JAKARTA– Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menegaskan perempuan menjadi kunci kesuksesan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Perempuan dinilai berperan strategis sebagai pengelola utama kebutuhan pangan keluarga sekaligus penentu kualitas gizi anak.
“Terkait penguatan perempuan dan anak dalam program MBG, fokus utama kami adalah meningkatkan pemahaman perempuan sebagai manajer dalam keluarga, khususnya dalam pemenuhan gizi berbasis kearifan lokal,” ujar Menteri PPPA Arifah Fauzi dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Arifah menjelaskan, setiap daerah memiliki potensi pangan yang berbeda. Oleh karena itu, menu MBG perlu disesuaikan dengan bahan pangan lokal dan tidak bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Ia juga menyoroti masih tingginya angka kematian ibu dan bayi serta keterbatasan layanan kesehatan yang berdampak pada perempuan dan anak.
“Karena itu, perhatian terhadap kelompok ini menjadi prioritas nasional sekaligus bagian dari komitmen global,” ujarnya.
Untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga, KemenPPPA mendorong pemanfaatan pekarangan rumah sebagai sumber pangan harian, seperti menanam cabai, sayuran, dan kebutuhan pokok lainnya.
Arifah berharap hasil kebun warga dapat memasok kebutuhan gizi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di tingkat desa sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal. Pemerintah juga berencana memperbanyak SPPG desa agar pemenuhan pangan masyarakat dapat dilakukan secara mandiri tanpa bergantung pada pasokan luar.
Sementara itu, Tenaga Ahli Badan Gizi Nasional (BGN) Florencio Mario Vieira mengatakan BGN tengah merancang ekosistem pangan menyeluruh, mulai dari produksi hingga distribusi, untuk mendukung ketahanan gizi nasional.
Ia menyebut, saat ini hampir 21 ribu SPPG aglomerasi dan 8.670 SPPG terpencil masih dalam proses pengembangan guna memperluas akses layanan gizi hingga ke pelosok.
“Tantangan terbesar adalah rantai pasok, karena kualitas dan kesegaran pangan sangat penting agar tidak menimbulkan risiko kesehatan,” kata Mario.
Selain berdampak pada peningkatan gizi, Mario menegaskan Program MBG juga berkontribusi besar terhadap pemberdayaan ekonomi perempuan. Sekitar 90 persen tenaga kerja SPPG merupakan perempuan, atau lebih dari satu juta orang terlibat dalam ekosistem tersebut.
“Dampaknya sangat terasa, termasuk perubahan peran dalam rumah tangga. Namun, ada tantangan sosial seperti kecemburuan dan resistensi, sehingga perlu edukasi sosial dan penguatan relasi keluarga,” pungkasnya.







