TANGERANG SELATAN – Kesadaran warga RW 10 Kelurahan Cipayung, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan dalam mengelola sampah terus tumbuh secara konsisten sejak hampir satu dekade terakhir. Melalui Bank Sampah Yes Nerada, pengelolaan sampah dari sumbernya tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Ketua RW 10 Cipayung, Mulyadi Widodo, mengatakan Bank Sampah Yes Nerada mulai dirintis sejak 2016 dengan pendekatan bertahap dan berkelanjutan. Sosialisasi dilakukan dari lingkup terkecil melalui forum informal warga, seperti coffee morning dan pertemuan rutin di tingkat RT.
“Kami mendorong warga memilah sampah dari rumah. Setiap dua minggu sekali, bank sampah dibuka dan warga menyetorkan sampah yang sudah terpilah. Saat ini sekitar 60 persen warga sudah menjadi anggota,” ujar Mulyadi saat kegiatan pengumpulan bank sampah, Rabu, 7 Januari 2026.
Menurutnya, tantangan utama bukan pada aspek teknis, melainkan membangun kesadaran dan konsistensi warga. Namun seiring waktu, partisipasi terus meningkat. Volume sampah yang awalnya hanya satu bak kecil per bulan, kini mencapai dua hingga tiga bak besar setiap dua minggu.
Ia menambahkan, keterlibatan warga kini semakin merata. Tidak hanya ibu-ibu, para bapak juga aktif berpartisipasi dalam kegiatan bank sampah. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan perubahan budaya dalam pengelolaan sampah di tingkat lingkungan.
Salah satu inovasi yang diterapkan adalah sistem setoran sampah per rumah tangga. Sampah yang disetorkan sudah diberi identitas masing-masing rumah, sehingga proses penimbangan dan pencatatan dapat dilakukan lebih cepat dan efisien.
Selain itu, Bank Sampah Yes Nerada menerapkan sistem timbal balik berbasis ekonomi. Nilai sampah yang disetorkan tidak hanya dicatat sebagai tabungan uang, tetapi juga dapat dikonversi menjadi tabungan emas melalui kerja sama dengan Pegadaian.
Direktur Bank Sampah Yes Nerada, drg. Meta Yogandiri, menjelaskan bank sampah di RW 10 berdiri sejak 16 Desember 2016 dan kini telah memasuki usia sembilan tahun. Dari yang semula hanya melibatkan satu RT, kini berkembang mencakup seluruh RW dengan sekitar 150 nasabah aktif dari total 347 kepala keluarga.
“Target kami menuju lingkungan zero waste. Edukasi terus dilakukan secara konsisten melalui berbagai kegiatan warga hingga kolaborasi lintas wilayah,” kata Meta.
Ia menyebut, Bank Sampah Yes Nerada kini telah memasuki fase ekonomi sirkular dengan penerapan prinsip 3R—Reduce, Reuse, dan Recycle. Berbagai produk hasil olahan sampah dikembangkan, mulai dari kompos, maggot, sabun dan lilin aromaterapi dari minyak jelantah, hingga tas daur ulang. Seluruh hasil pengelolaan dimanfaatkan sebagai kas swadaya untuk operasional dan kegiatan warga.
Dalam setahun, Bank Sampah Yes Nerada mampu mereduksi sampah lebih dari 16 ton atau sekitar satu ton per bulan. Capaian tersebut mengantarkan bank sampah ini meraih berbagai penghargaan, mulai dari tingkat Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, hingga masuk 10 besar Bank Sampah Terbaik Nasional pada 2023.
Meta menegaskan Bank Sampah Yes Nerada terbuka sebagai pusat pembelajaran bagi masyarakat, sekolah, perguruan tinggi, maupun instansi dari berbagai daerah. Menurutnya, edukasi menjadi kunci agar pengelolaan sampah dapat tumbuh sebagai budaya, bukan sekadar kewajiban.







