TANGERANG SELATAN – Bagi warga yang hidup di wilayah beriklim tropis, mandi dua kali sehari sudah menjadi bagian dari rutinitas demi menjaga kebersihan dan kesehatan kulit. Setelah seharian beraktivitas, mandi air hangat sering jadi pilihan karena sensasinya yang menenangkan dan mampu mengusir rasa lelah.
Meski terasa nyaman, kebiasaan ini ternyata punya dua sisi. Mandi air hangat memang menawarkan manfaat, tetapi juga menyimpan risiko jika dilakukan terlalu sering atau tidak tepat.
Berbagai sumber kesehatan menyebutkan bahwa mandi dengan air hangat dapat memberikan efek positif bagi tubuh. Salah satunya adalah membantu meningkatkan kualitas tidur. Air bersuhu sekitar 40–42 derajat Celcius yang digunakan sekitar satu hingga satu setengah jam sebelum tidur dapat membantu tubuh menyesuaikan ritme alaminya, sehingga proses terlelap menjadi lebih cepat dan tidur terasa lebih nyenyak.
Tak hanya itu, mandi atau berendam air hangat juga dikaitkan dengan penurunan tekanan darah. Penelitian di bidang kardiologi menunjukkan bahwa paparan air hangat secara rutin mampu membantu merelaksasi pembuluh darah, sehingga tekanan darah berangsur normal dan risiko penyakit jantung pun ikut menurun.
Manfaat lain yang sering dirasakan adalah pernapasan yang lebih lega. Uap dari air hangat dapat membantu mengencerkan lendir di hidung dan tenggorokan, membuat napas terasa lebih ringan. Namun, efek ini perlu diwaspadai oleh penderita penyakit paru-paru kronis karena justru bisa memperparah kondisi tertentu.
Dari sisi kebugaran, mandi air hangat juga dipercaya mampu merilekskan otot. Beberapa studi menyebutkan bahwa merendam bagian tubuh, seperti kaki, dalam air panas sebelum atau setelah berolahraga dapat membantu mengurangi nyeri dan mempercepat pemulihan otot.
Meski manfaatnya cukup banyak, mandi air hangat bukan tanpa dampak negatif. Suhu air yang tinggi dapat menyebabkan pori-pori kulit terbuka lebih lebar. Kondisi ini membuat kotoran, minyak, dan sel kulit mati lebih mudah menumpuk, sehingga risiko jerawat pun meningkat.
Selain itu, para ahli kulit menilai mandi air hangat terlalu sering dapat membuat kulit kehilangan minyak alaminya. Akibatnya, kulit menjadi kering, terasa ketarik, bahkan memicu rasa gatal. Pada penderita eksim atau gangguan kulit tertentu, kondisi ini bisa semakin parah karena air hangat juga dapat merangsang pelepasan zat histamin yang memicu sensasi gatal.
Kesimpulannya, mandi air hangat memang menyenangkan dan bermanfaat, tetapi sebaiknya dilakukan dengan bijak. Mengatur suhu air dan durasi mandi menjadi kunci agar tubuh tetap mendapatkan manfaat tanpa harus menanggung efek sampingnya.







