TANGERANG SELATAN – Banyak orang menjadikan kopi sebagai “penyelamat” saat sahur agar tetap terjaga dan tidak mengantuk sepanjang hari. Namun, kebiasaan ini ternyata tidak selalu membawa dampak baik, terutama jika tidak dibarengi dengan asupan cairan yang cukup dan waktu tidur yang memadai.
Dokter sekaligus ahli gizi masyarakat, Tan Shot Yen, mengingatkan agar kopi tidak dijadikan senjata utama untuk melawan kantuk selama berpuasa. Terlebih bagi mereka yang harus berkendara atau mulai beraktivitas sejak pagi hari.
Menurutnya, kopi memiliki efek diuretik yang dapat memicu frekuensi buang air kecil lebih sering. Kondisi ini berisiko mempercepat berkurangnya cairan tubuh, sementara saat puasa tidak ada asupan minum hingga waktu berbuka tiba.
Ketika tubuh mengalami kekurangan cairan, berbagai keluhan bisa muncul, seperti lemas, sakit kepala, hingga menurunnya konsentrasi. Karena itu, mengandalkan kafein tanpa memperhatikan kebutuhan cairan dan kualitas tidur bukanlah langkah yang tepat.
Ia menjelaskan, rasa kantuk saat berpuasa umumnya bukan disebabkan oleh tidak minum kopi, melainkan karena waktu tidur yang berkurang. Perubahan jadwal makan dan ibadah di malam hari sering membuat durasi istirahat menjadi lebih singkat.
Orang dewasa tetap memerlukan waktu tidur sekitar enam hingga tujuh jam per hari agar fungsi tubuh dan daya fokus tetap optimal. Kebutuhan ini bisa disiasati dengan tidur lebih awal atau memanfaatkan waktu istirahat tambahan setelah sahur.
Selain itu, tidur siang singkat selama 15 hingga 30 menit juga dapat membantu memulihkan energi dan meningkatkan kewaspadaan.
Secara keseluruhan, menjaga pola tidur, membatasi konsumsi kopi saat sahur, serta memastikan kebutuhan cairan tercukupi sejak berbuka hingga sahur merupakan langkah sederhana agar tubuh tetap bugar dan fokus selama menjalani puasa maupun beraktivitas di pagi hari.







