TANGERANG – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter membuat banyak pengendara mulai mencari alternatif yang lebih terjangkau. Salah satu dampaknya adalah meningkatnya jumlah pengguna Pertalite, termasuk di kalangan pengemudi ojek online (ojol).
Fenomena tersebut memunculkan kekhawatiran terkait potensi antrean yang lebih panjang di SPBU hingga meningkatnya tekanan terhadap ketersediaan BBM bersubsidi.
Salah satu pengemudi ojol di Tangerang, Jejen Hariyana, mengaku memilih beralih dari Pertamax ke Pertalite untuk mengurangi beban biaya operasional sehari-hari.
“Penghasilan ojol kan enggak seberapa. Kalau tetap pakai Pertamax, pengeluaran buat bensin jadi makin besar. Akhirnya saya dua hari ini beralih ke Pertalite,” kata Jejen di kawasan Citra Raya, Cikupa, Tangerang, Minggu 14 Juni dikutip dari Beritasatu.
Menurut Jejen, penggunaan Pertalite memang membantu menghemat pengeluaran harian. Namun, ia merasakan adanya perbedaan performa kendaraan setelah mengganti jenis bahan bakar yang digunakan.
“Kalau pakai Pertamax motor lebih enteng dan responsif. Kalau Pertalite terasa lebih berat,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa lonjakan pengguna Pertalite mulai terlihat dari antrean kendaraan yang semakin panjang di sejumlah SPBU dalam beberapa hari terakhir.
Hal senada disampaikan Ian Ariyana, pengemudi ojol yang telah menekuni profesinya selama sembilan tahun. Ia mengaku kenaikan harga Pertamax berdampak langsung pada biaya operasional yang harus dikeluarkan setiap hari.
Sebelum harga Pertamax naik, Ian menghabiskan sekitar Rp60.000 per hari untuk mengisi bahan bakar. Namun kini, biaya tersebut hampir mencapai Rp100.000 per hari.
“Wah berat banget. Saya cari nafkah dari (pekerjaan sebagai) ojol. Makanya sekarang pindah ke Pertalite supaya lebih hemat,” ucapnya.
Ian menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi semakin menambah tekanan ekonomi masyarakat, terutama bagi mereka yang mengandalkan kendaraan bermotor sebagai sumber penghasilan utama.
Ia berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi agar harga Pertamax kembali lebih terjangkau sehingga tidak semakin membebani para pekerja sektor transportasi, termasuk pengemudi ojek online yang setiap hari bergantung pada konsumsi bahan bakar untuk mencari nafkah.







