JAKARTA – Nilai tukar rupiah mencatat penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot, Selasa, 16 Juni. Penguatan mata uang Garuda terjadi di tengah pelemahan dolar AS di pasar global setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda.
Mengacu pada data Bloomberg Asian Pacific Currencies, rupiah berada di posisi Rp17.704 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan apresiasi sebesar 0,03 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Kinerja positif rupiah didukung membaiknya sentimen pasar global setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan. Kondisi ini membuat investor mulai mengurangi kepemilikan aset safe haven, termasuk dolar AS.
Mengutip Reuters, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia bertahan di level 99,66. Posisi tersebut mendekati titik terendah dalam 10 hari terakhir.
Sebelumnya, sejak pecahnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari, indeks dolar sempat menguat sekitar 2 persen karena meningkatnya permintaan investor terhadap aset yang dianggap aman.
Perbaikan sentimen risiko global juga mendorong penguatan sejumlah mata uang di kawasan Asia. Yen Jepang menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik setelah menguat 0,09 persen terhadap dolar AS. Won Korea Selatan naik 0,04 persen, sementara dolar Hong Kong bertambah 0,03 persen.
Di kawasan Asia Tenggara, peso Filipina terapresiasi 0,11 persen. Sementara itu, rupee India mencatat penguatan terbesar dengan kenaikan 0,42 persen terhadap dolar AS.
Meski demikian, tidak semua mata uang Asia bergerak di zona hijau. Dolar Taiwan melemah 0,09 persen, yuan China turun 0,05 persen, ringgit Malaysia terkoreksi 0,19 persen, dan baht Thailand turun tipis 0,03 persen terhadap mata uang AS.
Pelaku pasar saat ini menantikan hasil rapat sejumlah bank sentral utama dunia, khususnya keputusan suku bunga Bank of Japan (BOJ) dan Reserve Bank of Australia (RBA). Kebijakan yang diambil kedua bank sentral tersebut diperkirakan akan memengaruhi arah pergerakan mata uang di kawasan dalam waktu dekat.
Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada langkah kebijakan Federal Reserve AS. Harapan bahwa tekanan inflasi akan mereda seiring turunnya harga minyak dan membaiknya kondisi geopolitik menjadi faktor yang menahan laju penguatan dolar AS.







