Catatan Harian ASA
Sudah lebih dari seminggu…
hari-hari terasa berbeda.
Tubuh yang biasanya bergerak bebas, kini lebih banyak berbaring dari pada meeting atau aktif bekerja tanpa pamrih.
Bukan karena malas.
Bukan karena menyerah.
Tetapi karena rasa sakit memaksa badan berhenti sejenak.
Kadang manusia baru benar-benar diam…
saat tubuhnya tidak lagi mampu diajak berjalan apalagi berlari.
Hari-hari pun berubah sederhana.
Hanya ibadah inti.
Menulis sedikit.
Menonton YouTube.
Mendengar musik atay lantunan Al-Qur’an.
Lalu kembali memejamkan mata sambil menahan nyeri yang datang saat duduk terlalu lama atau bergerak sedikit salah posisi.
Dan di titik itu…
kita mulai sadar bahwa hidup ternyata tidak selalu tentang produktif.
Tidak selalu tentang sibuk.
Tidak selalu tentang mengejar sesuatu.
Ada masa ketika bertahan saja sudah termasuk perjuangan hidup.
Sakit spasme otot punggung memang aneh.
Secara kasat mata mungkin orang lain tidak melihat luka.
Tetapi yang merasakan tahu…
betapa satu gerakan kecil bisa seperti ditusuk dari dalam, hingga tubuh berteriak dari dalam.
Namun justru di atas tempat tidur itu, kadang jiwa mulai lebih tenang mendengar dan fokus dirinya sendiri.
Mungkin selama ini hidup terlalu bising.
Terlalu banyak target.
Terlalu banyak tekanan.
Terlalu banyak pikiran yang dipendam sendirian.
Lalu Tuhan berkata melalui tubuhNya:
“Berhentilah sebentar.
Kau bukan mesin.”
Dan uniknya…
saat badan melemah, hati justru mulai belajar hal-hal yang dulu sering terlupakan.
Belajar menikmati waktu yang berjalan pelan.
Belajar bersyukur bisa tidur tanpa gelisah.
Belajar bahwa mendengar Al-Qur’an dengan tenang pun ternyata nikmat besar.
Belajar bahwa musik yang lembut bisa menjadi teman saat malam terasa panjang.
Dan akhirnya berkarya jadi jauh lebih dalam.
Kadang sakit bukan datang untuk menghancurkan manusia.
Tetapi untuk mengurangi sedikit kebisingan hidupnya.
Karena ada luka yang tidak bisa disembuhkan dengan keramaian.
Ia hanya bisa pulih dalam diam.
Mungkin ini masa istirahat yang tidak pernah kita izinkan untuk diri sendiri.
Maka tubuh akhirnya mengambil alih keputusan itu.
Dan percaya…
orang yang pernah merasakan sakit hingga hanya bisa berbaring berhari-hari, biasanya setelah sembuh akan lebih menghargai hidupnya.
Lebih menghargai hal dan langkah kecil.
Lebih menghargai duduk tanpa nyeri.
Lebih menghargai kesehatan yang dulu dianggap biasa.
Kadang duduk tanpa rasa sakit saja…
ternyata adalah nikmat yang luar biasa.
Sesuatu yang dulu terasa biasa, kini terasa mewah dan sangat berharga.
Bisa bangun tanpa meringis.
Bisa duduk tenang tanpa mencari posisi.
Bisa berjalan tanpa menahan napas karena nyeri.
Bisa aktif tanpa rasa sakit dan nyeri.
Dan dari situ kita manusia belajar…
bahwa banyak kebahagiaan kecil setiap harinya, sebenarnya sudah Tuhan titipkan setiap hari, hanya saja dulu kita terlalu sehat untuk menyadarinya.
Sebab ternyata…
nikmat terbesar bukan selalu kemewahan.
Kadang hanya bisa duduk nyaman tanpa rasa sakit, adalah sebuah kemewahan yang tak terhingga.
Salam Hangat.
ASA | Asrulsani Abu, S.E., M.M.
Penulis buku, pengurus APINDO dan ALFI Sulselbar







