TANGERANG SELATAN – Gaya hidup modern membuat banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam dalam posisi duduk. Aktivitas seperti bekerja di depan komputer, mengemudi, hingga menggunakan ponsel untuk hiburan sering kali membuat tubuh minim bergerak. Padahal, kebiasaan duduk terlalu lama dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kesehatan, baik dalam waktu dekat maupun jangka panjang.
Berikut sejumlah risiko kesehatan yang dapat muncul akibat terlalu lama duduk:
1. Otot Kaki dan Bokong Kehilangan Kekuatan
Tubuh manusia dirancang untuk bergerak secara aktif. Ketika sebagian besar waktu dihabiskan dengan duduk, otot kaki dan bokong menjadi jarang digunakan sehingga kekuatannya perlahan menurun. Kondisi ini dapat memengaruhi keseimbangan tubuh dan meningkatkan kemungkinan cedera saat beraktivitas.
Selain itu, otot yang melemah membuat aktivitas fisik terasa lebih berat. Kegiatan sederhana seperti berjalan kaki dalam jarak jauh atau menaiki tangga pun bisa terasa lebih melelahkan.
2. Memicu Kenaikan Berat Badan
Aktivitas fisik membantu tubuh membakar kalori yang berasal dari makanan. Namun, saat seseorang terlalu lama duduk, proses pembakaran kalori menjadi lebih sedikit sehingga kelebihan energi lebih mudah disimpan sebagai lemak.
Apabila berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan hingga obesitas yang kemudian berpotensi memicu berbagai masalah kesehatan lainnya.
3. Pinggul Menjadi Kaku dan Punggung Nyeri
Terlalu lama berada dalam posisi duduk dapat menyebabkan otot di area pinggul menjadi kaku. Kondisi tersebut sering menimbulkan rasa tidak nyaman, terutama setelah duduk berjam-jam tanpa banyak bergerak.
Di sisi lain, postur duduk yang kurang tepat juga dapat memberi tekanan berlebih pada tulang belakang. Akibatnya, nyeri punggung bawah dan pegal-pegal lebih mudah muncul, terutama jika kursi yang digunakan tidak mendukung posisi tubuh dengan baik.
4. Berdampak pada Kesehatan Mental
Kurangnya aktivitas fisik ternyata tidak hanya memengaruhi kondisi tubuh, tetapi juga kesehatan mental. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup sedentari memiliki kaitan dengan meningkatnya risiko gangguan kecemasan dan depresi.
Aktivitas fisik diketahui membantu produksi zat kimia dalam tubuh yang berperan menjaga suasana hati. Ketika tubuh jarang bergerak, manfaat tersebut menjadi berkurang.
5. Meningkatkan Risiko Beberapa Jenis Kanker
Berbagai studi menemukan adanya hubungan antara kebiasaan duduk terlalu lama dengan peningkatan risiko sejumlah jenis kanker, seperti kanker usus besar, kanker ovarium, dan kanker endometrium.
Para peneliti menduga kondisi ini berkaitan dengan peradangan kronis, gangguan metabolisme, serta perubahan hormon yang terjadi akibat kurangnya aktivitas fisik.
6. Mengganggu Kesehatan Jantung
Duduk dalam waktu lama dapat memperlambat aliran darah sehingga sirkulasi tubuh menjadi kurang optimal. Akibatnya, darah lebih banyak terkumpul di area kaki.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan penyakit jantung, terutama pada individu yang jarang berolahraga.
7. Memperbesar Risiko Diabetes Tipe 2
Kurang bergerak dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam mengatur kadar gula darah. Saat seseorang terlalu lama duduk, sensitivitas terhadap insulin dapat menurun sehingga kontrol gula darah menjadi kurang efektif.
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Pada penderita diabetes, kebiasaan tersebut juga dapat memperburuk pengendalian kadar gula darah.
8. Memicu Munculnya Varises
Kebiasaan duduk terlalu lama dapat menghambat aliran darah dari kaki menuju jantung. Akibatnya, pembuluh vena di kaki dapat membesar dan terlihat jelas di permukaan kulit.
Kondisi yang dikenal sebagai varises ini sering menimbulkan rasa berat, pegal, atau tidak nyaman pada kaki, meski tidak selalu berbahaya.
9. Meningkatkan Risiko Penggumpalan Darah
Salah satu dampak paling serius dari duduk terlalu lama adalah meningkatnya risiko terjadinya penggumpalan darah pada vena kaki atau deep vein thrombosis (DVT). Mengutip Healthline, Senin, 8 Juni, kondisi tersebut dapat terjadi ketika aliran darah melambat akibat tubuh terlalu lama tidak bergerak.
Dalam beberapa kasus, gumpalan darah dapat berpindah ke paru-paru dan menyebabkan komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa. Oleh sebab itu, disarankan untuk rutin berdiri, berjalan, atau melakukan peregangan ringan setiap beberapa waktu guna menjaga sirkulasi darah tetap lancar.







