• ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber
tangselxpress.com
Kamis, 22 Oktober, 2026
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
tangselxpress.com
No Result
View All Result
Home DUNIA KAMPUS

Konsep Perilaku Keuangan: Memahami Psikologi di Balik Keputusan Investasi

Redaksi Tangselxpress by Redaksi Tangselxpress
Juni 2, 2026
in DUNIA KAMPUS
Reading Time: 4min read
Konsep Perilaku Keuangan: Memahami Psikologi di Balik Keputusan Investasi
247
SHARES
2.4k
VIEWS

DALAM dunia investasi modern, keputusan keuangan kerap diasumsikan dilandasi oleh rasionalitas murni. Teori-teori tradisional seperti Capital Asset Pricing Model (CAPM) dan Efficient Market Hypothesis (EMH) membangun fondasi analisis di atas asumsi bahwa investor selalu bertindak logis dalam mengoptimalkan return dan meminimalkan risiko. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Fenomena anomali pasar, euforia kolektif, hingga kepanikan jual massal menjadi bukti nyata bahwa faktor psikologi memainkan peran yang tidak bisa diabaikan dalam pengambilan keputusan keuangan. Inilah yang mendorong lahirnya disiplin ilmu perilaku keuangan atau behavioral finance, sebuah bidang studi yang berupaya menjembatani antara ilmu ekonomi, psikologi, dan sosiologi untuk menjelaskan bagaimana manusia sesungguhnya berperilaku dalam konteks keuangan.

Apa Itu Perilaku Keuangan?

Perilaku keuangan (behavioral finance) adalah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia secara aktual berperilaku dalam pengambilan keputusan keuangan. Secara khusus, bidang ini mengkaji bagaimana faktor psikologis mempengaruhi keputusan investasi para investor, kebijakan keuangan perusahaan, serta dinamika pasar keuangan secara keseluruhan. Menurut Ricciardi (2000), perilaku keuangan adalah studi tentang bagaimana manusia menafsirkan dan bertindak atas informasi untuk membuat keputusan investasi.

Temuannya menunjukkan bahwa investor tidak selalu berperilaku rasional, dapat diprediksi, dan bebas dari bias sebagaimana digambarkan oleh model kuantitatif konvensional. Signifikansi bidang ini mendapat pengakuan internasional ketika Richard Thaler, pelopor teori behavioral finance, berhasil memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi pada tahun 2017 atas kontribusinya dalam mengintegrasikan teori ekonomi dengan faktor-faktor psikologis.

BACA JUGA :  Menghadapi Era Disrupsi dengan Marketing Disruptive Pada Bisnis

Tiga Fondasi Keilmuan Behavioral Finance

Untuk memahami perilaku keuangan secara menyeluruh, diperlukan pemahaman dasar dari tiga disiplin ilmu yang saling melengkapi. 

Pertama, psikologi, yaitu ilmu yang mempelajari proses mental dan perilaku manusia dalam kaitannya dengan kondisi fisik, mental, dan lingkungan eksternal. 

Kedua, sosiologi, yang mengkaji perilaku kelompok masyarakat dan pengaruh hubungan sosial terhadap sikap serta tindakan individu. 

Ketiga, keuangan sebagai disiplin ilmu yang berfokus pada penentuan nilai, pengambilan keputusan, dan pengelolaan sumber daya untuk tujuan yang menguntungkan.

Perpaduan ketiga ilmu ini menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang mengapa seorang investor bisa membuat keputusan yang tampak irasional, mengapa pasar bisa mengalami bubble, serta bagaimana sentimen kolektif dapat menggerakkan harga saham jauh melampaui nilai fundamentalnya.

Empat Perilaku Utama dalam Behavioral Finance

Dalam implementasinya, terdapat empat pola perilaku yang menjadi penguatan dari teori perilaku keuangan. 

Pertama, mental accounting, yaitu kecenderungan seseorang untuk mengalokasikan uang ke dalam kategori-kategori mental tertentu demi tujuan investasi, meski tanpa disadari sepenuhnya. 

Kedua, herd behavior, yakni dorongan untuk mengikuti tindakan kelompok mayoritas karena alasan psikologis ingin merasa serupa, meski hal tersebut belum tentu menguntungkan secara finansial.

Ketiga, anchoring, yaitu perilaku mendasarkan keputusan pembelian pada produk-produk bermerek terkenal meski harganya melampaui kemampuan keuangan. 

BACA JUGA :  Sosialisasi Edukasi Hukum tentang Dampak Kekerasan Seksual

Keempat, high self-rating, yaitu kecenderungan menilai kemampuan diri sendiri jauh lebih tinggi dari kenyataan, yang pada akhirnya dapat menghambat pengambilan keputusan yang objektif.

Bias Psikologis: Kognitif dan Emosi

Dalam konteks behavioral finance, bias psikologis yang mempengaruhi keputusan investor dibedakan menjadi dua kelompok besar. Bias kognitif terjadi ketika proses pengolahan informasi menghasilkan penyimpangan dari keputusan yang seharusnya rasional. Beberapa ragamnya mencakup representativeness bias (mengambil keputusan terlalu cepat berdasarkan pengalaman masa lalu), anchoring & adjustment bias (terpaku pada satu informasi tertentu), availability bias (memilih berdasarkan kemudahan akses informasi), serta confirmation bias (hanya mencari informasi yang mendukung keyakinan yang sudah ada).

Sementara itu, bias emosi lebih bersifat spontan dan didorong oleh perasaan sesaat. Overconfidence bias mendorong investor mengambil keputusan berlebihan karena terlalu percaya diri. Loss aversion bias membuat investor lebih takut rugi daripada senang untung, sehingga cenderung menahan aset yang terus merugi. Adapula greed bias, yaitu keserakahan yang mendorong investor melampaui batas kemampuan investasinya demi mengejar keuntungan lebih besar.

Loss Averse, Bukan Sekadar Risk Averse

Salah satu temuan menarik dari behavioral finance adalah konsep bahwa manusia sesungguhnya bersifat loss averse, bukan sekadar risk averse. Ilustrasi sederhananya dapat dilihat melalui perbandingan antara perilaku di supermarket dan di pasar saham. Ketika harga tisu turun 20% di supermarket, seseorang akan langsung membelinya lebih banyak karena menganggap itu peluang. Namun ketika harga saham turun 20%, respons mayoritas investor justru sebaliknya: menjual saham tersebut karena panik.

BACA JUGA :  Perbedaan dan Persamaan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Melayu

Perbedaan respons ini bukan soal logika, melainkan emosi. Ketakutan akan kerugian yang lebih besar jauh lebih dominan dari pertimbangan rasional bahwa harga murah adalah kesempatan beli. Inilah inti dari loss aversion yang menjadi salah satu konsep terpenting dalam behavioral finance.

Relevansi bagi Investor dan Pelaku Bisnis

Memahami perilaku keuangan bukan berarti menyerahkan seluruh keputusan pada insting semata, melainkan menggunakannya sebagai pelengkap analisis berbasis data. Kasus jatuhnya saham CISCO yang turun hingga 86% antara 1997–2002 akibat dotcom bubble menjadi pelajaran mahal tentang bahaya overconfidence dan kurangnya analisis fundamental yang mendalam.

Dengan mempelajari behavioral finance, investor dapat mengenali bias psikologis diri sendiri, memahami dampaknya terhadap keputusan investasi, dan secara bertahap melatih diri untuk mengambil keputusan yang lebih matang. Teori ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi strategi bisnis yang efektif ketika dipadukan dengan analisis teknikal dan fundamental, pemahaman kondisi makro ekonomi, serta pengelolaan portofolio yang terdiversifikasi. 

 

Penulis:

  1. Amelia
  2. Diah Wulandari
  3. Paula Aulanisa
  4. Rivanti Dian Emelia
  5. Silvia Putri Wahyuni
  6. Saniatul Mahbuba

Mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang

Tags: Konsep Perilaku Keuangan
Previous Post

Hobi Scroll Media Sosial Sampai Larut Malam? Waspadai Sleep Procrastination

Next Post

FIFGROUP Hadirkan FIFestival Street Food 2026 untuk Dorong UMKM Binaan

Related Posts

Public Speaking Kunci Meningkatkan Kepercayaan dan Kemampuan Berkomunikasi
DUNIA KAMPUS

Public Speaking Kunci Meningkatkan Kepercayaan dan Kemampuan Berkomunikasi

Oktober 22, 2026
2.3k
SDM Bukan NPC! Kenapa Orang-Orang di Balik Layar Justru Jadi Kunci Kesuksesan Perusahaan?
DUNIA KAMPUS

SDM Bukan NPC! Kenapa Orang-Orang di Balik Layar Justru Jadi Kunci Kesuksesan Perusahaan?

Oktober 22, 2026
2.5k
Peran Public Speaking dalam Membangun Kepercayaan Diri
DUNIA KAMPUS

Peran Public Speaking dalam Membangun Kepercayaan Diri

Oktober 22, 2026
2.5k
Tips Sukses Menggunakan Marketplace
DUNIA KAMPUS

Strategi Penetapan Harga Produk pada UMKM di Tengah Kenaikan Biaya Marketplace di Indonesia

Oktober 22, 2026
2.4k
Bukan Tidak Pintar, Cuma Takut Bicara: Ketika Pengetahuan Tidak Sejalan dengan Kepercayaan Diri
DUNIA KAMPUS

Public Speaking sebagai Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Prestasi Mahasiswa

Oktober 21, 2026
2.3k
Banyak Views, Sedikit Respons: Apakah Cara Berbicara Menentukan Keberhasilan Public Speaking di Era Digital?
DUNIA KAMPUS

Banyak Views, Sedikit Respons: Apakah Cara Berbicara Menentukan Keberhasilan Public Speaking di Era Digital?

Oktober 21, 2026
2.4k
Next Post
FIFGROUP Hadirkan FIFestival Street Food 2026 untuk Dorong UMKM Binaan

FIFGROUP Hadirkan FIFestival Street Food 2026 untuk Dorong UMKM Binaan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber

© 2022 TangselXpress.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING

© 2022 TangselXpress.com