TANGERANG SELATAN – Memasuki usia 45 tahun ke atas, banyak perempuan mulai menghadapi fase kehidupan yang penuh dinamika. Tuntutan pekerjaan, peran dalam keluarga, hingga perubahan tubuh yang terjadi secara alami sering kali berjalan beriringan dan memicu tekanan tersendiri. Di tengah kondisi tersebut, migrain akibat stres menjadi salah satu keluhan kesehatan yang kerap muncul dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan studi dan panduan kesehatan, termasuk dari WebMD, menekankan bahwa pengelolaan stres yang tepat memegang peranan penting dalam meredakan migrain. Lebih dari sekadar mengurangi rasa sakit, langkah ini juga membantu wanita menjaga keseimbangan hidup dan kualitas kesehatan secara keseluruhan di fase usia matang.
Stres diketahui sebagai salah satu pemicu utama yang dapat meningkatkan frekuensi maupun intensitas serangan migrain. Oleh karena itu, langkah awal yang penting adalah mengenali sumber stres dalam rutinitas harian, baik yang berasal dari tekanan pekerjaan, tuntutan sosial, maupun tanggung jawab keluarga. Kesadaran ini menjadi fondasi untuk menentukan strategi pengelolaan stres yang lebih efektif.
Perubahan gaya hidup sederhana dapat memberikan dampak besar. Menata ulang jadwal harian agar tersedia waktu untuk beristirahat dan refleksi diri, misalnya, mampu membantu menurunkan tingkat stres sekaligus mengurangi gejala migrain. Memberi ruang bagi diri sendiri bukanlah bentuk kemewahan, melainkan kebutuhan kesehatan.
Teknik relaksasi juga menjadi sekutu utama dalam menjaga ketenangan pikiran. Latihan pernapasan dalam, meditasi singkat, atau sekadar duduk di tempat yang tenang dengan mata terpejam selama beberapa menit dapat membantu meredakan ketegangan saraf.
WebMD menyarankan untuk mengombinasikan teknik ini dengan perawatan diri sederhana, seperti mandi air hangat atau menggunakan kompres hangat pada leher dan kepala guna melemaskan otot yang tegang saat migrain menyerang.
Selain itu, menjaga gaya hidup sehat secara menyeluruh sangat berpengaruh. Pola tidur yang konsisten membantu sistem saraf memulihkan diri dari tekanan harian.
Aktivitas fisik ringan yang dilakukan secara rutin serta asupan nutrisi seimbang turut berperan dalam menstabilkan suasana hati dan respons tubuh terhadap stres. Tak kalah penting, memastikan tubuh terhidrasi dengan baik karena dehidrasi sering menjadi pemicu tambahan migrain.
Mengelola stres bukan berarti menghindari semua tekanan hidup, melainkan menemukan cara yang lebih sehat dalam menyikapinya. Konseling, berbagi cerita dengan sahabat atau keluarga tepercaya, serta mengatur prioritas hidup secara bijak dapat mengurangi beban mental yang berkontribusi pada migrain.
Pendekatan holistik yang memadukan relaksasi, perbaikan gaya hidup, dan kesadaran terhadap kebutuhan diri sendiri menjadi kunci bagi wanita usia 45 tahun ke atas untuk menjalani hidup dengan lebih tenang, seimbang, dan tetap memegang kendali atas kesehatannya.







