TANGERANG SELATAN – Anggota Komisi IX DPR RI Irma Chaniago mengingatkan potensi lonjakan kasus influenza A (H3N2) atau super flu di tengah musim hujan dan cuaca dingin. Menurutnya, penurunan daya tahan tubuh masyarakat berisiko meningkatkan angka penularan penyakit tersebut.
“Super flu H3N2 ini sudah berkembang sejak setahun lalu. Saat musim hujan dan cuaca dingin seperti sekarang, penularannya bisa meningkat apabila daya tahan tubuh tidak dijaga,” kata Irma, Jumat, 2 Januari 2026.
Irma menilai risiko penularan super flu cukup tinggi, terutama di kota-kota besar dengan tingkat polusi udara yang buruk. Kombinasi polusi, mobilitas warga yang tinggi, serta kepadatan penduduk disebut dapat melemahkan sistem pertahanan saluran pernapasan.
Selain faktor cuaca dan lingkungan, peningkatan mobilitas masyarakat selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) juga dinilai memperbesar peluang penyebaran virus. Ia menyebut kedisiplinan masyarakat terhadap protokol kesehatan cenderung menurun saat masa liburan.
“Momentum Nataru seperti sekarang membuat penularan semakin terbuka. Penggunaan masker tetap penting untuk mencegah penyebaran,” ujarnya.
Karena itu, Komisi IX DPR RI meminta Kementerian Kesehatan tidak hanya bersiaga secara administratif, tetapi mengambil langkah nyata untuk mengantisipasi lonjakan kasus, khususnya bagi kelompok rentan.
“Kami meminta Kementerian Kesehatan mewaspadai potensi lonjakan super flu ini, terutama pada lansia dan anak-anak,” tegas Irma.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A (H3N2) di Indonesia yang tersebar di delapan provinsi. Kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas pasien merupakan perempuan dan kelompok usia anak.
Influenza A (H3N2) umumnya menimbulkan gejala dalam waktu tiga hingga empat hari setelah terinfeksi, seperti demam, sakit kepala, mual, dan rasa tidak enak badan.
Kelompok lansia, individu dengan imunitas rendah, serta tingkat kebugaran rendah menjadi kelompok paling berisiko mengalami komplikasi serius, termasuk gangguan pembuluh darah hingga serangan jantung.







