TANGERANG SELATAN – Mi instan sering menjadi andalan saat waktu terbatas atau tubuh sudah kelelahan. Kepraktisannya memang sulit ditolak. Namun, tingginya kandungan garam dan bumbu instan kerap membuat makanan ini dicap kurang ramah bagi kesehatan. Kabar baiknya, mi instan masih bisa dikonsumsi dengan lebih bijak asal ada penyesuaian dalam pengolahannya.
Salah satu langkah penting adalah memodifikasi penggunaan bumbu dan menambahkan bahan makanan lain agar kandungan gizinya lebih seimbang. Ahli gizi sekaligus anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Diah Maunah, menyebut mi instan kuah masih dapat ditoleransi sebagai menu sesekali, terutama jika dilakukan pengurangan bumbu instan.
“Penggunaan bumbu bubuk sebaiknya dikurangi untuk menekan asupan natrium. Sebagian rasanya bisa diganti dengan bumbu dapur,” ujar Diah, dikutip dari Hello Sehat.
Ia menjelaskan, pengurangan bumbu dapat disesuaikan dengan porsi masakan. Misalnya, saat memasak mi instan untuk lima orang, jumlah bumbu bubuk tidak perlu digunakan sebanyak jumlah mi. Rasa dapat diperkaya dengan tumisan bawang merah, bawang putih, kemiri, atau cabai segar tanpa menambah garam berlebihan.
Tak hanya soal bumbu, penambahan lauk juga berperan besar dalam meningkatkan kualitas gizi mi instan. Diah menyarankan sumber protein hewani seperti telur, ayam suwir, atau ikan agar kebutuhan protein tetap terpenuhi.
Sayuran pun sebaiknya selalu disertakan. Selain menambah serat dan kalium, sayur membantu menyeimbangkan kadar natrium dalam sajian. Pilihan sayur yang mudah dipadukan antara lain sawi hijau atau putih, kangkung, ketimun, hingga tomat.
Sebaliknya, ia mengingatkan agar tidak menambahkan saus atau kecap secara berlebihan karena dapat meningkatkan kadar garam. Pelengkap tinggi natrium seperti keripik asin atau pilus juga sebaiknya dihindari. Untuk menekan asupan natrium, menghabiskan kuah mi instan pun tidak dianjurkan.
Lebih lanjut, Diah menekankan pentingnya membatasi frekuensi konsumsi mi instan. Ia menyarankan agar mi instan tidak dijadikan stok rutin belanja bulanan sehingga tidak berakhir sebagai menu harian. “Mi instan sebaiknya diperlakukan sebagai makanan rekreasi, bukan makanan utama sehari-hari,” katanya.
Hal yang sama berlaku untuk mi instan yang mengklaim lebih sehat, seperti mi panggang atau non-MSG. Menurut Diah, klaim tersebut tetap perlu ditelaah dengan membaca label informasi gizi, terutama kandungan energi, lemak, dan natrium.
Ia menjelaskan, mi panggang memang bisa memiliki energi sekitar 50 persen lebih rendah dengan pengurangan lemak hingga 40 persen berkat teknik pengolahan. Namun, kandungan natriumnya tidak selalu lebih rendah.
“Pada beberapa varian mi panggang, kadar natrium justru bisa sama atau bahkan lebih tinggi, tergantung rasa, dan bisa melebihi 1.500 miligram per sajian,” jelasnya.
Karena itu, Diah kembali menegaskan bahwa mi instan—termasuk yang berlabel lebih sehat—tetap tidak dianjurkan untuk dikonsumsi setiap hari. Kuncinya ada pada pengaturan porsi, frekuensi, serta modifikasi agar dampaknya terhadap kesehatan bisa diminimalkan.







