• ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber
tangselxpress.com
Jumat, 23 Oktober, 2026
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
tangselxpress.com
No Result
View All Result
Home NASIONAL

Mendiktisaintek Ungkap 10 Persen Anak Terindikasi Masalah Kesehatan Mental

Redaksi Tangselxpress by Redaksi Tangselxpress
Agustus 11, 2026
in NASIONAL, NEWS
Reading Time: 3min read
Jelang Hari Anak Nasional 2026, Pemerintah Perkuat Tiga Pilar Perlindungan Anak dari Kekerasan
277
SHARES
3k
VIEWS

TANGSELXPRESS- Indonesia menghadapi tantangan serius terkait kesehatan mental generasi muda di tengah ketatnya persaingan global. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarta mengungkapkan, sekitar 10 persen anak Indonesia yang mengikuti skrining terindikasi mengalami masalah kesehatan jiwa.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena gangguan kecemasan dan depresi banyak ditemukan pada kelompok usia muda. Kondisi ini dinilai perlu mendapat perhatian serius menjelang berakhirnya periode bonus demografi Indonesia pada 2046.

Mengutip hasil skrining Program Cek Kesehatan Gratis Kementerian Kesehatan (Kemenkes) periode 2025–2026, Brian mengatakan sekitar 7 juta anak telah mengikuti skrining kesehatan jiwa.

“Dari 7 juta anak Indonesia yang diskrining, ternyata 10% mengindikasikan masalah kesehatan jiwa. Sekitar 4,4% menunjukkan gejala kecemasan, dan 4,8% menunjukkan gejala depresi,” ungkap Brian saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Nasional bertajuk “Pendidikan Tinggi Psikologi untuk Indonesia Maju dan Sehat” di Senayan, Jakarta, Selasa (11/8/2026), seperti dilansir dari Beritasatu.com.

BACA JUGA :  Empat Tren Diet Sehat Diprediksi Populer pada 2026

Ia juga menyebut data 2023 menunjukkan prevalensi depresi tertinggi berada pada kelompok usia 15–24 tahun, yakni mencapai 2 persen.

Namun, dari kelompok yang terindikasi mengalami depresi, baru sekitar 10 persen yang berinisiatif mencari bantuan medis maupun psikologis.

Ancaman Krisis Penuaan Penduduk

Brian mengingatkan persoalan kesehatan mental generasi muda tidak boleh diabaikan karena dapat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia dan kemampuan Indonesia memanfaatkan bonus demografi.

Menurutnya, bonus demografi Indonesia diperkirakan berakhir pada 2046. Setelah periode tersebut, proporsi penduduk usia produktif diproyeksikan menurun sehingga Indonesia harus menghadapi tantangan penuaan penduduk.

“Kita itu akan selesai (bonus demografi) pada 2046. Setelah itu, jumlah penduduk produktif turun. Akibatnya, pajaknya semakin tinggi karena negara-negara maju yang penduduknya awet tua itu harus menanggung biaya hidup yang sehat terus,” tegasnya.

Di tengah tekanan sosial serta paparan konten negatif di ruang digital, Kemendiktisaintek mendorong perguruan tinggi mengubah pendekatan terhadap layanan psikologi agar lebih ramah, ringan, dan mudah diakses mahasiswa.

BACA JUGA :  CKG Banten Capai 70 Persen, Hipertensi Jadi Keluhan Kesehatan Terbanyak di Lebak

Brian mengatakan masih ada mahasiswa yang merasa malu ketika harus datang ke ruang psikolog atau ruang bimbingan dan konseling (BK) karena menganggap dirinya sedang menghadapi masalah.

“Mahasiswa itu kalau sudah datang ke ruang psikolog atau ruang BK, rasanya sudah jadi masalah dan menjadi malu. Ke depan, bagaimana kita bisa membuat fasilitas-fasilitas psikologi yang lebih ringan, santai, dan mudah diakses,” jelasnya.

Brian kemudian menganalogikan ketahanan mental masyarakat dengan kekuatan fisik sebuah material. Menurutnya, kekuatan suatu material baru dapat diketahui setelah mendapat tekanan atau perlakuan tertentu.

“Kekuatan material itu tidak pernah diketahui kalau dia belum disentuh, ditekan, atau di-treatment. Begitu juga bangsa Indonesia, kita berada pada kondisi persaingan global yang keras. Kita butuh konsolidasi dan wawasan psikologi yang kuat agar generasi kita tangguh,” tandas Brian.

BACA JUGA :  Dua Korban Tragedi Kanjuruhan Diautopsi 

Perguruan Tinggi Siap Perkuat Layanan Kesehatan Mental

Menanggapi paparan Mendiktisaintek, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Dicky C. Pelupessy mengatakan perguruan tinggi siap mengambil peran dalam mempersempit kesenjangan akses layanan kesehatan mental di Indonesia.

Dicky mendorong pemerintah memperkuat dan memperjelas regulasi terkait kualifikasi tenaga psikologi di tingkat layanan kesehatan primer, termasuk puskesmas.

Menurutnya, kebutuhan tenaga kesehatan mental di fasilitas pelayanan kesehatan primer dapat dipenuhi lebih cepat apabila kompetensi psikolog lulusan pendidikan profesi dapat dioptimalkan.

“Sebagai penyelenggara pendidikan tinggi psikologi, lulusan pendidikan profesi siap mengisi kebutuhan tenaga kesehatan mental di layanan primer, berdampingan dengan psikolog klinis dan profesional kesehatan mental lainnya,” ujar Dicky.

Ia menilai penataan regulasi yang inklusif dapat memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mental yang aman, bermutu, dan terjangkau.

Menurut Dicky, perluasan akses tersebut penting agar masyarakat dapat memperoleh dukungan dan penanganan kesehatan mental sejak dini.

Tags: 10 persen anak Indonesiabonus demografi 2046cek kesehatan gratisdepresi anakFakultas Psikologi UIgangguan kecemasanKemenkeskesehatan mental anakkesehatan mental generasi mudakesehatan mental Indonesialayanan psikologimasalah kesehatan jiwaMendiktisaintek Brian Yuliartapsikolog puskesmas
Previous Post

KUR untuk UMKM Banten: Bunga 6 Persen, Plafon hingga Rp500 Juta, Ini Syaratnya

Next Post

AI Makin Canggih, Diskominfo Tangsel Perluas Literasi Digital hingga Masjid dan Pesantren

Related Posts

Sering Alami Asam Lambung Naik? Kenali Penyebab dan 5 Cara Mencegah GERD
KESEHATAN

Sering Alami Asam Lambung Naik? Kenali Penyebab dan 5 Cara Mencegah GERD

Oktober 23, 2026
2.4k
Prakiraan Cuaca Tangsel 25 Mei 2026: Mayoritas Wilayah Diguyur Hujan Ringan
TANGERANG SELATAN

Prakiraan Cuaca Tangsel Jumat 23 Oktober 2026, Tujuh Kecamatan Berpotensi Hujan

Oktober 23, 2026
2.4k
Hari Santri 2026, Pilar Saga Dorong Santri Kuasai Teknologi Menuju Indonesia Emas
TANGERANG SELATAN

Hari Santri 2026, Pilar Saga Dorong Santri Kuasai Teknologi Menuju Indonesia Emas

Oktober 22, 2026
2.4k
Beredar Surat Transaksi Eka Hospital Tahun 2022, Patut Diduga Berkaitan dengan Upaya Menggeser Pemegang Saham Minoritas
HUKUM

Beredar Surat Transaksi Eka Hospital Tahun 2022, Patut Diduga Berkaitan dengan Upaya Menggeser Pemegang Saham Minoritas

Oktober 22, 2026
2.4k
Optimistis pada Prospek Pertumbuhan Jangka Panjang, BRI Siapkan Buyback Saham Tahap II Senilai Rp1 Triliun
ADVERTORIAL

Optimistis pada Prospek Pertumbuhan Jangka Panjang, BRI Siapkan Buyback Saham Tahap II Senilai Rp1 Triliun

Oktober 22, 2026
2.4k
Bali Tech Week 2026 Hadirkan 900 Pertemuan Bisnis, Tangsel Soroti Kolaborasi Digital
TANGERANG SELATAN

Bali Tech Week 2026 Hadirkan 900 Pertemuan Bisnis, Tangsel Soroti Kolaborasi Digital

Oktober 22, 2026
2.4k
Next Post
AI Makin Canggih, Diskominfo Tangsel Perluas Literasi Digital hingga Masjid dan Pesantren

AI Makin Canggih, Diskominfo Tangsel Perluas Literasi Digital hingga Masjid dan Pesantren

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber

© 2022 TangselXpress.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING

© 2022 TangselXpress.com