EMPAT mahasiswa yang tengah menjalankan program Pengabdian Mahasiswa Kepada Masyarakat (PMKM) hadir membawa suasana belajar yang berbeda di PAUD Dahlia. Nurjakiah, Andini Rahmawati, Nafisha Najwa, dan Nayaka Arya turun langsung ke sekolah untuk memperkenalkan konsep simulasi jual beli dan pengelolaan uang saku kepada 40 siswa-siswi usia dini. Kegiatan ini bukan hanya sekadar menyampaikan teori, tetapi anak-anak langsung diajak berperan sebagai “penjual” dan “pembeli” layaknya kehidupan nyata.
Dari pagi hari, suasana di PAUD Dahlia sudah terasa berbeda. Ruang kelas disulap menjadi pasar mini sederhana. Meja-meja kecil ditata berjajar, dilengkapi barang-barang mainan dengan label harga. Anak-anak yang biasanya duduk mendengarkan, kali ini diberi peran masing-masing — ada yang menjadi penjual, ada yang menjadi pembeli, semua menggunakan uang mainan yang sudah disiapkan oleh tim mahasiswa.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program PKM yang dirancang secara matang oleh keempat mahasiswa tersebut. Tujuannya sederhana namun bermakna: menanamkan pemahaman tentang nilai uang dan kebiasaan mengelola uang saku sejak usia dini, melalui cara yang tidak membosankan.
Dalam simulasi jual beli, peserta didik dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok mendapat sejumlah “uang” yang harus digunakan untuk membeli barang-barang tertentu. Para mahasiswa membimbing mereka untuk menentukan — mana yang perlu dibeli lebih dulu, mana yang bisa ditunda, dan bagaimana caranya agar uang tidak habis sebelum semua kebutuhan terpenuhi. Tanpa terasa, mereka sedang belajar tentang skala prioritas.
“Awalnya banyak siswa yang mau beli semua barang sekaligus. Tapi dari situ kami arahkan pelan-pelan, mana yang lebih dibutuhkan,” cerita Nafisha Najwa, salah satu anggota tim PKM.
Tidak berhenti di simulasi jual beli, mahasiswa juga mengenalkan pengelolaan uang saku. Anak-anak diajarkan bahwa uang yang mereka terima dari orang tua bisa dibagi: sebagian untuk jajan, sebagian lagi ditabung. Setiap anak kemudian diberikan sebuah amplop kecil bertanda “tabungan” dan “jajan” sebagai alat bantu visual yang konkret.
Suasana kelas berlangsung interaktif. Anak-anak berebut giliran bermain peran sebagai penjual, ada yang bersemangat menawarkan barang dagangannya, ada yang dengan serius menghitung kembalian. Sesekali tawa meledak ketika ada yang salah menghitung atau lupa menyerahkan uang kembalian. Para guru yang mendampingi pun turut tersenyum menyaksikan antusiasme murid-muridnya.
Menurut Nurjakiah, metode bermain peran dipilih karena anak usia dini lebih mudah mudah memahami sesuatu melalui pengalaman langsung. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan penjelasan verbal semata. “Kalau hanya dijelaskan, mungkin mereka belum paham. Tapi kalau langsung dipraktikkan, mereka jadi ngerasain sendiri bagaimana rasanya punya uang dan harus memilih,” ungkapnya.
Kepala PAUD Dahlia menyambut positif kehadiran tim PKM ini. Menurutnya, kegiatan tersebut sangat dibutuhkan pada pendidikan anak usia dini, di mana pembiasaan dan pengalaman jauh lebih efektif dibandingkan instruksi. Ia berharap program semacam ini bisa hadir lebih sering dan berkelanjutan.
Andini Rahmawati, anggota tim lainnya, menambahkan bahwa persiapan kegiatan ini tidak dilakukan dalam semalam. Tim sudah merancang alur kegiatan, menyiapkan properti, hingga menyesuaikan bahasa dan pendekatan agar cocok untuk anak-anak usia PAUD. “Kami ingin anak-anak pulang dengan membawa pemahaman, bukan sekadar kenang-kenangan. Makanya semua kami pikirkan dari awal,” ujarnya.
Di penghujung kegiatan, Andini Rahmawati memimpin sesi refleksi ringan. Anak-anak ditanya kembali apa yang mereka pelajari hari itu. Jawabannya beragam — ada yang bilang “uang harus ditabung”, ada yang menjawab “kalau belanja harus ada kembaliannya”, bahkan ada satu anak kecil yang dengan polosnya berkata, “Kalau uangnya habis, nggak bisa beli apa-apa lagi.”
Jawaban sederhana itu justru menjadi momen paling berkesan bagi tim mahasiswa. Karena di balik kata-kata polos seorang anak, tersimpan pemahaman yang sesungguhnya menjadi inti dari seluruh kegiatan hari itu.
Kegiatan PKM di PAUD Dahlia ini membuktikan bahwa edukasi keuangan tidak harus menunggu seseorang duduk di bangku sekolah menengah atau kuliah. Dengan metode yang tepat, penuh permainan, dan disesuaikan dengan dunia anak, konsep sebesar “pengelolaan keuangan” pun bisa mendarat dengan lembut di benak anak usia empat hingga enam tahun.
Bagi keempat mahasiswa tersebut, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga yang memberikan pembelajaran langsung tentang pentingnya edukasi keuangan sejak usia dini. Berhadapan langsung dengan anak-anak kecil yang polos dan penuh semangat ternyata mengajarkan banyak hal — tentang kesabaran, kreativitas, dan betapa pentingnya ilmu yang bisa dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat.
“Ini bukan cuma tugas akademik buat kami. Ini pengalaman yang benar-benar ngajarin banyak hal,” kata Nayaka Arya menutup perbincangan.
Penulis:
- Nurjakiah
- Andini Rahmawati
- Nafisha Najwa Rifanny
- Nayaka Arya Chrisdafa
Mahasiswa Program Studi Sarjana Akuntansi Universitas Pamulang







