CHANGE Drive merupakan kata kunci awal dalam menghadapi persaingan di berbagai bidang kehidupan, termasuk pada industri bisnis, industri pendidikan, industri perbankan, Industri Pertanian, Industri Peternakan, Industri Perikanan, Industri Real Estate, UMKM dan industri lainnya.
Era Teknologi Informasi (TI) saat ini mampu merubah peradaban manusia dari manual ke mekanisasi, dan dari mekanisasi menjadi komputerisasi yang kita kenal dengan digitalisasi.
Hampir semua aktivitas kehidupan manusia sudah bersifat digitalisasi termasuk di Indonesia sudah serba digital. Era Digitalisai membutuhkan perangkat komputer atau gadget dan internet. Fakta di lapangan ternyata hampir 80% masyarakat Indonesia memiliki perangkat komputer atau gadget yang di dalamnya sudah ada internet untuk mengakses informasi, komunikasi, transaksi, dan interaksi lainnya.
Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia mencapai 215,63 juta orang pada periode 2022-2023. Jumlah ini meningkat 2,67% dibandingkan pada periode sebelumnya yang sebanyak 210,03 juta pengguna.
Jumlah pengguna internet tersebut setara dengan 78,19% dari total populasi Indonesia yang sebanyak 275,77 juta jiwa. Persentasenya lebih tinggi 1,17% poin dibandingkan pada 2021-2022 yang sebesar 77,02%.
Berdasarkan jenis kelaminnya, tingkat penetrasi internet terhadap laki-laki di Indoenesia sebesar 79,32%, Angkanya lebih tinggi dibandingkan penetrasi internet kepada perempuan yang sebesar 77,36%.
Adapun, tingkat penetrasi internet di wilayah perkotaan sebesar 77,36% pada 2022-2023. Persentasenya pun lebih baik ketimbang di wilayah perdesaan yang sebesar 79,79%.
Sebagai informasi, APJII bersama SRA Consulting melakukan survei terhadap 8.510 responden di seluruh Indonesia pada 10-27 Januari 2023. Survei ini dilakukan menggunakan metode multistage random sampling dengan tingkat toleransi kesalahan (margin of error) 1,14% dan tingkat kepercayaan 95% (Sumber: APJII, 27 Mei 2023).
Informasi hasil survei di atas mengindikasikan bahwa masyarakat Indonesia hampir 80% sudah mengakses internet yang di dalamnya terdapat media sosial dengan berbagai jenis dan kebutuhannya.
Banyak sekali jenis media sosial yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan bisnis, pendidikan, perbankan, kesehatan, keagamaan, konstruksi, pemerintahan, dan kegiatan lainnya.
Fakta di lapangan menurut laporan We Are Social dan Hootsuite yang dikutip dari databoks katadata.co.id (02 juni 2023) bahwa Indonesia menempati peringkat kedua setelah Amerika Serikat, dari 215,63 juta orang tersebut baru 50,9 % atau 109,9 juta orang yang sudah memanggunakan jenis media sosial.
Salah satunya Teknik Digital Marketing seperti Tiktok, sisanya sekitar 105,73 juta orang atau 49,1% belum memaksimalkan jenis media tersebut baru sebatas memiliki gadget dan beberapa aplikasi yang masih umum digunakan seperti WhatsApp (WA), dan email.
Ini artinya masih banyak masyarakat belum mampu memanfaatkan media sosial untuk didayagunakan terutama untuk kepentngan usaha (bisnis) yang mampu menghaslkan kreativitas dan inovasi baru sehingga dapat meningkatkan produktivitas usaha. Contoh memanfaatkan Teknik Digital Marketing melalui pemanfaatan Media Tiktok yang sekarang ini sedang viral di masyarakat.
Sebuah studi kasus dari seorang alumni salah satu perguruan tinggi (lulus S1) dan sekarang melanjutkan studi S2 di salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang, di sela-sela mengisi waktu kosong mencoba berkerasi dalam berbisnis dengan menguasi Teknik Digital Marketing melalui Media Tiktok.
Ketika penulis melakukan wawancara dan langsung mengobservasi ternyata banyak edukasi yang diperoleh untuk bisa dishare ke khalayak karena ini riil nyata, berdayaguna dan menghasilkan income. Hasil observasi selama satu bulan (30 hari) didapat inputan beberapa manfaat menguasai Teknik Digital Marketing di antaranya:
Efisensi Tinggi
Sebelum era digital setiap individu atau kelompok masyarakat merasa bangga ketika memiliki usaha dengan gedung dan kantor yang megah, mewah, tempat usaha minimal bangunan ruko yang kokoh, serta fasilitas sarana-prasarana dan fasilitas fisik lainnya yang indah.
Ternyata sebelum era digital, sarana tersebut menjadi sebuah keunggulan karena tidak semua individu atau kelompok mampu menyediakan sarana tersebut karena terkait kemampuan pendanaan dan biaya yang tinggi serta adanya keterbatasan sumberdaya tempat.
Akan tetapi di era digitalisasi sekarang ini yang dimaksud dengan keunggulan itu tidak diukur oleh seberapa megah gedung atau sarana fisik saja, akan tetapi harus mampu menciptakan low cost leadership (Porter, 1980) yaitu mampu menciptakan efisiensi secara komprehenship yang pada akhirnya memiliki harga yang relatif lebih rendah dari pesaing tanpa mengurangi keuntungan dan mutu sebagai hak dari konsumen.
Dalam penggunaan media sosial Tiktok siapapun bisa menggunakannya tanpa harus memiliki atau sewa gedung khusus yang luas dan mewah. Cukup di kamar tidur sendiri atau ruang tamu kita bisa jualan dengan terkoneksi ke Media Tiktok, desain interior bisa dengan digital yang murah meriah tanpa harus merubah ruangan tanpa harus ngecat ruangan, dan lainnya yang bersifat fisik manual.
Dengan pangsa pasar yang sangat luas baik di dalam negeri maupun luar negeri sebagai gambaran di dalam negeri hampir 80% masyarakat Indoneisa sudah memeiliki gadget yang terkoneksi ke internet. Dalam memperluas pangsa pasar tidak perlu mengeluarkan biaya iklan yang besar karena di media itu merupakan sarana berinteraksi secara otomatis sebagai sarana yang informatif pengganti iklan.
Efektifitas Tinggi
Banyak pera pelaku usaha yang tidak menggunakan digitalisasi atau lebih spesifik lagi tidak menggunakan Teknik Digital Marketing, banyak yang ditinggalkan oleh konsumennya, ketinnggalan oleh pesaingnya dan gulung tikar.
Hal itu selain banyaknya biaya yang dikeluarkan (in-efisiensi) juga tidak kena sasaran pasarnya. Ini terjadi pada para pelaku usaha yang tidak memahami yang sebenar-benarnya dari kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan harapan (expectations) konsumen.
Dengan menguasai Teknik Digital Marketing salah satunya melalui Media Tiktok, banyak sekali kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan harapan (expectations) konsumen yang terpenuhi, misalnya konsumen dimanjakan dengan cara belanja tanpa harus pergi dari rumah, pilihan produk lebih mudah didapat karena konsumen dapat langsung cari pilihan, informasi produk atau jasa tawaran perusahaan lebih mudah didapat setiap waktu, berbeda dengan manual. Harga lebih rendah karena sipenjual memiliki efisiensi yang tinggi, lebih menyenangkan karena bisa berbasis life music dan gambar yang menarik dan banyak lagi kemudahan dan kemanjaan untuk konsumen.
Differensasi Tinggi
Bisnis atau usaha kita jika ingin banyak peminat dan pembeli jelas harus berbeda dari pesaingnya (Porter, 1980). Melalui penguasaan Teknik Digital Marketing otomatis dengan sendirinya harga jual produk jadi terdiffereniasi karena mengalami menurunan biaya-biaya baik biaya variabel (variabel cost) maupun biaya tetap (fix cost).
Cara berpromosi terdifferensiasi karena otomatis di media online tersebut mudah didapat, menarik, unik, dan biaya murah bahkan nol rupiah. Saluran distribusi otomatis menyebar ke seluruh dunia karena online sehingga terdifferensiasi, termasuk produk atau jasa tawaran perusahaan mudah untuk terdifferensiasi, karena informasi cepat, mudah dan berlmpah sahingga sangat mudah berkreasi memunculkan inovasi produk yang unik dan berbeda dari pesaing bahkan kecepatan berkreasi dan berinoasi sangat cepat.
Daya Fokus Tinggi
Berbisnis atau usaha dengan media online melalui Teknik Digital Marketing semakin mudah untuk fokus dalam berbagai hal. Jika perusahaan fokus melayani konsumennya, ini merupakan keunggulan yang tinggi (Porter, 1980). Misalnya fokus melayani salah satu segmentasi pasar, bahkan mampu fokus melayanai konsumen one by one, hal itu bisa dilakukan karena dengan media digital atau online bebas dari ruang/tempat dan waktu untuk saling berinteraksi dan bertransaksi.
Uraian di atas memberikan edukasi kepada kita khususnya untuk para pelaku usaha yang sudah memeiliki gadget seperti hand Phone tapi belum dimaksimalkan, bahwa alangkah strategisnya untuk terus belajar tanpa batas (long life education) dalam rangka Change Drive melalui pemaksimalan fungsi-fungsi media sosial yang di dalamnya terdapat Teknik Digital Marketing yang bisa digunakan untuk kegiatan bisnis dalam rangka meningkatkan produktivitas usaha. Mari kita selalu berupaya untuk terus mengikuti perubahan (Chang Drive), bahkan akan lebih baik jika kita mampu memimpin perubahan (Change Leader), insya Allah akan jadi yang terdepan dan jadi pemenang. Aamiin Ya Robbal’alamiin.
Penulis:
Udin Ahidin
Dosen Pascasarjana
Universitas Pamulang Kota Tangerang Selatan







