TANGSELXPRESS– Baru-baru ini kejadian mengejutkan terjadi di sebuah perumahan elit di Jakarta Selatan. Seorang remaja 14 tahun tega membunuh ayah kandung dan neneknya. Motif sesungguhnya belum terungkap, tapi kabar dari orang terdekatnya mengatakan si anak hidup dalam penuh tekanan.
Perilaku anak mirip dengan gejala skizofrenia. Seperti apa itu? Mari kita ulas seperti dilansir dari laman Halodoc.
Skizofrenia adalah penyakit mental serius yang memengaruhi pola pikir, perilaku dan perasaan pengidapnya. Mereka mengalami gangguan psikosis sehingga tak dapat menafsirkan realita.
Orang awam menyebutnya dengan ‘gila’. Sebab, pengidap tidak mampu membedakan khayalan dan kenyataan. Mereka juga memiliki kebiasaan di luar manusia normal pada umumnya.
Gejala skizofrenia dibedakan berdasarkan usia pengidap. Pada anak-anak, misalnya, gejalanya berupa terhambatnya perkembangan motorik. Salah satunya keterlambatan berjalan hingga berusia 18 bulan.
Gejala Skizofrenia Tahap Awal
Gejala awal bisa berlangsung selama beberapa bulan hingga tahunan. Masing-masing pengidap memiliki tanda yang berbeda, tergantung pada usia.
1. Gejala Skizofrenia Pada Anak-anak
Pengidap akan mengalami gangguan perkembangan, meliputi:
- Terhambatnya perkembangan motorik. Mereka cenderung tidak bisa berjalan hingga usianya menginjak 18 bulan.
- Terhambatnya kemampuan berkomunikasi. Mereka tidak mampu menggabungkan kata menjadi kalimat hingga usianya menginjak 36 bulan.
- Terhambatnya perkembangan sosial. Mereka tidak mampu menggunakan gerak tubuh dan ekspresi wajah saat berkomunikasi.
2. Pada Masa Remaja
Remaja cenderung mengalami perubahan perilaku yang menjadi gejala awal skizofrenia. Tandanya meliputi:
- Kesulitan berkonsentrasi dan memusatkan perhatian.
- Penurunan fungsional otak terkait dengan pembelajaran.
- Menarik diri, pendiam, tenang, suka menyendiri dan tidak berhati-hati.
- Depresi (rasa sedih berkepanjangan dan kehilangan minat terhadap hobi).
- Agresi (niat menyakiti atau melukai orang lain, baik secara fisik, verbal maupun psikis).
- Muncul pikiran untuk bunuh diri.
- Perilaku aneh dan kerap mencuri untuk kesenangan pribadi.
3. Pada Masa Dewasa Awal
Gejala berkembang di masa ini. Tanda awalnya adalah perubahan perilaku dan penurunan kemampuan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Ciri lainnya termasuk:
- Gugup dan rasa gelisah.
- Depresi.
- Kecemasan.
- Kesulitan dalam berpikir jernih atau berkonsentrasi.
- Khawatir berlebihan.
- Kurang percaya diri.
- Kurangnya energi atau lemas berlebihan.
- Merasa gelisah di sekitar orang lain.
4. Gejala Skizofrenia pada Lansia (Di atas 45 Tahun)
Terdapat pengembangan gejala dari tahap sebelumnya ke arah negatif. Mereka cenderung mengisolasi diri dari lingkup sosial dan kesulitan berkonsentrasi, tapi dalam intensitas lebih berat.
Selebihnya, gejala skizofrenia berupa:
- Mudah merasa depresi dan menarik diri dari kehidupan sosial.
- Tidak menjaga kebersihan diri (tubuhnya tampak dekil dan kotor).
- Berbicara dengan tatapan kosong dan tanpa ekspresi.
- Sering berhalusinasi dan tidak bisa membedakan kenyataan.
- Mengalami gangguan tidur seperti insomnia.
- Kesulitan mengatur pikiran.
- Tidak mampu memahami apa yang orang lain bicarakan.
- Tidak bisa mengikuti instruksi atau perintah.
- Kerap melontarkan pertanyaan aneh dan tak masuk akal.
Gejala skizofrenia tahap awal yang tidak segera mendapatkan penanganan bisa berkembang semakin parah. Kondisi ini memicu perilaku negatif seperti percobaan bunuh dini, melukai diri sendiri, penyalahgunaan narkoba dan perilaku agresif.
Hingga kini, belum ada cara pasti untuk mencegah terjadinya skizofrenia. Namun, diagnosis dan pengobatan dini dapat membantu mencegah pengidap skizofrenia menjalani aktivitas sehari-hari.







