JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto memastikan program makan bergizi gratis (MBG) akan tetap berjalan meskipun menuai berbagai kritik. Ia menilai program tersebut memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan.
Menurutnya, MBG tidak hanya ditujukan untuk menekan angka stunting, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pembangunan sumber daya manusia sekaligus mendorong perputaran ekonomi di tingkat bawah.
Mengutip dalam pernyataannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Minggu (22/3/2026), Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk mempertahankan program tersebut. Ia menilai anggaran negara seharusnya dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat, termasuk memastikan kebutuhan gizi terpenuhi, daripada disalahgunakan.
Ia juga menyoroti dampak ekonomi yang dihasilkan dari program ini. Di tahap puncak, pemerintah menargetkan pembangunan sekitar 31 ribu dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dengan asumsi setiap dapur mempekerjakan sekitar 50 orang, program ini berpotensi menyerap hingga 1,5 juta tenaga kerja.
Selain itu, keberadaan dapur-dapur tersebut juga akan menggerakkan rantai pasok pangan melalui para pemasok bahan makanan seperti telur, sayur, dan komoditas lainnya yang turut melibatkan jutaan pekerja tambahan.
Meski demikian, Prabowo Subianto mengakui masih terdapat sejumlah kendala dalam pelaksanaannya. Pemerintah bahkan telah menutup lebih dari seribu dapur SPPG yang dinilai belum memenuhi standar operasional.
Ia menegaskan bahwa pendanaan program MBG tidak berasal dari penambahan utang baru, melainkan dari optimalisasi anggaran negara dan upaya menekan kebocoran keuangan.
Lebih lanjut, Prabowo Subianto menyebut kebijakan ini sebagai langkah untuk memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih merata, terutama oleh masyarakat lapisan bawah yang selama ini belum sepenuhnya menikmati hasil pembangunan.







