BANYAK orang mengira menulis hanyalah soal hobi, tentang kata-kata indah, atau sekadar mengisi halaman kosong.
Padahal bagi saya, menulis adalah cara hati bertahan hidup. Ada banyak hal yang tidak sempat diucapkan kepada dunia, tidak semua perasaan memiliki tempat untuk pulang, dan tidak semua manusia mampu menjelaskan isi pikirannya dengan suara. Maka tulisanlah yang akhirnya menjadi rumah paling tenang untuk semuanya.
Saya menulis catatan harian ini bukan karena merasa hidup saya paling hebat. Justru karena saya sadar, hidup manusia sangat singkat untuk dilewati tanpa makna. Ada luka, pelajaran, kesedihan, kebahagiaan, kehilangan, dan doa-doa yang diam-diam membentuk diri kita setiap hari. Dan seringkali, semua itu berlalu begitu saja tanpa sempat dikenang.
Ada beberapa alasan sederhana mengapa saya terus menulis catatan harian ini.
1. Mengisi Ruang Waktu yang Lowong
Dalam hidup, ada waktu-waktu sunyi yang tidak semua orang mampu menikmatinya. Sebagian orang memilih hiburan, sebagian memilih keramaian, dan saya memilih menulis. Karena di saat dunia mulai tenang, pikiran justru berbicara lebih dalam. Menulis membuat waktu yang kosong menjadi bermakna, bukan sekadar lewat begitu saja.
2. Menumpahkan Isi Hati dan Pikiran yang Tak Sempat Diucapkan
Tidak semua hal bisa diceritakan kepada manusia. Ada rasa kecewa yang terlalu dalam untuk dijelaskan, ada pikiran yang sulit dipahami orang lain, dan ada air mata yang lebih nyaman disembunyikan. Menulis menjadi tempat paling jujur untuk menumpahkan semuanya tanpa takut dihakimi. Kadang, tulisan memahami kita lebih baik daripada manusia.
3. Menjadi Pedoman dan Kenangan untuk Generasi Masa Depan
Saya percaya, pengalaman hidup adalah ilmu yang mahal. Apa yang saya rasakan hari ini mungkin akan menjadi pelajaran berharga bagi anak cucu di masa depan. Catatan ini bukan sekadar tulisan, tetapi jejak perjalanan hidup seorang manusia biasa yang pernah mencoba memahami kehidupan dengan hati yang sederhana.
4. Sebagai Warisan Bahwa Hidup Itu Bermakna Setiap Hari
Seringkali manusia menunggu hal besar untuk merasa hidupnya berarti. Padahal makna hidup justru tersembunyi dalam hal-hal kecil yang sering dilupakan: senyum ibu, doa di malam hari, kehilangan seseorang, rasa syukur saat masih diberi napas, dan perjuangan sederhana untuk tetap kuat menjalani hari. Saya ingin meninggalkan warisan pemikiran bahwa hidup selalu memiliki makna, bahkan di hari-hari yang terlihat biasa saja.
5. Karena Suatu Hari, Mungkin Tulisan Ini Akan Menemani Seseorang
Saya tidak tahu siapa yang akan membaca tulisan ini di masa depan. Tapi saya percaya, mungkin suatu hari nanti ada seseorang yang sedang lelah menjalani hidup, lalu tanpa sengaja menemukan catatan ini dan merasa tidak sendirian lagi. Jika tulisan sederhana ini mampu menenangkan satu hati saja, maka semua yang saya tulis tidak pernah sia-sia.
Pada akhirnya, catatan harian ini bukan tentang saya semata. Ini tentang kehidupan, tentang manusia, tentang hati yang terus belajar menerima kenyataan, dan tentang waktu yang tidak akan pernah kembali.
Karena terkadang, tulisan yang paling sederhana justru lahir dari rasa yang paling dalam.
ASA | Asrul Sani Abu, S.E., M.M.
Penulis buku, pengurus APINDO Sulsel







