TANGSELXPRESS – Asam lambung naik dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama ketika menimbulkan sensasi terbakar di dada, mual, nyeri ulu hati, hingga rasa asam di mulut. Jika terjadi berulang, kondisi tersebut bisa menjadi gejala Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), yakni gangguan ketika isi lambung mengalir kembali ke kerongkongan.
Sejumlah kebiasaan sehari-hari dapat memicu atau memperburuk gejala refluks asam. Di antaranya makan dalam porsi besar, langsung berbaring setelah makan, kelebihan berat badan, merokok, serta mengonsumsi makanan atau minuman tertentu yang menjadi pemicu bagi masing-masing orang.
Pola makan tidak teratur juga dapat membuat seseorang melewatkan waktu makan dan kemudian makan dalam porsi besar. Kondisi ini berpotensi memperburuk gejala pada sebagian orang. Selain itu, makanan tinggi lemak, makanan bersantan, minuman bersoda, dan alkohol dapat memicu keluhan pada individu tertentu.
Stres juga dapat memperburuk gejala yang dirasakan, meskipun bukan satu-satunya penyebab GERD. Karena itu, mengenali pemicu pribadi dan memperbaiki kebiasaan sehari-hari menjadi langkah penting untuk membantu mengendalikan keluhan.
5 Cara Membantu Mencegah Asam Lambung Naik
1. Mengunyah permen karet tanpa gula
Mengunyah permen karet dapat merangsang produksi air liur. Air liur membantu menetralkan asam dan membersihkan sisa asam dari kerongkongan. Namun, cara ini hanya dapat membantu meredakan gejala pada sebagian orang dan bukan pengganti pengobatan GERD.
Pilih permen karet tanpa gula dan hentikan jika justru menimbulkan kembung atau ketidaknyamanan.
2. Hindari langsung berbaring setelah makan
Langsung berbaring setelah makan dapat mempermudah isi lambung mengalir kembali ke kerongkongan. Karena itu, usahakan tetap dalam posisi tegak setidaknya selama dua hingga tiga jam setelah makan, terutama sebelum tidur malam.
Kebiasaan ini dapat membantu mengurangi risiko refluks, khususnya bagi orang yang sering mengalami gejala pada malam hari.
3. Minum air putih secukupnya dan kelola pernapasan
Memenuhi kebutuhan cairan dengan minum air putih membantu menjaga fungsi tubuh secara umum. Namun, belum ada bukti kuat bahwa minum air putih secara khusus mempercepat pengosongan lambung atau menjadi cara utama mencegah GERD.
Latihan pernapasan diafragma dapat membantu sebagian orang mengendalikan gejala refluks. Meski demikian, latihan ini sebaiknya dipandang sebagai pendukung, bukan pengganti penanganan medis.
4. Atur pola makan dan pilih makanan bergizi
Mengonsumsi makanan bergizi seimbang dalam porsi yang sesuai dapat membantu menjaga kesehatan secara keseluruhan. Sebagian orang juga merasa lebih nyaman dengan porsi makan lebih kecil tetapi lebih teratur, dibandingkan makan dalam jumlah besar sekaligus.
Makanan berprotein dapat menjadi bagian dari pola makan sehat, tetapi tidak semua makanan tinggi protein terbukti mencegah refluks. Sebaiknya perhatikan pula kandungan lemak karena makanan berlemak justru dapat memicu gejala pada sebagian orang.
5. Terapkan gaya hidup sehat
Berhenti merokok, membatasi atau menghindari alkohol, serta menjaga berat badan tetap sehat dapat membantu mengendalikan gejala GERD. Jika memiliki kebiasaan makan menjelang tidur, cobalah memberi jeda yang cukup antara waktu makan dan berbaring.
Catat makanan, minuman, serta kebiasaan yang memicu keluhan agar penanganannya lebih tepat. Pemicu GERD dapat berbeda pada setiap orang sehingga tidak semua jenis makanan harus dihindari jika tidak menimbulkan gejala.
Kapan Harus Memeriksakan Diri?
Jika asam lambung naik terjadi berulang, mengganggu tidur, atau tidak membaik meski kebiasaan sehari-hari telah diperbaiki, sebaiknya konsultasikan kondisi tersebut kepada tenaga medis.
Segera cari pertolongan medis jika mengalami nyeri dada yang berat atau baru muncul, terutama jika disertai sesak napas, keringat dingin, atau nyeri yang menjalar ke lengan maupun rahang. Keluhan tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai asam lambung karena dapat menandakan kondisi serius, termasuk gangguan jantung.
Dengan mengenali pemicu dan menerapkan kebiasaan yang tepat, gejala refluks asam dapat lebih terkendali. Namun, gejala yang menetap atau berulang tetap perlu mendapat evaluasi medis agar penyebab dan penanganannya dapat dipastika







