Oktober 2015 menjadi titik balik penting bagi Liverpool FC. Manajemen klub mengambil keputusan krusial dengan menunjuk Jurgen Klopp—pelatih sukses asal Borussia Dortmund—sebagai manajer utama. Langkah tersebut terbukti tepat dan mengawali kebangkitan The Reds di kancah Inggris maupun Eropa.
Klopp datang membawa filosofi bermain intens berbasis gegenpressing, menuntut kerja keras, kecepatan, dan mental baja dari para pemain. Dengan kepribadiannya yang karismatik serta kemampuan luar biasa dalam memotivasi tim, Klopp perlahan mengubah wajah Liverpool. Ia dengan rendah hati menjuluki dirinya “The Normal One”, namun apa yang ia lakukan di Anfield justru jauh dari kata biasa.
Prestasi Gemilang Bersama Liverpool
Di bawah kepemimpinan Klopp, Liverpool menjelma menjadi salah satu klub terbaik dunia. Puncaknya terjadi pada musim 2018/2019 saat The Reds menjuarai Liga Champions setelah menaklukkan Tottenham Hotspur di final.
Kesuksesan itu berlanjut dengan gelar Piala Super UEFA 2019, usai mengalahkan Chelsea melalui adu penalti di Vodafone Park. Tak lama berselang, Liverpool juga menjuarai Piala Dunia Antarklub 2019, mengalahkan Flamengo 1-0 di partai final.
Setelah penantian panjang selama 30 tahun, Klopp akhirnya mempersembahkan gelar Liga Inggris 2019/2020. Musim bersejarah tersebut juga mengantarkannya meraih penghargaan Pelatih Terbaik Premier League.
Deretan trofi lainnya menyusul, termasuk FA Cup 2021/2022, Community Shield 2022, serta Carabao Cup 2021/2022 dan 2023/2024, menegaskan dominasi Liverpool di berbagai kompetisi.
Pertandingan Ikonik Era Klopp
Era Klopp dipenuhi laga-laga legendaris. Kemenangan 4-1 atas Manchester City pada November 2015 menjadi sinyal awal kebangkitan Liverpool. Disusul kemenangan 3-0 atas City di Liga Champions 2018 yang menunjukkan efektivitas filosofi Klopp di level tertinggi Eropa.
Namun, laga paling ikonik terjadi pada semifinal Liga Champions 2019 saat Liverpool melakukan comeback luar biasa 4-0 atas Barcelona di Anfield. Malam magis tersebut dikenang sebagai salah satu momen terbaik dalam sejarah sepak bola dunia.
Puncak kejayaan ditandai dengan kemenangan 2-0 atas Tottenham di final Liga Champions 2019, memastikan kembalinya Liverpool ke singgasana elite Eropa.
Transfer Cerdas dan Filosofi Tim
Kesuksesan Klopp tak lepas dari kebijakan transfer yang cermat. Ia mendatangkan Sadio Mané (34 juta pound) dan Virgil van Dijk (75 juta pound) dari Southampton—transfer Van Dijk bahkan memecahkan rekor bek termahal dunia saat itu.
Mané menjadi simbol agresivitas dan energi lini depan, sementara Van Dijk mengubah total kualitas pertahanan Liverpool dan menjelma sebagai salah satu bek terbaik dunia. Transfer cerdas lainnya adalah Andy Robertson, yang direkrut dari Hull City hanya dengan 8 juta pound dan berkembang menjadi bek kiri kelas dunia.
Ketiganya mencerminkan filosofi Klopp: menemukan potensi besar, membentuk mental juara, dan membangun tim kolektif yang solid.
Perpisahan dan Warisan Abadi
Pada 2024, Klopp mengumumkan kepergiannya dari Anfield setelah sembilan tahun penuh prestasi, dengan alasan kehabisan energi. Kepergian tersebut meninggalkan kekhawatiran besar, mengingat Klopp bukan sekadar pelatih, melainkan arsitek utama kebangkitan Liverpool dari masa mediokritas.
Ia mewariskan lebih dari sekadar trofi. Filosofi gegenpressing, mentalitas pantang menyerah, serta julukan “mentality monsters” menjadi identitas kuat Liverpool di eranya.
Kini, estafet kepelatihan berlanjut di tangan Arne Slot, yang membangun tim di atas fondasi kokoh peninggalan Klopp. Warisan itu langsung membuahkan hasil dengan keberhasilan Liverpool menjuarai Premier League 2024/2025.
Pertanyaan pun muncul: mampukah Slot mempertahankan kejayaan tersebut? Bagi para pendukung The Reds, harapan besar tentu terus menyertai perjalanan Liverpool ke depan.
Penulis:
Darma Wangsa
Mahasiswa Akuntansi (S1) Universitas Pamulang







