TANGERANG SELATAN – Ressa Rizky mengungkap luka batin yang telah ia pendam selama 23 tahun terkait hubungannya dengan sang ibu, Denada. Kerinduan yang seharusnya terbalas kasih sayang justru berubah menjadi kepedihan mendalam.
Ressa mengaku telah berulang kali mencoba membuka komunikasi. Namun, harapan itu kerap pupus karena sikap Denada yang ia nilai tidak konsisten. Ia sempat menerima pesan WhatsApp berisi ungkapan sayang, tetapi pesan tersebut tidak pernah diikuti dengan tindakan nyata.
“Perasaannya kayak dipermainkan. Di WhatsApp bilangnya seperti itu, tapi enggak ada kejelasan sama sekali,” ujar Ressa saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, belum lama ini.
Meski menyimpan nomor pribadi sang ibu, Ressa menyebut komunikasi tersebut tak pernah berjalan dua arah. Setiap pesan yang ia kirimkan tak kunjung mendapat balasan, membuatnya merasa seperti berbicara dengan tembok.
“Setiap aku WhatsApp, enggak pernah dibalas. Walaupun aku punya akses nomornya, tetap saja enggak ada respons,” tuturnya.
Situasi tersebut berdampak besar pada kondisi mental Ressa. Ia bahkan kerap mengetahui status dirinya sebagai anak dari cerita orang lain, bukan dari Denada secara langsung. Hal ini membuatnya merasa terpuruk, terlebih ketika menjadi bahan perbincangan di kampung halamannya, Banyuwangi.
“Rasanya hancur. Malu diomongin orang, apalagi di Banyuwangi. Mental saya benar-benar jatuh,” ucapnya dengan suara bergetar.
Meski merasa diabaikan selama puluhan tahun, Ressa menegaskan tidak menyimpan dendam. Di balik semua rasa sakit itu, keinginannya sangat sederhana, ia hanya ingin memeluk dan mencium ibu kandungnya.
“Bagaimanapun juga, dia tetap ibu saya. Baik atau buruk, tetap dia yang melahirkan saya,” katanya tegas.
Ressa juga mengungkap bahwa dirinya sempat berusaha menemui Denada dengan mendatangi salah satu stasiun televisi tempat sang ibu bekerja. Namun, usaha tersebut tak membuahkan hasil.
Kini, Ressa hanya bisa memendam perih setiap kali melihat Denada tampil di layar kaca, hidup dalam kemewahan dan terlihat bahagia. Perasaan sesak kerap muncul ketika menyadari dirinya harus berjuang sendiri dalam sunyi.
Saat ditanya bagaimana perasaannya melihat kondisi tersebut, Ressa terdiam sejenak, menarik napas panjang, lalu menjawab singkat, “Iya… begitulah.”







