PENGELOLAAN keuangan yang transparan dan akuntabel merupakan salah satu aspek penting dalam mendukung keberlangsungan sebuah organisasi, termasuk organisasi remaja masjid. Sebagai wadah pembinaan generasi muda sekaligus pelaksana berbagai kegiatan keagamaan dan sosial, remaja masjid dituntut mampu mengelola dana organisasi secara baik serta menyusun Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) yang dapat dipahami dan dipercaya oleh seluruh anggota maupun masyarakat.
Namun, masih banyak organisasi yang melakukan pencatatan keuangan secara manual sehingga proses penyusunan laporan menjadi kurang efektif, memakan waktu, dan rentan terhadap kesalahan pencatatan.
Berangkat dari kondisi tersebut, kelompok kami menyelenggarakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang berjudul “Transformasi Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Keuangan Remaja Masjid Melalui Sistem Pencatatan Digital yang Akuntabel.”. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan pengurus remaja masjid dalam menyusun laporan keuangan berbasis digital sehingga proses pencatatan menjadi lebih sistematis, transparan, dan mudah dipertanggungjawabkan.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi oleh Fauzi mengenai pentingnya pengelolaan keuangan yang akuntabel dalam organisasi. Dalam pemaparannya, Fauzi menjelaskan bahwa LPJ bukan sekadar dokumen administratif, melainkan bentuk pertanggungjawaban pengurus kepada anggota, donatur, dan masyarakat yang telah memberikan dukungan terhadap berbagai program organisasi. Transparansi dalam penyusunan laporan keuangan menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kepercayaan dan menjaga keberlanjutan kegiatan organisasi.
“Ketika laporan keuangan disusun dengan baik, masyarakat akan lebih percaya terhadap organisasi. Sebaliknya, jika pencatatan tidak rapi, akan sulit menunjukkan bagaimana dana telah digunakan,” jelas Fauzi di hadapan peserta.
Selain menjelaskan fungsi LPJ, Fauzi juga memaparkan berbagai kendala yang sering dihadapi organisasi dalam mengelola keuangan secara manual. Seperti kesalahan perhitungan, kehilangan data transaksi, serta kesulitan dalam menyusun laporan pada akhir kegiatan merupakan beberapa permasalahan yang kerap ditemui. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi digital dinilai menjadi solusi yang relevan untuk membantu pengurus remaja masjid dalam mengelola keuangan secara lebih efektif dan efisien.
Salah satu peserta kemudian mengajukan pertanyaan mengenai manfaat penggunaan sistem digital dibandingkan pencatatan konvensional.
“Kalau selama ini kami mencatat di buku kas dan tetap bisa membuat laporan, apa keuntungan menggunakan Excel?” tanya seorang peserta.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Fauzi menjelaskan bahwa penggunaan Excel tidak hanya membantu mempercepat proses pencatatan, tetapi juga mengurangi risiko kesalahan perhitungan.
“Excel memungkinkan perhitungan dilakukan secara otomatis. Jika ada perubahan data, hasil perhitungan akan langsung menyesuaikan. Selain itu, data lebih mudah disimpan, dicari kembali, dan digunakan untuk menyusun laporan secara cepat,” jawab Fauzi.
Setelah sesi pemaparan materi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan praktik penggunaan Microsoft Excel yang dipandu oleh Putri. Pada sesi ini peserta diajak untuk langsung mencoba membuat format pencatatan keuangan sederhana yang dapat digunakan dalam penyusunan LPJ organisasi. Putri menjelaskan langkah-langkah dasar pembuatan laporan kas, mulai dari pembuatan kolom tanggal, keterangan transaksi, pemasukan, pengeluaran, hingga saldo.
“Silakan masukkan transaksi pemasukan sebesar Rp500.000 pada kolom pemasukan, kemudian perhatikan bagaimana saldo akan bertambah secara otomatis,” ujar Putri sambil mendampingi peserta.
Peserta terlihat antusias mengikuti sesi praktik. Sebagian besar peserta mencoba secara langsung setiap langkah yang dijelaskan dan berdiskusi ketika menemukan kendala dalam penggunaan rumus-rumus dasar Excel. Melalui pendampingan yang diberikan, peserta mulai memahami bagaimana teknologi dapat membantu proses pencatatan keuangan menjadi lebih mudah dan terstruktur.
“Saya baru tahu kalau perhitungan saldo bisa dilakukan secara otomatis seperti ini. Biasanya kami menghitung satu per satu menggunakan kalkulator,” ungkap salah seorang peserta.
Putri juga menjelaskan pentingnya penyimpanan dokumen pendukung seperti nota dan kuitansi dalam bentuk digital agar dapat digunakan sebagai bukti transaksi ketika menyusun LPJ.
Dengan sistem pencatatan yang lebih terorganisasi, proses pelaporan menjadi lebih cepat dan data keuangan dapat tersimpan dengan lebih aman.
Untuk memperkuat pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan games edukatif yang dipandu oleh Chelsea dan Sindi. Games dikemas dalam bentuk kuis individu yang berisi pertanyaan seputar pencatatan keuangan, pengelompokan transaksi, dan penyusunan LPJ. Metode ini dipilih agar peserta dapat menguji pemahaman mereka secara langsung dalam suasana yang santai dan menyenangkan.
Chelsea membuka sesi kuis dengan memberikan pertanyaan sederhana mengenai klasifikasi transaksi keuangan organisasi. “Jika organisasi menerima donasi sebesar Rp1.000.000 untuk kegiatan santunan, transaksi tersebut dicatat sebagai apa?” tanyanya.
“Sebagai pemasukan donasi,” jawab salah seorang peserta dengan cepat.
“Betul sekali,” jawab Chelsea sambil memberikan apresiasi kepada peserta tersebut.
Tidak lama kemudian, Sindi melanjutkan dengan pertanyaan lain yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi dalam pencatatan keuangan.
“Apa keuntungan utama menggunakan Excel dibandingkan pencatatan manual?” tanya Sindi.
“Perhitungan dapat dilakukan secara otomatis sehingga lebih cepat dan mengurangi kesalahan,” jawab peserta lainnya.
“Jawaban yang tepat. Selain itu, data juga lebih mudah disimpan dan diakses kembali ketika diperlukan,” tambah Sindi.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya peserta yang mengangkat tangan untuk menjawab setiap pertanyaan yang diberikan. Melalui kuis tersebut, peserta tidak hanya mengingat kembali materi yang telah dipelajari tetapi juga semakin memahami pentingnya ketelitian dan konsistensi dalam pengelolaan keuangan organisasi.
Secara keseluruhan, kegiatan PKM ini berlangsung dengan lancar dan mendapatkan respons positif dari para peserta. Kombinasi antara penyampaian materi, praktik langsung menggunakan Microsoft Excel, dan games edukatif mampu menciptakan proses pembelajaran yang interaktif dan mudah dipahami. Peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan sekaligus keterampilan dasar yang dapat diterapkan dalam penyusunan LPJ berbasis digital.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi remaja masjid untuk mulai menerapkan sistem pencatatan keuangan digital secara berkelanjutan. Dengan laporan keuangan yang lebih akuntabel, transparan, dan terdokumentasi dengan baik, organisasi dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus memperkuat tata kelola yang profesional dalam mendukung berbagai program kemasjidan di masa mendatang.
Penulis:
Achmad Fauzi Gunawan
Mahasiswa Jurusan S1 Akuntansi Semester 2 Universitas Pamulang







