TANGSELXPRESS – Kota Pontianak merayakan hari jadinya yang ke-255 pada Jumat (23/10/2026). Sejarah kota ini bermula pada 23 Oktober 1771, ketika Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie mendirikan permukiman di sekitar Sungai Kapuas. Kota ini tidak hanya memiliki sejarah panjang, tetapi juga menyimpan kekayaan kuliner tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah pengkang, kudapan berbahan dasar beras ketan yang dikenal dengan aroma bakaran dan cita rasa gurih.
Pengkang merupakan kuliner khas Kalimantan Barat yang dikenal berasal dari Desa Peniti, Kecamatan Siantan, di jalur perjalanan Pontianak menuju Singkawang. Makanan ini memiliki tekstur kenyal dan pulen, dengan aroma khas daun pisang yang dibakar di atas bara api.
Keunikan pengkang terletak pada perpaduan ketan, isian udang, serta proses pemanggangan yang menghasilkan cita rasa khas. Meski dibuat dari bahan sederhana, proses pengolahannya membutuhkan perhatian agar tekstur ketan tetap lembut dan aromanya meresap sempurna.
Mengutip Indonesia Kaya, bahan utama pengkang adalah beras ketan yang dimasak bersama santan. Adonan ketan kemudian diberi isian ebi kering atau udang kecil yang telah disangrai untuk menghadirkan rasa gurih.
Setelah isian dimasukkan, ketan dibungkus menggunakan daun pisang. Bungkusan tersebut kemudian dijepit dengan potongan bambu dan diikat pada bagian ujungnya agar bentuknya tetap terjaga selama proses pemanggangan.
Tahap pembakaran menjadi bagian penting yang membedakan pengkang dari olahan ketan lainnya. Sebelum dibakar, permukaan bungkusan diolesi sedikit minyak, kemudian dipanggang di atas bara tempurung kelapa.
Panas bara membuat bagian luar pengkang menjadi lebih kering, sementara bagian dalamnya tetap lembut dan pulen. Aroma daun pisang yang terkena panas berpadu dengan gurihnya santan dan isian udang, menghasilkan karakter rasa yang khas.
Pengkang biasanya disajikan selagi hangat agar aroma bakaran dan kelembutan ketannya lebih terasa. Kudapan ini semakin nikmat ketika disantap bersama sambal merah atau sambal kepah yang menawarkan perpaduan rasa berbeda.
Sambal merah memberikan sensasi pedas, sedangkan sambal kepah memiliki cita rasa yang cenderung manis. Sambal kepah dibuat menggunakan kerang yang ditemukan di kawasan hutan mangrove Kalimantan Barat.
Perpaduan pengkang dan sambal kepah menghadirkan kekayaan rasa yang mencerminkan pemanfaatan bahan pangan lokal. Gurihnya ketan dan udang berpadu dengan cita rasa sambal berbahan hasil pesisir.
Pengkang, Bekal Tradisional Masyarakat Kalimantan Barat
Di balik cita rasanya, pengkang juga memiliki kaitan dengan kehidupan masyarakat setempat. Melansir laman RRI, makanan ini konon kerap dijadikan bekal ketika masyarakat pergi berburu atau bekerja di ladang.
Penggunaan beras ketan sebagai bahan utama membuat pengkang menjadi makanan yang mengenyangkan. Bentuknya yang dibungkus daun pisang dan dijepit dengan bambu juga memudahkan makanan ini dibawa dalam perjalanan.
Sementara itu, penggunaan ebi sebagai isian memberikan tambahan rasa gurih. Bahan tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat memanfaatkan hasil pangan yang tersedia untuk menghasilkan makanan dengan cita rasa khas.
Kehadiran sambal kepah sebagai pelengkap turut memperlihatkan hubungan kuliner ini dengan lingkungan pesisir dan kawasan mangrove di Kalimantan Barat. Bahan-bahan tersebut berpadu dalam sajian sederhana yang memiliki karakter kuat.
Seiring berjalannya waktu, pengkang tidak hanya dikenal sebagai bekal tradisional, tetapi juga menjadi salah satu kuliner yang menarik perhatian pencinta makanan khas daerah. Keunikan bentuk, proses pembakaran, serta perpaduan rasa membuatnya memiliki daya tarik tersendiri.
Momentum peringatan Hari Jadi ke-255 Kota Pontianak menjadi kesempatan untuk kembali mengenal kekayaan kuliner yang tumbuh di Kalimantan Barat. Di tengah perkembangan kota dan perubahan gaya hidup masyarakat, makanan tradisional seperti pengkang menyimpan cerita mengenai kebiasaan, sumber pangan, dan warisan budaya masyarakat setempat.
Pengkang menunjukkan bahwa kuliner daerah tidak sekadar berkaitan dengan rasa, tetapi juga menyimpan jejak kehidupan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.






