UJUNG KULON – Perjalanan menuju Pulau Peucang bukanlah perjalanan singkat. Dari Dermaga Legon Guru, wisatawan harus menempuh berjam-jam perjalanan laut membelah perairan Taman Nasional Ujung Kulon, melewati gugusan pulau tropis dan hutan hijau yang seolah tak berujung.
Namun begitu menjejakkan kaki di Pulau Peucang, hampir semua wisatawan memiliki respons serupa: takjub.
Pasir putih bersih, laut berwarna biru kehijauan, serta satwa liar yang berkeliaran bebas membuat pulau kecil di ujung barat Pulau Jawa ini layak disebut sebagai salah satu surga tersembunyi Indonesia.
Ayu, wisatawan asal Kota Serang, mengaku pertama kali mengenal Pulau Peucang dari media sosial. Foto dan video yang beredar di Instagram dan TikTok membuatnya penasaran hingga akhirnya memutuskan berlibur selama tiga hari dua malam di kawasan Ujung Kulon.
“Awalnya lihat di Instagram dan TikTok. Makin lama makin tertarik. Pas datang ternyata lebih bagus lagi. Seru banget, bisa snorkeling, ke Savana Cidaon, lihat Pohon Kiara, foto-foto, nambah teman juga. Pasti bakal balik lagi ke sini,” ujarnya.
Bagi Ayu, keindahan bawah laut Pulau Peucang menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
“Warga Sedulur Banten wajib coba ke Pulau Peucang. Dijamin ketagihan,” tuturnya.

Pengalaman serupa dirasakan Ade, wisatawan asal Bekasi. Ia mengaku keindahan alam Pulau Peucang ternyata benar-benar sesuai dengan yang selama ini dilihatnya di media sosial.
“Ternyata sebagus yang ada di media sosial. Airnya jernih, alamnya masih asri, dan kalau beruntung bisa melihat satwa liar yang langka. Apa yang saya lihat di sosmed sama persis dengan kondisi aslinya,” katanya.
Sementara itu, Dinda yang juga berasal dari Bekasi mengaku rasa lelah selama perjalanan langsung terbayarkan saat melihat panorama Pulau Peucang.
“Ini pertama kali ke sini. Seru, gokil, keren banget. Jauhnya perjalanan langsung terbayarkan pas lihat pemandangannya,” ujarnya.
Bagi Mikdad, warga Kota Serang, Ujung Kulon merupakan destinasi yang wajib dikunjungi masyarakat Banten setidaknya sekali seumur hidup.
“Ini luar biasa. Pantainya bagus, bersih, asri, satwa liarnya juga ada. Banyak wisatawan dari dalam dan luar negeri datang ke sini. Belum afdal disebut orang Banten kalau belum pernah ke Ujung Kulon,” ucapnya.
Beragam Aktivitas dalam Satu Destinasi

Pulau Peucang menawarkan lebih dari sekadar pantai indah. Beragam aktivitas alam dapat dinikmati wisatawan, mulai dari snorkeling menikmati terumbu karang alami, freedive dan diving di kawasan Citerjun, hingga trekking menyusuri hutan tropis.
Wisatawan juga dapat mengunjungi Savana Cidaon untuk melihat banteng Jawa, merak, dan berbagai satwa liar lainnya di habitat asli mereka. Tak kalah menarik adalah Pohon Kiara, ikon legendaris Ujung Kulon yang diyakini menjadi saksi bisu letusan dahsyat Krakatau pada 1883.
Tak jauh dari sana berdiri Karang Copong, formasi batuan alami menyerupai jembatan raksasa yang menjadi salah satu spot favorit menikmati matahari terbenam.
Selain itu, wisata budaya dan religi juga bisa dilakukan dengan mengunjungi Gunung Raksa serta kawasan Sangiang Sirah yang sarat cerita sejarah masyarakat setempat.
Panaitan, Surga Para Peselancar Dunia
Tak hanya Pulau Peucang, kawasan Ujung Kulon juga memiliki Pulau Panaitan yang terkenal sebagai salah satu spot surfing terbaik dunia.
Polisi Hutan Pulau Panaitan, Rudin Suhendar, mengatakan wisatawan mancanegara dari Australia, Belanda, hingga berbagai negara lain rutin datang untuk menaklukkan ombak di kawasan tersebut.
“Kalau cuaca bagus, terutama Agustus sampai Oktober, ombaknya sangat baik untuk surfing. Banyak wisatawan asing datang ke sini,” ungkapnya saat ditemui di Pulau Panaitan.
Selain surfing, Pulau Panaitan menawarkan pengalaman camping, trekking, menikmati sunset di Legon Bajo, hingga wisata budaya dan religi di Gunung Raksa.
Wisata dan Konservasi Berjalan Beriringan
Di balik keindahan alamnya, Ujung Kulon memegang peran penting sebagai rumah terakhir Badak Jawa di dunia.
Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Ardi Andono, menjelaskan bahwa sejumlah kawasan wisata masih ditutup sementara guna mendukung program konservasi Badak Jawa.
“Pulau Handeuleum dan Kuta Karang masih ditutup sementara karena digunakan untuk kegiatan translokasi Badak Jawa. Untuk wisatawan masih banyak lokasi lain yang dapat dikunjungi,” ujarnya.
Ardi memastikan Pulau Panaitan tetap aman dikunjungi. Namun aktivitas surfing disarankan bagi peselancar berpengalaman karena karakter ombaknya yang menantang.
Ia juga mengakui masih ada sejumlah fasilitas yang terus dibenahi, terutama terkait pasokan listrik dan sarana umum.
“Kendalanya memang listrik karena masih mengandalkan genset. Kami terus berupaya meningkatkan fasilitas dan sarana umum untuk kenyamanan wisatawan,” katanya.
Fasilitas Terus Ditingkatkan
Masukan dari wisatawan turut menjadi perhatian pengelola. Irma, wisatawan asal Kota Serang, mengaku terkesan dengan kebersihan pantai dan keindahan bawah laut Pulau Peucang.
“Pantainya bersih, airnya biru, karangnya masih bagus. Cuma fasilitas umum seperti toilet bisa lebih ditingkatkan,” ujarnya.
Harapan serupa juga disampaikan Ade dan Dinda yang menginginkan tambahan fasilitas toilet dan air bersih seiring meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Eli Susiyanti, menyebut Pulau Peucang merupakan destinasi unggulan yang memiliki potensi luar biasa.
“Ada beberapa hal yang memang perlu diperbaiki seperti MCK dan sarana air bersih. Ke depan dengan sinergi pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan seluruh mitra pariwisata, kita berharap Pulau Peucang bisa berkembang lebih baik tanpa mengurangi kelestarian alamnya,” ungkap Eli.
Menurutnya, banyak wisatawan nusantara maupun mancanegara mengaku puas setelah berkunjung ke kawasan Taman Nasional Ujung Kulon dan ingin kembali datang.
“Semoga mereka pulang membawa kenangan indah dan mengajak keluarga serta kerabat untuk datang ke Ujung Kulon,” katanya.
Lebih dari Sekadar Destinasi
Pulau Peucang bukan hanya tentang pasir putih dan laut biru. Di pulau ini tersimpan hutan tropis yang menjadi rumah bagi ratusan jenis tumbuhan, terumbu karang yang masih sehat, sejarah peninggalan kolonial, hingga habitat satwa langka yang hanya tersisa di Indonesia.
Banyak orang mencari surga wisata hingga ke luar negeri. Padahal di ujung barat Pulau Jawa, Banten memiliki permata alam yang diam-diam telah memikat wisatawan dari berbagai daerah bahkan mancanegara.
Dan seperti kata Ayu sebelum meninggalkan Pulau Peucang:
“Kalau sudah datang sekali, rasanya pengen balik lagi.”







