TANGERANG SELATAN – Gelombang panas ekstrem diperkirakan menyelimuti sebagian wilayah timur dan tengah Amerika Serikat sepanjang pekan ini, bertepatan dengan berlangsungnya babak gugur Piala Dunia 2026. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap keselamatan pemain, suporter, hingga petugas yang bertugas di stadion.
Fenomena heat dome diprediksi membuat suhu yang dirasakan (heat index) menembus lebih dari 43 derajat Celsius di sejumlah kota penyelenggara, seperti Philadelphia, Boston, dan Kansas City yang menggunakan stadion terbuka.
“Minggu ini akan sangat, sangat panas. Ini akan menjadi gelombang panas yang signifikan, sesuatu yang tidak terjadi setiap tahun,” ujar Asisten Kepala Meteorolog Video AccuWeather, Geoff Cornish, Selasa (30/6/2026).
Isu cuaca panas sebenarnya telah menjadi perhatian jauh sebelum turnamen dimulai. Para ilmuwan menilai perubahan iklim akibat penggunaan bahan bakar fosil memperparah frekuensi dan intensitas gelombang panas di berbagai belahan dunia.
Di Amerika Serikat, cuaca panas ekstrem bahkan menjadi penyebab kematian akibat bencana cuaca tertinggi, melampaui badai, banjir, maupun tornado, menurut data National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).
Suhu Terasa Capai 43 Derajat Celsius
Badan Cuaca Nasional Amerika Serikat atau National Weather Service telah mengeluarkan peringatan gelombang panas ekstrem untuk Philadelphia dan wilayah sekitarnya mulai Rabu hingga Sabtu. Suhu yang dirasakan diperkirakan mencapai 43,3 derajat Celsius.
Sebagai langkah antisipasi, FIFA menyesuaikan jam operasional Fan Festival di Philadelphia, termasuk mempercepat penutupan acara nonton bersama pada Sabtu setelah pertandingan pukul 13.00 waktu setempat berakhir.
“Cuacanya akan sangat menyengat dan berbahaya bagi siapa saja yang berada di luar ruangan dalam waktu lama tanpa persiapan,” kata Cornish.
Peringatan serupa juga berlaku di Kansas City, Missouri, dengan suhu terasa diperkirakan berkisar antara 40,6 hingga 43,3 derajat Celsius. Sementara kawasan New York diprediksi mengalami suhu mendekati rekor tertinggi dengan heat index sekitar 42,8 derajat Celsius. Boston bahkan diperkirakan mencatat suhu terasa hingga 43,9 derajat Celsius.
National Weather Service mengingatkan bahwa panas ekstrem dapat membahayakan keselamatan masyarakat, terutama mereka yang tidak memiliki akses terhadap pendingin ruangan dan asupan cairan yang memadai. Kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu sistem transportasi, kelistrikan, serta pasokan air.
Risiko bagi Pemain dan Suporter
Meski FIFA telah menerapkan jeda pendinginan selama tiga menit di pertengahan setiap babak dan menyiagakan tim medis di setiap pertandingan, para pemain tetap menghadapi risiko gangguan kesehatan akibat suhu tinggi.
Kondisi yang dikenal sebagai exertional heat illness dapat terjadi ketika suhu tubuh meningkat drastis akibat aktivitas fisik berat di bawah cuaca panas. Gejalanya meliputi kelelahan ekstrem, sakit kepala, mual, pusing, kram, dehidrasi, hingga penurunan performa.
Dalam kasus yang lebih serius, atlet dapat mengalami exertional heat stroke, kondisi darurat medis yang menjadi salah satu penyebab utama kematian pada atlet.
Selain aspek kesehatan, cuaca panas juga memengaruhi jalannya pertandingan. Pemain cenderung mengurangi intensitas lari, memperpendek jarak tempuh, dan lebih berhati-hati dalam mengambil risiko selama laga berlangsung.
Survei World Athletics pada 2023 menunjukkan sebanyak 75 persen atlet mengaku perubahan iklim telah berdampak negatif terhadap kesehatan dan performa mereka.
Namun, risiko terbesar diperkirakan justru dialami suporter, relawan, dan petugas yang menghabiskan waktu berjam-jam di area luar stadion, seperti zona penggemar, tempat parkir, maupun jalur transportasi. Konsumsi alkohol di tengah cuaca panas juga dinilai meningkatkan risiko dehidrasi.
Sejumlah kota penyelenggara telah menambah area berteduh, titik pendinginan, akses air minum, serta menyiagakan tenaga medis di sekitar stadion dan FIFA Fan Festival untuk mengantisipasi kasus terkait cuaca ekstrem.
Cara Menghindari Dampak Gelombang Panas
Para pakar menyarankan masyarakat memperbanyak konsumsi air putih, menghindari paparan sinar matahari langsung, serta mencari tempat yang teduh atau berpendingin udara.
Bagi mereka yang harus beraktivitas di luar ruangan, disarankan mengenakan pakaian longgar berwarna terang, mengurangi aktivitas berat saat suhu mencapai puncaknya, serta memanfaatkan kipas pendingin atau handuk dingin. Minuman dingin maupun es serut juga dapat membantu menurunkan suhu tubuh.
Profesor Klinis Kinesiologi dan Ilmu Olahraga Universitas Miami, Maggie Aldousany, mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu hingga merasa haus untuk mulai minum.
“Sangat penting untuk menyadari kita tidak boleh menunggu sampai haus. Jika akan menonton pertandingan secara langsung atau merayakannya di luar ruangan, pastikan kebutuhan cairan sudah dipenuhi sejak beberapa hari sebelumnya,” ujarnya.
Sementara itu, Cornish menambahkan bahwa seseorang yang mulai merasa pusing atau tubuhnya terasa panas tetapi tidak lagi berkeringat harus segera menghentikan aktivitas, mencari tempat yang lebih sejuk, dan memperbanyak minum air. Jika gejalanya semakin berat, penanganan medis harus segera dilakukan.







