PENGANGGARAN modal atau capital budgeting merupakan salah satu aspek krusial dalam pengelolaan keuangan perusahaan. Keputusan investasi yang tepat akan menentukan keberhasilan dan keberlanjutan bisnis. Oleh karena itu, penganggaran modal harus dilakukan dengan seksama dan penuh kehati-hatian.
Arus kas merupakan faktor sentral dalam penganggaran modal. Sebelum memutuskan investasi, perusahaan harus mengkaji secara seksama arus kas yang diharapkan. Inilah yang menjadi kunci dari keberhasilan investasi yang diputuskan. Tanpa adanya proyeksi arus kas yang akurat, investasi yang dilakukan dapat berakhir sia-sia.
- Memperkirakan Arus Kas
Proses terpenting dan tersulit dalam penganggaran modal yaitu mengestimasi arus kas suatu proyek, atas pembiayaan dari investasi serta arusvkas masuk bersih yang didapat tiap tahun selesai berjalannya suatu proyek. Konsep penting digunakan semata-mata melakukan pertimbangan pada arus kas selisih/incremental cash flows menjadi pembeda antara arus kas seandainya proyek diambil ataupun arus kas tanpa proyek.
Keputusan dalam investasi dapat dikenal juga dengan penganggaran modal/capital budgeting yaitu operasi dari aktivitas yang meliputi semua kegiatan dalam persiapan pemanfaatan dana yang bertujuan mendapatkan manfaat/benefit di masa mendatang. Dalam praktiknya, penganggaran modal dimaksudkan untuk menganalisis investasi dari satu di antara yang ada pilihan investasi yang tersedia. Hal ini bertujuan agar mendapatkan investasi yang bernilai profit. Dalam melakukan analisa terhadap investasi akan menyortir peluang yang ada pada investasi, kemudian investasi yang terpilih akan memberikan manfaat besar melalui penginvestasian dana. Persiapan melalui keputusan dalam investasi sangat penting dikarenakan:
a. Pengeluaran dana yang berkaitan pada jangka waktu yang panjang. Dengan ini diartikan perusahaan perlu menanti dalam masa yang lama maupun menanti hingga seluruh penginvestasian dana bisa kembali diterima bagi perusahaan. Penerimaan dana akan mempengaruhi tersedianya dana untuk kebutuhan lainnya.
b. Penginvestasian pada aktiva tetap akan memberikan peluang kepada hasil dalam melakukan penjualan diwaktu mendatang. Kesalahan pada forecasting dapat mengakibatkan over atau under-investment. Jika investasi pada aktiva tetap sangat tinggi atau melampaui daripada yang dibutuhkan maka dapat menerima beban kepada perusahaan. Namun sebaliknya, jika besaran investasi pada aktiva tetap sangat rendah maka dapat berakibat pada kurangnya peralatan sehingga perusahaan harus bertindak dengan menaikkan harga pokok dan mengecilkan daya saing ataupun hilangnya sebagian besar pasar yang menjual produknya.
c. Pengeluaran dana untuk memenuhi kebutuhan tertentu dalam besaran yang tinggi. Untuk mendapatkan besaran dana yang tinggi tidaklah mudah didapat dengan jangka waktu singkat. Oleh sebab itu, perencanaan harus dilakukan dengan cermat dan seksama.
d. Jika salah dalam mengambil keputusan akan berdampak panjang bagi perusahaan. Selain itu, kerugian bagi perusahaan tidak dapat dihindarkan.
2. Pengukuran Arus Kas
Pengukuran arus kas, semata-mata berfokus terhadap arus kas tambahan setelah pajak.
Pengambilan keputusan dalam investasi, metode yang sering dipergunakan:
a. Metode Net Present Value
b. Perbedaan antara nilai sekarang yang didapat dari arus kas dengan nilai sekarang dari investasi. Menghitung present value terhadap penerimaan tingkat discount rate itu merupakan langkah pertama yang harus dilakukan. Kedua, membandingkan present value dari investasi. Keputusan pada penilaian metode ini yang dimaksud dalam arti investasi layak di jalankan antara PV dari cash flow lebih besar maka nilai NPV bernilai positif, begitupun sebaliknya apabila investasi tidak layak dijalankan jika selisih PV dari cash flow lebih kecil dibandingkan dengan PV investasi berarti nilai NPV bernilai negatif. Net Present Value dirumuskan sebagai berikut :
| Net Present Value | = PV. Proceed – PV. Outlays |
| PV. Proceed | = Proceed x Discount Factor (DF) |
| PV. Outlays | = Harga Perolehan (Harga Beli) |
c. Metode Payback Periode
Metode yang digunakan untuk menutupi kembali biaya yang timbul akibat investasi dengan menggunakan “proceeds” ataupun arus kas masuk bersih/net cash flow. Hal ini berarti payback periode dari investasi bisa kembali diterima sepenuhnya. Seandainya tiap tahun proceeds mendapatkan jumlah yang sama maka payback periode maka perhitungannya melalui pembagian jumlah investasi dengan proceeds tahunan.
d. Metode Profitability Index
Metode yang digunakan untuk menghitung perbandingan antara present value dari penerimaan dengan present value dari investasi atau yang dikenal dengan cost benefit analysis method.
e. Metode Average Rate of Return
Jika menunjukkan persentase keuntungan neto sesudah pajak yang dapat dihitung dari average investment atau initial investment, metode ini sering dikenal dengan accounting rate of return. Seandainya ketiga metode lainnya seperti payback periode, NPV, dan internal rate of return berdasarkan pada proceeds ataupun cash flow maka metode average rate of return berdasarkan pada keuntungan dari laporan dalam buku/reported accounting income. Apabila nilai ARR lebih dari 100%, maka investasi layak untuk dilanjutkan, dan sebaliknya.
f. Metode Internal Rate of Return
Metode ini bisa diartikan seandainya tingkat bunga yang menghasilkan besaran nilai sekarang dari proceeds. Dengan harapan akan berhasil/PV of future proceeds melalui besaran nilai sekarang dari pembiayaan modal/PV of capital outlays. Kebanyakan metode ini mempergunakan metode cobacoba/ trial and error. Keputusan dalam metode ini didasarkan pada pertimbangan, yaitu arus kas keluar/cash outflow yang dinyatakan oleh perusahaan maupun arus kas masuk /cash inflow yang diperoleh dari investasi.
Arus kas merupakan inti dari setiap keputusan penganggaran modal. Setiap proyek investasi akan menghasilkan arus kas masuk dan arus kas keluar di masa depan. Arus kas masuk berasal dari pendapatan atau penerimaan yang dihasilkan oleh investasi tersebut, sedangkan arus kas keluar meliputi biaya investasi awal, biaya operasional, dan biaya lainnya. Penilaian kelayakan investasi dilakukan dengan membandingkan arus kas masuk dan arus kas keluar, serta mempertimbangkan nilai waktu uang (time value of money).
Proyeksi arus kas yang akurat menjadi kunci keberhasilan penganggaran modal. Perusahaan harus mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi arus kas, seperti inflasi, siklus bisnis, perubahan teknologi, dan risiko operasional. Kesalahan dalam memproyeksikan arus kas dapat menyebabkan keputusan investasi yang keliru, baik dengan menolak proyek yang sebenarnya menguntungkan atau menerima proyek yang merugikan.
Selain itu, arus kas juga menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kriteria penilaian investasi seperti Nilai Sekarang Bersih (NPV), Tingkat Pengembalian Internal (IRR), dan Periode Pengembalian (Payback Period). Kriteria-kriteria ini digunakan untuk membandingkan dan menentukan proyek investasi mana yang paling menguntungkan bagi perusahaan.
Dalam konteks penganggaran modal, arus kas tidak hanya penting dalam mengevaluasi proyek investasi baru, tetapi juga dalam menilai proyek penggantian aset atau ekspansi. Perusahaan harus mempertimbangkan arus kas yang dihasilkan oleh aset lama dan membandingkannya dengan arus kas yang diharapkan dari investasi penggantian atau ekspansi.
Pengelolaan arus kas yang baik juga penting untuk memastikan ketersediaan dana bagi proyek-proyek investasi yang disetujui. Perusahaan harus memastikan bahwa arus kas operasional dan sumber pendanaan lainnya cukup untuk mendanai investasi modal tanpa mengganggu operasional bisnis sehari-hari.
Dalam era persaingan bisnis yang semakin ketat, penganggaran modal yang efektif menjadi semakin penting bagi perusahaan untuk mempertahankan daya saing dan pertumbuhan jangka panjang. Arus kas merupakan jantung dari proses ini, memberikan informasi kritis bagi pengambilan keputusan investasi yang tepat.
Perusahaan yang mampu mengelola arus kas dengan baik dan melakukan proyeksi arus kas yang akurat akan memiliki keunggulan kompetitif dalam penganggaran modal, sehingga dapat mengalokasikan sumber daya keuangan secara optimal dan meraih pertumbuhan yang berkelanjutan.
Penulis:
Mohammad Fathi Rohman
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Program Studi Akuntansi S1
Universitas Pamulang (UNPAM)
Tulisan ini dibuat dalam rangka tugas kuliah.







