TANGERANG SELATAN – Siapa sangka, camilan kecil yang selalu hadir saat Lebaran ini ternyata bisa menyumbang kalori setara satu kali makan utama. Nastar yang kerap disantap tanpa perhitungan kini menjadi perhatian setelah pernyataan dari Budi Gunadi Sadikin.
Melalui media sosial pribadinya, Menteri Kesehatan mengungkap bahwa anggapan tiga buah nastar setara dengan satu piring nasi bukanlah sekadar mitos. Ia menjelaskan, kandungan kalori dalam tiga nastar memang bisa menyamai satu porsi nasi putih.
Pria berusia 61 tahun tersebut juga menggambarkan kebiasaan masyarakat saat menikmati kue Lebaran. Umumnya, orang tidak berhenti di satu buah, melainkan terus mengambil hingga tanpa sadar jumlah yang dikonsumsi menjadi cukup banyak.
“Satu biji biasanya tidak cukup, orang cenderung mengambil lagi dan lagi sampai akhirnya berhenti ketika sudah habis,” ujarnya dalam unggahan video di akun Instagram @bgsadikin.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa jika seseorang mengonsumsi sekitar sepuluh nastar, jumlah kalorinya bisa setara dengan satu porsi makan lengkap yang terdiri dari nasi, lauk, dan sayur. Artinya, camilan kecil ini dapat memberikan asupan energi yang besar tanpa disadari.
Ia pun mengingatkan bahwa kondisi tersebut berpotensi memengaruhi berat badan, terutama setelah menjalani puasa selama bulan Ramadan. Penurunan berat badan yang telah dicapai bisa kembali dengan cepat jika pola makan tidak dijaga saat Lebaran.
“Berat badan yang sudah turun selama puasa bisa kembali lagi dengan cepat kalau tidak dikontrol,” jelasnya.
Menariknya, ia juga menyoroti perbedaan efek kenyang antara makanan utama dan kue kering. Sepiring nasi biasanya memberikan rasa kenyang lebih lama, sedangkan nastar—meskipun tinggi kalori—tidak selalu memberikan efek kenyang yang sama. Hal ini bisa membuat seseorang terus ingin menambah konsumsi.
Meski begitu, bukan berarti kue Lebaran harus dihindari sepenuhnya. Masyarakat tetap diperbolehkan menikmatinya, selama tidak berlebihan. Ia menyarankan agar konsumsi kue kering, termasuk nastar, dibatasi sekitar tiga buah per hari.
Pada akhirnya, menjaga pola makan setelah Ramadan menjadi hal yang penting. Upaya selama berpuasa sebaiknya tidak sia-sia hanya karena kebiasaan makan yang tidak terkontrol saat Lebaran. Dengan mengatur porsi dan memperhatikan asupan, masyarakat tetap bisa menikmati momen hari raya tanpa mengorbankan kesehatan.
Nastar memang menggoda, namun konsumsi berlebihan dapat berdampak pada tubuh. Kuncinya adalah menjaga keseimbangan—menikmati secukupnya agar kebersamaan tetap terasa dan kesehatan tetap terjaga.







