PERNAH merasa sangat memahami materi, tetapi tiba-tiba lupa semuanya ketika diminta berbicara di depan orang lain? Jika pernah, kamu tidak sendirian. Banyak mahasiswa mengalami hal yang sama. Di dalam kepala, sebenarnya sudah tersusun berbagai hal yang ingin disampaikan. Namun, ketika berdiri di depan kelas, tangan mulai dingin, suara bergetar, dan pikiran mendadak kosong.
Kondisi tersebut tidak selalu berarti seseorang tidak menguasai materi. Sering kali, masalahnya justru terletak pada kepercayaan diri.
Ketika Pengetahuan Tidak Sejalan dengan Keberanian
Public speaking bukan hanya tentang kemampuan berbicara, tetapi juga tentang keberanian menyampaikan apa yang kita ketahui. Seseorang bisa memiliki pengetahuan yang baik, tetapi belum tentu mampu menjelaskannya dengan percaya diri.
Salah satu penyebabnya adalah rasa takut dinilai. Ketika berada di depan banyak orang, kesalahan kecil sering terasa seperti kesalahan besar. Salah mengucapkan kata, lupa satu bagian materi, atau suara yang sedikit bergetar dapat membuat kita berpikir bahwa semua orang sedang memperhatikan.
Padahal, sering kali kita justru terlalu keras menilai diri sendiri.
Kita membayangkan, “Bagaimana kalau saya salah?”, “Bagaimana kalau ditertawakan?”, atau “Bagaimana kalau tidak bisa menjawab pertanyaan?” Pikiran-pikiran tersebut akhirnya membuat kita lebih fokus pada ketakutan daripada pesan yang sebenarnya ingin disampaikan.
Jago di Media Sosial, Gugup di Depan Kelas?
Fenomena lain yang menarik adalah seseorang dapat terlihat sangat aktif di media sosial, tetapi merasa gugup ketika harus berbicara secara langsung.
Di media sosial, kita memiliki kendali. Kita dapat mengulang video, menghapus tulisan, memperbaiki caption, atau memilih untuk tidak mengunggah sesuatu. Sementara ketika berbicara secara langsung, semuanya terjadi saat itu juga.
Namun, justru kondisi tersebut yang membuat public speaking menjadi keterampilan penting. Kita belajar bagaimana tetap berkomunikasi meskipun tidak semuanya berjalan sempurna.
Percaya Diri Bukan Berarti Tidak Gugup
Kepercayaan diri juga sering disalahartikan sebagai kondisi ketika seseorang tidak merasa gugup sama sekali. Padahal, gugup merupakan hal yang wajar.
Orang yang percaya diri pun dapat merasa takut. Bedanya, mereka tidak membiarkan rasa takut tersebut menghentikan langkahnya.
Tangan gemetar? Tetap berbicara. Lupa satu kalimat? Berhenti sebentar dan lanjutkan. Salah mengucapkan sesuatu? Perbaiki lalu teruskan.
Public speaking tidak menuntut kita menjadi pembicara yang sempurna. Yang lebih penting adalah kemampuan menyampaikan pesan dengan jelas dan tetap melanjutkan komunikasi ketika melakukan kesalahan.
Jangan Menunggu Percaya Diri untuk Mulai
Kepercayaan diri tidak muncul begitu saja. Ia dibangun melalui pengalaman.
Mulailah dari hal sederhana: berani menyampaikan pendapat dalam diskusi, bertanya kepada dosen, menjadi moderator, atau melakukan presentasi tanpa membaca seluruh isi slide.
Semakin sering mencoba, semakin terbiasa kita menghadapi rasa gugup. Dari situlah kepercayaan diri perlahan tumbuh.
Pada akhirnya, jangan sampai ide yang sebenarnya bagus berhenti hanya karena takut berbicara. Pengetahuan yang kita miliki akan lebih berarti ketika mampu dibagikan kepada orang lain.
Jadi, ketika suatu hari kita berdiri di depan kelas dan merasa gugup, jangan langsung berpikir bahwa kita tidak pintar.
Mungkin kita hanya sedang belajar percaya pada diri sendiri.
Tarik napas. Mulai dari satu kalimat. Lalu lanjutkan.
Karena bisa jadi, kita bukan tidak punya sesuatu untuk dikatakan. Kita hanya terlalu takut untuk membiarkan orang lain mendengarnya.
Penulis:
Dzilan Shirillah
Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang







