TANGERANG SELATAN – Perempuan ternyata membutuhkan waktu lebih panjang untuk pulih dari rasa sakit dibandingkan pria. Selama ini, anggapan tersebut kerap dikaitkan dengan stereotip bahwa perempuan dianggap lebih lemah secara fisik. Namun, penelitian terbaru membantah asumsi tersebut.
Studi mutakhir mengungkap bahwa perbedaan waktu pemulihan rasa sakit antara pria dan perempuan memiliki dasar biologis yang jelas. Sistem kekebalan tubuh keduanya merespons rasa sakit secara berbeda, sehingga pria cenderung lebih cepat pulih.
“Kami menemukan bahwa ketika rasa sakit bertahan lebih lama pada perempuan, hal itu nyata dan memiliki dasar biologis. Ini bukan karena perempuan lebih lembut atau emosional,” ujar Geoffroy Laumet, dikutip dari Women’s Health, Senin, 2 Maret 2026.
Penelitian tersebut menganalisis data dari studi longitudinal AURORA yang melibatkan 245 orang dengan riwayat cedera traumatis, termasuk kecelakaan mobil. Hasilnya menunjukkan bahwa pada hari pertama cedera, tingkat rasa sakit yang dialami pria dan perempuan relatif sama. Namun, dalam periode tiga bulan berikutnya, pemulihan pada pria berlangsung lebih cepat.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi perbedaan ini adalah hormon. Pada perempuan, hormon estrogen dan progesteron berperan dalam memproses rasa sakit sekaligus meningkatkan sensitivitas terhadap nyeri.
“Karena itu, banyak perempuan melaporkan migrain, nyeri panggul, atau nyeri muskuloskeletal yang memburuk pada waktu tertentu dalam siklus bulanan,” jelas Harrison Linder.
Sebaliknya, pria memiliki hormon testosteron sebagai hormon dominan yang diduga memberi efek perlindungan dalam pemrosesan rasa sakit. Selain faktor hormonal, aspek genetika juga turut memengaruhi bagaimana tubuh pria dan perempuan merespons serta mengatasi nyeri.
Tak hanya faktor biologis, aspek sosial dan lingkungan pun berperan. Secara budaya, pria sering kali diharapkan untuk tidak menunjukkan rasa sakit secara terbuka, sehingga kesan pemulihan yang lebih cepat pun terbentuk.
“Ekspektasi budaya sering membuat pria cenderung tidak melaporkan rasa sakit, sementara perempuan lebih terbuka dalam mengungkapkannya,” ungkap Shravani Durbhakula.
Temuan ini menegaskan bahwa perbedaan respons terhadap rasa sakit bukan soal ketahanan mental atau kekuatan fisik, melainkan dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, hormonal, genetik, hingga sosial.







