Perkara ini menyedot perhatian publik karena diwarnai sejumlah kejanggalan. Aminah ditemukan meninggal di rumahnya pada pagi hari, Selasa 19 Mei. Pada waktu yang hampir bersamaan, lima ekor ayam peliharaannya juga ditemukan mati mendadak setelah memakan sisa bumbu sate yang tersisa dari malam sebelumnya.
Hingga kini, kepolisian masih menunggu hasil autopsi dan pemeriksaan toksikologi forensik untuk memastikan penyebab pasti kematian korban.
Peristiwa bermula pada malam sebelum Aminah ditemukan meninggal. Saat itu, seorang kurir ojek online mengantarkan pesanan sate ayam ke rumah korban. Menurut keterangan keluarga, pemesan meminta agar identitas pengirim tidak disebutkan kepada penerima.
“Tolong mas, antarkan ke Ibu Aminah, tapi jangan bilang dari saya. Saya anaknya,” ujar Widodo menirukan pesan yang disampaikan pemesan kepada kurir dikutip Jumat, 6 Juni.
Belakangan, penyidik mengetahui bahwa sate tersebut dipesan oleh menantu korban berinisial P. Polisi menduga pemesanan dilakukan menggunakan akun milik orang lain melalui aplikasi ojek online.
Tanpa menaruh curiga, Aminah menerima dan menyantap kiriman makanan tersebut. Namun keesokan harinya, keluarga menemukan korban sudah meninggal dunia di dalam rumah. Aminah ditemukan dalam posisi telentang di kursi dengan lampu rumah yang masih menyala sejak malam sebelumnya.
Keluarga juga mengaku menemukan sejumlah hal yang dianggap tidak biasa, termasuk perubahan warna pada bagian mulut dan telinga korban.
Kecurigaan semakin menguat setelah lima ekor ayam peliharaan korban mati secara mendadak. Ayam-ayam tersebut diketahui memakan sisa bumbu sate yang tidak habis dikonsumsi.
Fakta itu membuat keluarga menduga terdapat hubungan antara kiriman sate dan kematian Aminah. Dugaan semakin berkembang setelah muncul pertanyaan mengenai identitas pengirim makanan tersebut.
Saat menerima pesanan, Aminah sempat menanyakan asal kiriman kepada kurir. Menurut keluarga, kurir menyebut sate tersebut dikirim oleh kerabat korban yang tinggal di Solo.
” Tidak ada keluarga kami yang tinggal di Solo,” kata Widodo.
Keluarga juga menyoroti lokasi pemesanan sate yang dilakukan dari kawasan Pandean. Menurut kuasa hukum keluarga, lokasi tersebut berada tidak jauh dari rumah anak korban, Luriyanti.
Padahal, menantu korban yang diketahui mengirim sate tinggal di Kartasura. Karena itu, keluarga menduga pemilihan lokasi pemesanan dilakukan untuk mengarahkan kecurigaan kepada pihak tertentu.
Menariknya, Luriyanti yang sempat disebut sebagai pengirim justru pernah memperingatkan ibunya agar tidak mengonsumsi sate tersebut. Namun peringatan itu tidak dihiraukan oleh korban.
Perkembangan terbaru muncul saat P menjalani pemeriksaan intensif di Polres Boyolali pada Rabu 3 Juni. Setelah menjalani pemeriksaan selama sekitar delapan jam, P mengakui bahwa dirinya memang mengirimkan sate ke rumah mertuanya.
Meski demikian, pengakuan tersebut belum cukup untuk membuktikan adanya tindak pidana. Polisi menegaskan bahwa kesimpulan baru dapat diambil setelah seluruh hasil pemeriksaan forensik diterima.
“Yang bersangkutan memang mengakui mengirimkan sate tersebut. Namun kami belum bisa menyimpulkan bahwa sate itu menjadi penyebab meninggalnya korban. Semua masih menunggu hasil pemeriksaan forensik,” kata Indra.
Dalam pemeriksaan, P juga membantah telah mencampurkan racun ke dalam makanan yang dikirimnya. Berdasarkan informasi yang berkembang, P mengaku sate tersebut hanya “dijampi-jampi” dan tidak mengandung zat beracun.
Keterangan itu masih terus didalami oleh penyidik dan belum dapat dijadikan dasar kesimpulan hukum.
Untuk mengungkap penyebab kematian secara pasti, polisi melakukan ekshumasi atau pembongkaran makam Aminah pada Sabtu 30 Mei. Proses tersebut melibatkan tim Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Jawa Tengah bersama tim Disaster Victim Identification (DVI).
Selain melakukan autopsi terhadap jenazah korban, penyidik juga membawa bangkai lima ayam yang mati mendadak guna diperiksa di laboratorium forensik.
Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Artanto mengatakan langkah tersebut dilakukan setelah pihak keluarga melaporkan dugaan kematian yang tidak wajar.
Sampai Kamis 4 Juni, penyidik telah meminta keterangan dari sedikitnya delapan saksi, termasuk menantu korban yang mengakui mengirimkan sate tersebut.
“Untuk perkembangan saat ini, sudah ada delapan orang saksi yang kami mintai keterangan. Salah satunya adalah menantu korban yang diduga mengirimkan sate ayam tersebut. Namun statusnya masih sebagai saksi,” ujar Indra.
Hingga saat ini, kepolisian belum dapat memastikan apakah Aminah meninggal akibat keracunan, pembunuhan berencana, atau penyebab lainnya.
“Kami masih menunggu hasil autopsi dan pemeriksaan toksikologi forensik untuk memastikan apakah ada kandungan racun di dalam tubuh korban,” kata Artanto.
Kini, jawaban atas misteri kematian Aminah sepenuhnya bergantung pada hasil pemeriksaan laboratorium forensik. Hasil tersebut nantinya akan menjadi dasar bagi penyidik untuk menentukan ada atau tidaknya unsur pidana serta langkah hukum selanjutnya dalam kasus yang menghebohkan warga Boyolali itu.







