TANGERANG SELATAN – Pernah merasa tubuh sudah sangat lelah, tetapi tetap sulit melepaskan ponsel atau berhenti menonton video sebelum tidur? Kebiasaan ini ternyata memiliki istilah khusus dalam dunia psikologi, yaitu sleep procrastination atau menunda waktu tidur tanpa alasan yang benar-benar penting.
Fenomena ini sering terjadi ketika seseorang memilih menghabiskan waktu untuk bermain media sosial, menonton film, bermain gim, atau sekadar menikmati waktu sendiri meski sadar bahwa tubuh membutuhkan istirahat. Sekilas terlihat sepele, tetapi kebiasaan tersebut dapat berdampak pada kualitas tidur, kesehatan mental, hingga produktivitas sehari-hari.
Menurut penjelasan yang dimuat Psychology Today, sleep procrastination merupakan perilaku sengaja menunda tidur demi melakukan aktivitas yang dianggap lebih menyenangkan. Banyak orang merasa malam hari adalah satu-satunya waktu yang benar-benar mereka miliki setelah menjalani rutinitas yang padat sepanjang hari.
Fenomena ini juga dikenal dengan istilah revenge bedtime procrastination. Kondisi tersebut menggambarkan upaya seseorang untuk “merebut kembali” waktu pribadinya dengan mengorbankan jam tidur. Orang yang memiliki tekanan pekerjaan tinggi atau jadwal harian yang padat cenderung lebih rentan mengalami kebiasaan ini.
Mengapa Sulit Berhenti Sebelum Tidur?
Salah satu penyebab utama seseorang menunda tidur adalah kebutuhan emosional untuk merasakan kebebasan dan kendali atas waktunya sendiri. Setelah seharian disibukkan oleh pekerjaan, tanggung jawab keluarga, atau aktivitas lainnya, otak mencari bentuk kompensasi berupa hiburan ringan pada malam hari.
Aktivitas sederhana seperti membuka media sosial atau menonton video pendek sering kali terasa seperti hadiah setelah menjalani hari yang melelahkan. Di sisi lain, otak manusia memang cenderung lebih tertarik pada kepuasan instan dibanding manfaat jangka panjang.
Akibatnya, banyak orang terus berkata “sebentar lagi tidur” sambil menikmati hiburan digital hingga tanpa sadar waktu telah menunjukkan tengah malam.
Stres dan Overthinking Turut Berperan
Tidak sedikit orang yang sebenarnya ingin segera beristirahat, tetapi kesulitan memejamkan mata karena pikiran yang terus aktif. Stres, kecemasan, dan overthinking membuat otak tetap bekerja meskipun tubuh sudah kelelahan.
Saat suasana malam menjadi lebih tenang, berbagai pikiran yang tertunda sepanjang hari justru muncul secara bersamaan. Untuk mengalihkan perhatian dari rasa tidak nyaman tersebut, banyak orang akhirnya mencari distraksi melalui media sosial, video, atau hiburan digital lainnya.
Kondisi ini dapat membentuk lingkaran yang sulit diputus. Kurang tidur membuat seseorang lebih mudah stres dan emosional keesokan harinya, yang pada akhirnya memicu kebiasaan begadang kembali pada malam berikutnya.
Pengaruh Gadget terhadap Waktu Tidur
Gadget menjadi salah satu faktor yang paling sering dikaitkan dengan sleep procrastination. Cahaya biru dari layar ponsel dapat menghambat produksi melatonin, hormon yang membantu tubuh merasa mengantuk.
Akibatnya, otak menerima sinyal seolah-olah tubuh masih perlu tetap terjaga. Belum lagi berbagai aplikasi media sosial dan video pendek yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.
Tak jarang seseorang yang awalnya hanya berniat membuka ponsel selama beberapa menit justru menghabiskan waktu berjam-jam untuk terus menggulir layar. Bahkan setelah ponsel dimatikan, otak masih bisa tetap aktif sehingga proses tidur menjadi lebih sulit.
Dampaknya bagi Kesehatan
Menunda tidur secara terus-menerus tidak hanya menyebabkan rasa kantuk pada pagi hari. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat memengaruhi konsentrasi, suasana hati, kemampuan mengendalikan emosi, hingga kesehatan fisik secara keseluruhan.
Orang yang kurang tidur cenderung lebih mudah tersinggung, sulit fokus, dan lebih rentan mengalami stres. Selain itu, tubuh membutuhkan waktu tidur yang cukup untuk memulihkan energi serta menjaga keseimbangan berbagai hormon penting.
Jika kualitas tidur terus menurun, tubuh seperti bekerja dengan cadangan energi yang tidak pernah terisi penuh. Akibatnya, rasa lelah dapat menjadi kondisi yang dianggap normal meski sebenarnya tubuh sedang kekurangan istirahat.
Cara Mengurangi Kebiasaan Menunda Tidur
Mengatasi sleep procrastination tidak cukup hanya dengan memaksa diri tidur lebih awal. Penting untuk memahami alasan emosional yang mendasari kebiasaan tersebut.
Memberikan waktu istirahat atau hiburan singkat di sela aktivitas siang hari dapat membantu mengurangi kebutuhan untuk “membalas” waktu yang hilang pada malam hari. Selain itu, membangun jadwal tidur yang konsisten juga membantu tubuh lebih mudah mengenali waktu istirahat.
Mengurangi penggunaan gadget setidaknya satu jam sebelum tidur, menggantinya dengan membaca buku, mendengarkan musik santai, atau aktivitas relaksasi lainnya dapat membantu meningkatkan kualitas tidur. Lingkungan kamar yang nyaman, tenang, dan minim cahaya juga berperan penting dalam membantu tubuh beristirahat dengan lebih optimal.
Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten biasanya lebih efektif dibandingkan perubahan drastis yang sulit dipertahankan dalam jangka panjang.







