TANGERANG SELATAN – Di tengah derasnya arus informasi digital, otak hampir tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat di malam hari, perhatian terus tersita oleh notifikasi, media sosial, berita, hingga tuntutan pekerjaan. Kondisi ini dapat membuat pikiran terasa sesak dan meningkatkan risiko kecemasan berkepanjangan.
Salah satu konsep yang mulai banyak dibahas untuk mengatasi kondisi tersebut adalah mental autophagy. Mengutip Psychology Today, Robert E. Puff, Ph.D. menggunakan istilah ini sebagai metafora dari proses autophagy pada tubuh. Menurutnya, ketika otak tidak terus-menerus menerima rangsangan baru, pikiran memiliki kesempatan untuk mengolah emosi, melepaskan beban mental, dan meredakan kecemasan.
Berikut beberapa cara menerapkan konsep mental autophagy dalam kehidupan sehari-hari.
1. Jangan langsung mengecek ponsel setelah bangun tidur
Kebiasaan membuka notifikasi atau media sosial sesaat setelah bangun tidur sebaiknya mulai dikurangi. Menurut Puff, satu jam pertama di pagi hari merupakan waktu yang penting untuk menjaga ketenangan pikiran sebelum menerima berbagai informasi. Waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan peregangan, menikmati secangkir teh atau kopi, berdoa, maupun bermeditasi.
2. Beri otak waktu tanpa rangsangan
Sama seperti tubuh membutuhkan waktu untuk mencerna makanan, otak juga memerlukan waktu untuk memproses pengalaman emosional. Jika sepanjang hari terus diisi dengan podcast, musik, video, atau media sosial, pikiran hampir tidak memiliki kesempatan untuk mengolah emosi. Luangkan beberapa menit setiap hari tanpa layar maupun suara sebagai bentuk mental fasting.
3. Nikmati perjalanan dalam suasana hening
Perjalanan menuju kantor atau saat berkendara tidak selalu harus ditemani musik atau podcast. Sesekali, cobalah menikmati perjalanan tanpa distraksi suara agar otak memiliki waktu untuk beristirahat. Meski awalnya terasa tidak biasa, kebiasaan ini dapat membantu mengurangi kelelahan mental.
4. Berjalan kaki tanpa membawa ponsel
Berjalan kaki sekitar 20 menit tanpa melihat layar bisa menjadi cara sederhana untuk memberi jeda bagi otak. Fokuskan perhatian pada lingkungan sekitar, seperti pepohonan, langit, atau suasana jalan. Aktivitas ini dapat membantu pikiran lebih rileks sekaligus mengurangi ketegangan akibat paparan perangkat digital.
5. Kurangi konsumsi informasi yang tidak penting
Tidak semua berita atau unggahan media sosial harus diikuti setiap saat. Terlalu banyak menerima informasi justru dapat membuat pikiran mudah kewalahan dan memicu overthinking. Menentukan waktu khusus untuk membaca berita dapat membantu mengendalikan paparan informasi setiap hari.
6. Belajar menghadapi pikiran sendiri
Puff mengutip pandangan Blaise Pascal yang menyebut banyak persoalan manusia berawal dari ketidakmampuan untuk duduk tenang sendirian. Akibatnya, banyak orang terus mencari distraksi agar tidak berhadapan dengan pikirannya sendiri. Padahal, membiarkan pikiran datang dan pergi secara alami dapat membantu membangun ketahanan emosional.
7. Biasakan menikmati keheningan setiap hari
Anda tidak perlu pergi ke tempat yang jauh untuk merasakan manfaat keheningan. Menyisihkan beberapa menit setiap hari tanpa gawai, televisi, maupun notifikasi sudah menjadi langkah sederhana yang dapat membantu pikiran terasa lebih jernih dan tidak mudah dipenuhi kecemasan.
Perlu dipahami, mental autophagy bukan merupakan terapi medis ataupun metode pengobatan khusus. Konsep ini hanyalah metafora yang mengajak seseorang mengurangi “asupan” informasi agar otak memiliki kesempatan memproses emosi secara lebih alami. Di tengah kehidupan yang serba digital, meluangkan waktu untuk menikmati keheningan dapat menjadi kebiasaan sederhana yang bermanfaat bagi kesehatan mental.







