat tersebut sejalan dengan tema pengukuhan, yakni merajut kesatuan dan kekuatan dalam bingkai kebhinekaan. MUI diharapkan menjadi rumah bersama bagi berbagai elemen umat untuk membangun kehidupan masyarakat yang religius, rukun, dan harmonis.
“MUI Kecamatan, tetapi Rasanya Tingkat Kota”
Camat Ciledug H. Ayi Nuryadin, S.Kom., MM memberikan apresiasi terhadap susunan kepengurusan MUI Kecamatan Ciledug yang baru. Menurutnya, komposisi pengurus yang lengkap, bertabur bintang menjadi modal penting untuk menjalankan peran MUI secara lebih luas di tengah masyarakat.
“MUI tingkat Kecamatan Ciledug, tetapi rasanya tingkat Kota,” kata Ayi Nuryadin dalam sambutannya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap kapasitas dan kelengkapan unsur yang terdapat dalam kepengurusan MUI Kecamatan Ciledug masa bakti 2026–2031.
Ayi berharap MUI dapat menjadi mitra strategis Pemerintah Kecamatan Ciledug, terutama dalam membangun masyarakat yang religius, harmonis, dan memiliki ketahanan moral.
“Semoga MUI menjadi mitra Pemerintah Kecamatan Ciledug dan dapat bersinergi dalam membangun masyarakat,” ujarnya.

Ulama dan Umara Harus Bersatu
Menurut Ayi, pembangunan masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan pemerintahan. Dimensi moral dan spiritual juga menjadi bagian penting dalam membangun kesejahteraan masyarakat secara utuh.
Karena itu, hubungan antara ulama dan umara perlu terus diperkuat.
“Ulama dan umara bersatu membangun masyarakat, maka kesejahteraan material dan spiritual masyarakat akan lebih cepat tercapai,” tuturnya.
Kolaborasi tersebut, kata dia, dapat menjadi kekuatan penting untuk menciptakan lingkungan masyarakat yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian sosial, serta kehidupan keagamaan yang kuat.
Tantangan Dakwah Semakin Kompleks
Camat Ciledug juga mengingatkan bahwa tantangan MUI ke depan tidak sederhana. Perubahan sosial yang cepat telah melahirkan berbagai persoalan baru di tengah masyarakat.
Menurut dia, keberadaan MUI harus mampu merespons perubahan tersebut dengan pendekatan dakwah yang lebih inovatif dan solutif.
“PR MUI ke depan sangat kompleks. Permasalahan sosial juga beragam. Semoga inovasi dan program MUI ke depan dapat memberikan solusi dalam menghadapi tantangan dakwah tersebut,” katanya.
Pesan tersebut menjadi tantangan sekaligus harapan bagi kepengurusan MUI Kecamatan Ciledug yang baru. MUI diharapkan tidak hanya menjadi rujukan dalam persoalan keagamaan, tetapi juga mampu hadir dalam berbagai persoalan kemasyarakatan.

MUI sebagai Benteng Moral Umat
Sementara itu, anggota Dewan Pertimbangan MUI Kecamatan Ciledug yang diwakili Dr. H. Tabrani, M.Pd., menekankan pentingnya membangun hubungan yang erat antara MUI dengan aparat pemerintah, baik di tingkat kecamatan maupun kelurahan.
Menurutnya, sinergi tersebut penting agar berbagai persoalan masyarakat dapat dihadapi secara bersama-sama.
MUI juga diharapkan mampu menjalankan fungsi sebagai benteng moral umat, terutama di tengah perubahan sosial yang semakin dinamis.
Masyarakat perlu terus diingatkan untuk menjaga kerukunan, memperkuat persaudaraan, dan menghindari berbagai perbuatan yang bertentangan dengan norma agama.
“Benteng moral umat harus terus diperkuat. Masyarakat harus senantiasa menjaga kerukunan dan menghindari perbuatan yang melanggar norma agama,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutan tersebut.
Dr. H. Tabrani, M.Pd., yang juga merupakan Direktur Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa dan Daerah Tertinggal (Dirjen PEID) pada Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), menilai sinergi antara unsur keagamaan dan pemerintahan menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan sosial masyarakat.

Bukan Sekadar Pengukuhan
Pengukuhan pengurus MUI Kecamatan Ciledug masa bakti 2026–2031 pada akhirnya bukan sekadar pergantian atau pengesahan kepengurusan organisasi.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi penanda dimulainya periode baru bagi MUI Ciledug untuk memperkuat peran ulama di tengah masyarakat sekaligus membangun sinergi yang lebih erat dengan pemerintah.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars MUI, pembacaan Surat Keputusan tentang susunan kepengurusan, serta ta’aruf pengurus baru. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum, Dewan Pertimbangan, MUI Kota Tangerang, dan Camat Ciledug.
Melalui kepengurusan baru ini, MUI Kecamatan Ciledug diharapkan mampu menghadirkan program dakwah yang lebih kontekstual, inovatif, dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Sebab, tantangan umat hari ini tidak hanya berada di ruang-ruang ibadah. Ia juga hadir dalam persoalan keluarga, pendidikan, sosial, moral, kerukunan, hingga perubahan perilaku masyarakat akibat perkembangan teknologi dan informasi.
Di titik inilah sinergi ulama dan umara menjadi penting.
Ketika ulama memberikan tuntunan moral dan spiritual, sementara pemerintah menghadirkan kebijakan dan pelayanan publik, keduanya dapat saling melengkapi dalam membangun masyarakat.
Pengukuhan MUI Ciledug masa bakti 2026–2031 pun diharapkan menjadi awal dari kerja bersama tersebut: merajut kesatuan, memperkuat ukhuwah, menjaga moral umat, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat Ciledug.







