MANADO – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara menimbulkan dampak luas, mulai dari korban jiwa, kerusakan bangunan, hingga ratusan warga yang terpaksa mengungsi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan satu orang meninggal dunia di Kota Manado, Sulawesi Utara. Selain itu, satu warga lainnya mengalami luka ringan di Kabupaten Minahasa.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa guncangan gempa dirasakan di berbagai wilayah di dua provinsi tersebut.
“Dampak gempa di Sulawesi Utara, terdapat satu korban meninggal dunia di Kota Manado dan satu korban luka ringan di Kabupaten Minahasa,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (3/4).
Di Sulawesi Utara, getaran dirasakan di Kota Bitung dan Kabupaten Minahasa. Sementara di Maluku Utara, guncangan terasa hingga Kota Ternate, Kota Tidore Kepulauan, serta sejumlah wilayah di Halmahera.
BNPB mencatat jumlah warga terdampak di Maluku Utara cukup besar. “Di Maluku Utara, tercatat 134 KK terdampak di Kota Ternate, 7 KK di Halmahera Tengah, 5 KK di Halmahera Barat, dan 2 KK di Halmahera Selatan. Selain itu, sebanyak 355 jiwa mengungsi di Kota Tidore Kepulauan,” kata Abdul.
Kerusakan infrastruktur juga terjadi di berbagai titik. Di Sulawesi Utara, dampak terpusat di Kota Manado dan Kabupaten Minahasa.
“Kaji cepat sementara mencatat, di Provinsi Sulawesi Utara terdapat 1 unit hotel, 5 kantor, dan 1 fasilitas umum (Gedung KONI) terdampak di Kota Manado,” jelasnya.
Sementara di Minahasa, tercatat 17 rumah, satu kantor pemerintahan, dua tempat ibadah, serta satu akses jalan mengalami kerusakan.
Di Maluku Utara, kerusakan paling parah terjadi di Kota Ternate dengan puluhan rumah mengalami kerusakan berat hingga ringan, serta sejumlah fasilitas ibadah terdampak. Di Kota Tidore Kepulauan juga dilaporkan puluhan rumah rusak ringan dan beberapa fasilitas umum terdampak.
Dampak gempa turut dirasakan di wilayah Halmahera, dengan kerusakan rumah, fasilitas pendidikan, hingga jembatan. BPBD setempat kini terus melakukan penanganan darurat di lokasi terdampak.
BNPB mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, terutama di tengah kondisi cuaca yang berisiko memicu bencana hidrometeorologi.
“Warga di bantaran sungai diminta rutin memantau tinggi muka air dan memperbarui informasi cuaca dari sumber resmi,” imbau Abdul.
Ia juga menambahkan, “Jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama, masyarakat segera melakukan evakuasi mandiri serta mengetahui jalur evakuasi yang aman.”
Situasi di lapangan masih terus dipantau, sementara upaya penanganan darurat dan evakuasi warga terus dilakukan oleh tim gabungan.







