• ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber
tangselxpress.com
Rabu, 21 Oktober, 2026
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
tangselxpress.com
No Result
View All Result
Home DUNIA KAMPUS

Pengaruh Influencer terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Digital

Redaksi Tangselxpress by Redaksi Tangselxpress
Oktober 18, 2026
in DUNIA KAMPUS
Reading Time: 11min read
Pengaruh Influencer terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Digital
224
SHARES
2.4k
VIEWS

ABSTRAK

Fenomena influencer marketing telah mengubah lanskap pemasaran kontemporer di Indonesia. Rekomendasi produk oleh influencer terbukti mampu mengakselerasi penjualan barang dalam waktu yang relatif singkat.

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis mekanisme psikologis dan sosial yang menjelaskan mengapa rekomendasi influencer memiliki daya pengaruh yang tinggi terhadap keputusan pembelian konsumen.

Penelitian ini menggunakan pendekatan systematic literature review terhadap 20 artikel ilmiah terindeks Scopus dan Sinta dari tahun 2020–2025. Hasil analisis menunjukkan bahwa efektivitas rekomendasi influencer tidak berdiri tunggal, melainkan merupakan hasil interaksi kompleks dari empat pilar utama yaitu kredibilitas sumber yang terdiri dari keahlian, kepercayaan, dan daya tarik ikatan parasosial yang menciptakan rasa kedekatan dan keintiman semu kekuatan bukti sosial dan Fear of Missing Out (FOMO) yang dimediasi komunitas digital dan mekanisme elaborasi heuristik melalui platform algoritmik.

Temuan ini memberikan implikasi teoretis bagi pengembangan teori Source Credibility di era digital dan implikasi praktis bagi strategi brand endorsement yang etis dan berkelanjutan.

PENDAHULUAN

Perkembangan ekonomi digital di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang eksponensial. Laporan We Are Social (2023) mencatat terdapat lebih dari 167 juta pengguna media sosial aktif di Indonesia, dengan durasi penggunaan rata-rata 3 jam 18 menit per hari. Di tengah kejenuhan konsumen terhadap iklan konvensional, muncul sosok baru sebagai agen persuasi pemasaran, yaitu influencer (Lou & Yuan, 2019). Influencer didefinisikan sebagai individu yang memiliki kemampuan membangun audiens yang terlibat secara konsisten melalui konten autentik di media sosial (De Veirman et al., 2017).

Fenomena yang menarik untuk dikaji adalah kecepatan perputaran barang yang direkomendasikan influencer. Survei Populix (2022) melaporkan bahwa 86% responden di Indonesia pernah berbelanja melalui platform media sosial, dengan TikTok Shop sebagai platform yang paling banyak digunakan (45%). Tingginya adopsi belanja melalui media sosial ini menjadi latar bagi fenomena barang yang cepat laku setelah direkomendasikan influencer, dan mengindikasikan adanya pergeseran fundamental dalam proses pengambilan keputusan konsumen.

Meskipun banyak studi yang membahas efektivitas influencer marketing, masih terdapat research gap yang signifikan. Pertama, sebagian besar penelitian terdahulu hanya berfokus pada niat beli (purchase intention) tanpa menjelaskan mekanisme urgensi yang membuat barang cepat laku (Sokolova & Kefi, 2020). Kedua, literatur di Indonesia masih didominasi pendekatan deskriptif-praktis dan minim integrasi teori psikologi komunikasi yang mendalam. Ketiga, peran algoritma platform seperti TikTok dan Instagram dalam memperkuat efek rekomendasi belum banyak dikritisi secara akademik.

Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan sentral: mengapa rekomendasi influencer dapat membuat suatu barang cepat laku? Secara spesifik, tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor determinan yang memengaruhi efektivitas rekomendasi influencer, menganalisis mekanisme psikologis di balik kepercayaan konsumen terhadap influencer, dan merumuskan model integratif yang menjelaskan hubungan antara rekomendasi influencer dan percepatan penjualan.

TINJAUAN PUSTAKA

Influencer Marketing dan Klasifikasinya

Influencer marketing merupakan strategi pemasaran yang memanfaatkan pengaruh individu yang memiliki kredibilitas dan jangkauan audiens untuk menyampaikan pesan merek (Schouten et al., 2020). Berdasarkan jumlah pengikut, influencer diklasifikasikan menjadi nano (1 ribu–10 ribu), mikro (10 ribu–100 ribu), makro (100 ribu–1 juta), dan mega influencer (di atas 1 juta) (Campbell & Farrell, 2020). Penelitian menunjukkan bahwa mikro influencer sering kali memiliki tingkat engagement yang lebih tinggi dibandingkan mega influencer karena persepsi keaslian yang lebih kuat (Kay et al., 2020).

Teori Kredibilitas Sumber (Source Credibility Theory)

Teori yang dikembangkan oleh Hovland et al. (1953) dan diperbarui oleh Ohanian (1990) ini menjadi fondasi utama dalam memahami efektivitas endorser. Teori ini menyatakan bahwa efektivitas pesan persuasif ditentukan oleh tiga dimensi: expertise (keahlian), trustworthiness (kepercayaan), dan attractiveness (daya tarik) (Ohanian, 1990; Schouten et al., 2020). Dalam konteks digital, dimensi ini mengalami perluasan makna. Keahlian tidak lagi diukur dari gelar formal, melainkan dari pengalaman penggunaan yang konsisten (experience-based expertise) (Lou & Yuan, 2019). Kepercayaan dibangun melalui transparansi dan konsistensi narasi, sementara daya tarik tidak hanya fisik tetapi juga mencakup homophily atau kesamaan nilai dengan pengikut (Sokolova & Kefi, 2020).

BACA JUGA :  Transisi Pandemi ke Endemi: Boleh Lepas Masker di Ruang Terbuka dan Transportasi Umum

Teori Interaksi Parasosial (Parasocial Interaction Theory)

Horton dan Wohl (1956) memperkenalkan konsep hubungan parasosial, yaitu hubungan sepihak di mana audiens merasa mengenal figur media seolah-olah teman dekat. Di era media sosial, interaksi ini menjadi lebih intensif karena adanya fitur komentar, direct message, dan live streaming yang menciptakan ilusi hubungan dua arah (Yuan & Lou, 2020). Penelitian terbaru membuktikan bahwa ikatan parasosial yang kuat menjadi mediator utama antara kredibilitas influencer dan keputusan pembelian (Jin et al., 2019).

Elaboration Likelihood Model (ELM) dan Heuristik Digital

Model ELM dari Petty dan Cacioppo (1986) menjelaskan dua rute pemrosesan informasi: rute sentral (berpikir mendalam) dan rute periferal (berdasarkan isyarat sederhana). Konsumen di media sosial cenderung menggunakan rute periferal karena kelebihan informasi (information overload) (Djafarova & Bowes, 2021). Rekomendasi influencer berfungsi sebagai isyarat heuristik (mental shortcut) yang memangkas proses evaluasi rasional, sehingga mempercepat keputusan, sebagaimana dikaji dalam kerangka ELM pada pembelian impulsif di platform video pendek (Huang et al., 2025).

Teori Bukti Sosial (Social Proof Theory)

Cialdini (2021) menjelaskan bahwa individu cenderung mengikuti perilaku orang lain dalam situasi ketidakpastian. Ketika pengikut melihat ribuan komentar positif, jumlah penonton live yang tinggi, dan indikator “terjual 5rb+”, maka terbentuklah bukti sosial yang memvalidasi keputusan untuk membeli (Huang et al., 2025).

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan kualitatif-interpretatif. SLR dipilih karena mampu mensintesis temuan-temuan terfragmentasi menjadi model konseptual yang komprehensif (Tranfield et al., 2003).

Proses seleksi literatur dilakukan dalam tiga tahap. Pertama, pencarian artikel melalui database Scopus, Web of Science, dan Google Scholar menggunakan kata kunci: “influencer marketing”, “parasocial interaction”, “purchase decision”, “source credibility”, dan “social commerce”. Rentang tahun dibatasi 2020–2025 untuk memastikan relevansi. Kedua, dilakukan screening berdasarkan kriteria inklusi: (a) artikel jurnal peer-reviewed, (b) membahas mekanisme pengaruh influencer terhadap pembelian, dan (c) memiliki metodologi yang jelas. Ketiga, dari 124 artikel awal, terpilih 20 artikel inti yang dianalisis secara mendalam menggunakan teknik thematic analysis. Analisis tematik dilakukan untuk mengidentifikasi pola, tema, dan hubungan antarkonsep. Setiap pernyataan analitis didukung oleh triangulasi sumber untuk menjaga validitas.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan sintesis literatur, terdapat lima mekanisme utama yang menjelaskan mengapa barang yang direkomendasikan influencer cepat laku.

Transfer Kepercayaan Berlapis: Dari Keaslian Menuju Transaksi

Kepercayaan merupakan mata uang utama dalam ekonomi kreator. Berbeda dengan selebriti tradisional yang dianggap dibayar untuk beriklan, influencer membangun kepercayaan melalui self-disclosure dan storytelling yang konsisten (Audrezet et al., 2020). Ketika seorang beauty influencer menunjukkan rutinitas skincare tanpa filter selama 60 hari, audiens menginterpretasikan hal tersebut sebagai bukti keahlian empiris. Kepercayaan ini kemudian ditransfer kepada produk yang ia rekomendasikan melalui mekanisme trust transfer (Lou & Yuan, 2019).

Penelitian oleh Balaban dan Szambolics (2022) menemukan bahwa transparansi mengenai sponsorship justru meningkatkan kepercayaan, bukan menurunkannya, selama influencer memberikan ulasan yang seimbang antara kelebihan dan kekurangan. Hal ini menjelaskan mengapa tagar #jujurreview menjadi sangat efektif; konsumen merasa mendapatkan informasi yang tidak akan diberikan oleh iklan merek.

Kekuatan Ikatan Parasosial dan Perceived Intimacy

Hasil analisis menunjukkan bahwa interaksi parasosial adalah prediktor terkuat yang membedakan influencer dari endorser konvensional. Jin et al. (2019) membuktikan bahwa pengikut yang memiliki ikatan parasosial tinggi akan memproses rekomendasi produk sebagai saran dari teman, bukan sebagai iklan. Kedekatan ini diperkuat oleh algoritma platform yang membuat konten influencer muncul setiap hari di For You Page, menciptakan mere exposure effect (Zajonc, 1968).

Implikasinya, ketika influencer mengatakan “ini bagus banget, kalian harus coba, aku sampai stok 3”, pengikut merespons dengan urgensi emosional, bukan evaluasi rasional. Mereka membeli untuk mempertahankan kedekatan simbolik dengan influencer tersebut (Sokolova & Kefi, 2020).

BACA JUGA :  Peran Strategis Ekonomi dan Bisnis dalam Pembangunan Nasional

Akselerasi Melalui Bukti Sosial dan FOMO yang Terstruktur

Kecepatan laku tidak hanya disebabkan oleh individu, tetapi oleh dinamika kolektif. Platform live commerce seperti TikTok Shop dan Shopee Live secara cerdas memvisualisasikan bukti sosial secara real-time: jumlah penonton, komentar yang berlari cepat, dan notifikasi “X baru saja membeli”. Hal ini menciptakan apa yang disebut sebagai bandwagon effect, yang sejalan dengan temuan bahwa kuantitas dan kualitas bukti sosial memengaruhi pembelian impulsif pada platform video pendek (Huang et al., 2025).

Selain itu, strategi scarcity marketing yang diorkestrasi influencer, seperti “cuma sisa 50 pcs, kalau habis gak restock” atau “harga promo cuma selama live ini”, memicu Fear of Missing Out (FOMO). Hodkinson (2019) mengajukan model konseptual yang menempatkan FOMO sebagai dasar daya tarik pemasaran yang mendorong konsumen bertindak cepat. Studi pada siaran langsung juga menunjukkan bahwa FOMO meningkatkan perhatian penonton serta kesediaan membeli, terutama ketika produk langka (Kao & Huang, 2025). Kombinasi bukti sosial dan FOMO inilah yang menciptakan urgensi artifisial yang mempercepat penjualan.

Peran Algoritma sebagai Amplifier Persuasi

Temuan kritis yang sering terabaikan adalah peran algoritma. Pengguna TikTok membentuk anggapan tentang cara kerja algoritma rekomendasi dan berusaha memengaruhinya melalui perilaku seperti menyukai, melewati, atau menyegarkan beranda (Felaco, 2025), sehingga sistem rekomendasi platform bukanlah lingkungan yang netral. Berdasarkan sintesis tersebut, penulis mengajukan argumen konseptual bahwa ketika sebuah produk mulai mendapatkan traksi penjualan dari komunitas influencer, sinyal interaksi dapat mendorong konten tersebut ke audiens yang lebih luas dengan profil serupa. Hal ini menciptakan siklus umpan balik positif: rekomendasi → pembelian awal → sinyal algoritmik → jangkauan lebih luas → pembelian massal. Dengan demikian, barang cepat laku bukan hanya karena persuasi interpersonal, tetapi juga karena persuasi tersebut berpotensi diamplifikasi secara sistemik oleh infrastruktur platform. Siklus ini masih merupakan proposisi yang perlu diuji secara empiris.

Pergeseran Peran Konsumen: Dari Evaluator Menjadi Follower

Pada model keputusan pembelian tradisional (Kotler & Keller, 2016), konsumen melewati lima tahap yang panjang. Dalam model influencer-driven, tahap pencarian informasi dan evaluasi alternatif dipersingkat secara drastis. Konsumen mendelegasikan proses evaluasi kepada influencer yang dipercayainya (Djafarova & Bowes, 2021). Fenomena ini disebut sebagai cognitive outsourcing. Ketika influencer telah melakukan “kerja keras” mencoba 10 lipstik dan menyimpulkan satu yang terbaik, pengikut merasa tidak perlu lagi membandingkan sendiri.

Kesimpulan

Artikel ini menyimpulkan bahwa kecepatan laku suatu barang akibat rekomendasi influencer bukanlah fenomena kebetulan, melainkan hasil dari orkestrasi empat kekuatan yang saling menguatkan: kredibilitas sumber yang berbasis pengalaman, ikatan parasosial yang mendalam, bukti sosial yang terstruktur dan diperkuat FOMO, serta amplifikasi algoritmik. Rekomendasi influencer bekerja efektif karena ia berhasil mengubah logika transaksi dari “membeli produk” menjadi “membeli kepercayaan, kedekatan, dan identitas komunitas”.

Secara teoretis, penelitian ini memperluas Teori Kredibilitas Sumber dengan menambahkan dimensi keaslian berbasis pengalaman dan peran mediasi interaksi parasosial di era digital. Secara praktis, model ini menjelaskan mengapa mikro influencer dengan engagement tinggi sering kali lebih efektif dalam mendorong penjualan cepat dibandingkan mega influencer.

Saran

Bagi praktisi pemasaran, disarankan untuk tidak hanya berfokus pada metrik jumlah pengikut, tetapi juga pada kualitas ikatan parasosial dan tingkat kepercayaan komunitas influencer. Strategi scarcity harus digunakan secara etis untuk menghindari kekecewaan konsumen jangka panjang.

Bagi penelitian selanjutnya, disarankan untuk melakukan studi empiris kuantitatif dengan menguji model integratif yang diajukan dalam artikel ini di berbagai kategori produk (high involvement vs low involvement) dan di berbagai konteks budaya di Indonesia. Penelitian longitudinal juga diperlukan untuk melihat apakah efek percepatan penjualan ini berkelanjutan terhadap loyalitas merek atau hanya bersifat impulsif sesaat.

DAFTAR PUSTAKA

Audrezet, A., de Kerviler, G., & Moulard, J. G. (2020). Authenticity under threat: When social media influencers need to go beyond self-presentation. Journal of Business Research, 117, 557–569. https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2018.07.008

BACA JUGA :  Mahasiswa S1 Akuntansi Unpam Mengembangkan Kreativitas Anak SD lewat Pelatihan Kerajinan Daur Ulang

Balaban, D. C., & Szambolics, J. (2022). A proposed model of self-perceived authenticity of social media influencers. Media and Communication, 10(1), 235–246. https://doi.org/10.17645/mac.v10i1.4765

Campbell, C., & Farrell, J. R. (2020). More than meets the eye: The functional components underlying influencer marketing. Business Horizons, 63(4), 469–479. https://doi.org/10.1016/j.bushor.2020.03.003

Cialdini, R. B. (2021). Influence, new and expanded: The psychology of persuasion. Harper Business.

De Veirman, M., Cauberghe, V., & Hudders, L. (2017). Marketing through Instagram influencers: The impact of number of followers and product divergence on brand attitude. International Journal of Advertising, 36(5), 798–828. https://doi.org/10.1080/02650487.2017.1348035

Djafarova, E., & Bowes, T. (2021). ‘Instagram made me buy it’: Generation Z impulse purchases in fashion industry. Journal of Retailing and Consumer Services, 59, 102345. https://doi.org/10.1016/j.jretconser.2020.102345

Felaco, C. (2025). Making sense of algorithm: Exploring TikTok users’ awareness of content recommendation and moderation algorithms. International Journal of Communication, 19, 1081–1102.

Hodkinson, C. (2019). ‘Fear of missing out’ (FOMO) marketing appeals: A conceptual model. Journal of Marketing Communications, 25(1), 65–88.

Horton, D., & Wohl, R. R. (1956). Mass communication and para-social interaction: Observations on intimacy at a distance. Psychiatry, 19(3), 215–229.

Hovland, C. I., Janis, I. L., & Kelley, H. H. (1953). Communication and persuasion: Psychological studies of opinion change. Yale University Press.

Huang, W., Wang, X., Zhang, Q., Han, J., & Zhang, R. (2025). Beyond likes and comments: How social proof influences consumer impulse buying on short-form video platforms. Journal of Retailing and Consumer Services, 84, 104199. https://doi.org/10.1016/j.jretconser.2024.104199

Jin, S. V., Muqaddam, A., & Ryu, E. (2019). Instafamous and social media influencer marketing. Marketing Intelligence & Planning, 37(5), 567–579. https://doi.org/10.1108/MIP-09-2018-0375

Kao, C.-Y., & Huang, C. (2025). Investigating the impact of fear of missing out on inaction inertia in live streaming purchase intention. Aslib Journal of Information Management, 77(6), 1152–1175. https://doi.org/10.1108/AJIM-01-2024-0030

Kay, S., Mulcahy, R., & Parkinson, J. (2020). When less is more: The impact of macro and micro social media influencers’ disclosure. Journal of Marketing Management, 36(3–4), 248–278. https://doi.org/10.1080/0267257X.2020.1718740

Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing management (15th ed.). Pearson Education.

Lou, C., & Yuan, S. (2019). Influencer marketing: How message value and credibility affect consumer trust of branded content on social media. Journal of Interactive Advertising, 19(1), 58–73. https://doi.org/10.1080/15252019.2018.1533501

Ohanian, R. (1990). Construction and validation of a scale to measure celebrity endorsers’ perceived expertise, trustworthiness, and attractiveness. Journal of Advertising, 19(3), 39–52.

Petty, R. E., & Cacioppo, J. T. (1986). Communication and persuasion: Central and peripheral routes to attitude change. Springer-Verlag. https://doi.org/10.1007/978-1-4612-4964-1

Populix. (2022). The social commerce landscape in Indonesia [Laporan]. Populix. https://populix.co/articles/report/the-social-commerce-in-indonesia/

Schouten, A. P., Janssen, L., & Verspaget, M. (2020). Celebrity vs. influencer endorsements in advertising: The role of identification, credibility, and product-endorser fit. International Journal of Advertising, 39(2), 258–281. https://doi.org/10.1080/02650487.2019.1634898

Sokolova, K., & Kefi, H. (2020). Instagram and YouTube bloggers promote it, why should I buy? How credibility and parasocial interaction influence purchase intentions. Journal of Retailing and Consumer Services, 53, 101742. https://doi.org/10.1016/j.jretconser.2019.01.011

Tranfield, D., Denyer, D., & Smart, P. (2003). Towards a methodology for developing evidence-informed management knowledge by means of systematic review. British Journal of Management, 14(3), 207–222.

We Are Social. (2023). Digital 2023: Indonesia [Laporan tahunan]. DataReportal. https://datareportal.com/reports/digital-2023-indonesia

Yuan, S., & Lou, C. (2020). How social media influencers foster relationships with followers: The roles of source credibility and fairness in parasocial relationship and product interest. Journal of Interactive Advertising, 20(2), 133–147. https://doi.org/10.1080/15252019.2020.1769514

Zajonc, R. B. (1968). Attitudinal effects of mere exposure. Journal of Personality and Social Psychology, 9(2, Pt. 2), 1–27.

 

Penulis:

Ahmad Hartadi
Ahmad Rizal
Rheva Deo P
M. Yunus
Bagus Tri S
Nastiarsah
Muhammad Fadhil H

Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang

Previous Post

Hari Menopause Sedunia 18 Oktober: Kenali Gejala Perimenopause dan Risikonya

Next Post

Demo Besar di Prancis, KBRI Paris Imbau WNI Hindari Kerumunan

Related Posts

Tinggal Scan, Uang Berkurang: Apakah Kemudahan Pembayaran Digital Membuat Kita Lebih Boros?
DUNIA KAMPUS

Tinggal Scan, Uang Berkurang: Apakah Kemudahan Pembayaran Digital Membuat Kita Lebih Boros?

Oktober 21, 2026
2.4k
Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda
DUNIA KAMPUS

Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda

Oktober 21, 2026
2.1k
Pengaruh Financial Technology terhadap Perilaku Konsumtif Generasi Z
DUNIA KAMPUS

Pengaruh Financial Technology terhadap Perilaku Konsumtif Generasi Z

Oktober 21, 2026
2.3k
Sekali Klik, Uang Berpindah: Di Balik Cepatnya Transaksi Perbankan di Era Digital
DUNIA KAMPUS

Sekali Klik, Uang Berpindah: Di Balik Cepatnya Transaksi Perbankan di Era Digital

Oktober 20, 2026
2.4k
Pembatasan Perdagangan: Tarif
DUNIA KAMPUS

Pembatasan Perdagangan: Tarif

Oktober 20, 2026
2.4k
Jenis-Jenis Pasar Modal
DUNIA KAMPUS

Kenapa Banyak Perusahaan Gagal Bukan Karena Modal, Tapi Karena Salah Hitung Orang?

Oktober 20, 2026
2.4k
Next Post
Demo Besar di Prancis, KBRI Paris Imbau WNI Hindari Kerumunan

Demo Besar di Prancis, KBRI Paris Imbau WNI Hindari Kerumunan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber

© 2022 TangselXpress.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING

© 2022 TangselXpress.com