JAKARTA – Kepolisian akhirnya mengungkap kelompok pelaku kerusuhan yang terjadi di Jalan Kemang Raya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Para pelaku diketahui merupakan preman bayaran yang belum menerima upah dari pihak yang memerintahkan melakukan penyerangan.
Kanit Kriminal Umum Satreskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKP Igo Fazar Akbar, menjelaskan bahwa kelompok tersebut diduga berperan sebagai jasa pengamanan yang disewa untuk mengambil alih lahan.
“Mereka ternyata belum dibayar,” ujar Igo saat dikonfirmasi pada Minggu, 4 Mei 2025.
Ia menambahkan, saat ini kepolisian masih melakukan pendalaman terhadap kasus tersebut, termasuk mengidentifikasi pihak ‘bos’ yang menyuruh para pelaku untuk menyerang.
“Kami sedang mengembangkan penyelidikan untuk mengetahui siapa yang menyuruh melakukan penyerangan ini. Masih dalam proses,” ucapnya.
Sementara itu, Kasie Humas Polres Metro Jakarta Selatan, Kompol Murodih, menjelaskan bahwa insiden tersebut bermula saat para pelaku membawa senjata berupa senapan angin jenis PVC dan parang ke lokasi.
Peristiwa bermula ketika dua tersangka, AK alias Andy dan MAG alias Ade, bertemu dengan seorang pria berinisial KT alias A. Ketiganya diduga berupaya mengambil alih lahan yang sedang dalam sengketa.
“Senjata-senjata itu disimpan di bagasi mobil Toyota Agya berwarna kuning dan kemudian dibawa ke lokasi kejadian,” jelas Murodih.
Kerusuhan pecah ketika salah satu pelaku memukul tembok menggunakan palu, yang memicu bentrokan antarkedua kelompok. Aksi tersebut menyebabkan kepadatan kendaraan di sekitar lokasi.
“Keributan berlangsung sekitar 10 menit sebelum massa dari kedua pihak membubarkan diri. Polisi segera bertindak dan mengamankan para pelaku,” ujar Murodih.







