KANADA – Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menghadapi tantangan keamanan yang jauh lebih kompleks dibanding edisi sebelumnya. Turnamen yang akan diikuti 48 negara dan mempertandingkan 104 laga tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, ancaman penggunaan drone, hingga potensi penyebaran informasi palsu berbasis kecerdasan buatan (AI).
Dikutip dari Beritasatu, Minggu (7/6), berbagai unsur keamanan mulai dari lembaga federal, kepolisian negara bagian dan lokal, hingga pihak swasta telah disiapkan untuk menjaga stadion, area fan zone, rombongan tim peserta, serta para pejabat tinggi yang diperkirakan hadir selama ajang berlangsung.
Direktur Eksekutif Gugus Tugas Piala Dunia Pemerintah AS Andrew Giuliani menilai skala pengamanan turnamen kali ini menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah negara tersebut.
“Dari sudut pandang keamanan, belum pernah ada musim panas seperti ini dalam sejarah AS,” kata Giuliani.
Menurutnya, besarnya operasi keamanan yang dibutuhkan setara dengan penyelenggaraan 78 pertandingan Super Bowl dalam kurun waktu 39 hari.
“Kami sudah siap sebaik mungkin,” ujarnya.
Pemerintah Amerika Serikat memperkirakan sekitar tujuh juta orang akan datang selama perhelatan Piala Dunia 2026. Untuk menunjang pengamanan, pemerintah federal menggelontorkan dana sekitar US$625 juta bagi 11 kota tuan rumah di AS, serta tambahan US$250 juta yang difokuskan pada sistem pemantauan dan penanggulangan ancaman drone.
Drone menjadi salah satu fokus utama aparat keamanan. Kemajuan teknologi yang membuat perangkat tersebut semakin banyak digunakan dalam konflik global memunculkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan selama turnamen berlangsung.
“Jika ada satu ancaman yang membuat saya sulit tidur, itu adalah drone,” kata Komisaris Kepolisian New York Jessica Tisch.
Sebagai langkah antisipasi, berbagai teknologi mutakhir akan diterapkan, termasuk drone pemburu yang mampu menjatuhkan target menggunakan jaring, anjing robot untuk pemeriksaan keamanan, kendaraan pemindai sinar-X, serta ribuan kamera berbasis AI yang ditempatkan di berbagai titik strategis.
Selain ancaman fisik, penyebaran konten palsu atau deepfake yang dibuat menggunakan AI juga menjadi perhatian serius. Otoritas khawatir teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi menyesatkan yang berpotensi memicu kepanikan di tengah jutaan pengunjung.
Agen Khusus FBI di New York Amit Kachhia-Patel mengatakan pihaknya telah menyiapkan mekanisme verifikasi cepat guna memastikan setiap informasi yang beredar dapat segera dikonfirmasi.
“Jika ada video yang menunjukkan ledakan terjadi di suatu lokasi dan ternyata dibuat menggunakan AI, kami memiliki petugas di lapangan yang dapat memastikan apakah kejadian tersebut benar atau tidak,” ujarnya.
FBI sendiri telah menyusun strategi pengamanan sejak dua tahun terakhir dengan mengacu pada pengalaman penanganan berbagai acara besar yang pernah digelar di Amerika Serikat.
“Kami selalu mempersiapkan diri menghadapi skenario terburuk. Itulah pendekatan kami dalam setiap kegiatan besar,” kata Kachhia-Patel.
Meskipun sejumlah potensi ancaman terus dipantau, hingga kini pihak berwenang menegaskan belum menemukan ancaman serius yang secara langsung menargetkan penyelenggaraan Piala Dunia 2026.







