TANGERANG SELATAN – Trauma setelah kecelakaan tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga dapat meninggalkan tekanan psikologis yang mendalam. Rasa takut, cemas, hingga kecenderungan menghindari situasi tertentu merupakan respons yang kerap muncul setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini bisa memengaruhi aktivitas harian dan kualitas hidup dalam jangka panjang.
Korban kecelakaan kereta api yang mengalami tekanan mental memerlukan proses pemulihan secara bertahap agar bisa kembali menjalani aktivitas tanpa dibayangi kecemasan berlebihan.
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, menjelaskan bahwa rasa takut terhadap kereta atau situasi yang berkaitan dengan kecelakaan merupakan respons yang normal. Namun, menurutnya, kondisi tersebut harus ditangani dengan pendekatan yang tepat.
“Jika seseorang merasa takut dengan kereta, maka bisa dilakukan secara bertahap melalui exposure. Tidak langsung dihadapkan pada situasi yang memicu ketakutan,” ujarnya, dikutip 29 April.
Rose menjelaskan, tahap awal pemulihan bisa dimulai dari paparan sederhana, misalnya melihat gambar kereta tanpa suara. Cara ini bertujuan membantu korban membangun kembali toleransi terhadap hal-hal yang sebelumnya memicu trauma.
Setelah itu, tingkat paparan dapat ditingkatkan secara perlahan, seperti melintasi area stasiun atau mendengarkan suara kereta dari jarak tertentu. Proses tersebut dilakukan hingga korban mampu kembali berada di lingkungan yang berkaitan dengan kereta tanpa mengalami rasa takut berlebihan.
Menurutnya, pendekatan bertahap ini membantu otak menyesuaikan diri kembali dan secara perlahan mengurangi respons kecemasan. Karena itu, korban tidak dianjurkan memaksakan diri menghadapi pemicu trauma secara mendadak karena berpotensi memperburuk kondisi psikologis.
Di sisi lain, Rose juga mengingatkan bahwa menghindari sepenuhnya hal-hal yang berkaitan dengan trauma dalam waktu lama bukan solusi yang tepat, sebab hal itu justru bisa menghambat proses pemulihan.
Kasus kecelakaan kereta api di kawasan Bekasi Timur sebelumnya menyebabkan sejumlah korban tidak hanya mengalami luka fisik, tetapi juga tekanan mental. Dalam situasi tertentu, keterbatasan moda transportasi membuat sebagian korban tetap harus menggunakan kereta, sehingga strategi pemulihan yang realistis dan bertahap menjadi penting.
Di akhir, Rose menegaskan bahwa proses pemulihan trauma membutuhkan waktu, konsistensi, serta dukungan dari lingkungan sekitar agar korban dapat kembali merasa aman dan nyaman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.







