TANGSELXPRESS – Sejumlah selebritas dunia menghadapi seruan boikot setelah sikap dan pernyataan mereka terkait Israel memicu kontroversi di tengah konflik Israel-Palestina.
Seruan tersebut muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari ajakan memblokir akun media sosial hingga desakan membatalkan konser dan membatasi keterlibatan artis dalam festival film. Karya yang mereka bintangi juga ikut menjadi sasaran kritik, termasuk serial Stranger Things yang dibintangi Noah Schnapp dan Brett Gelman.
Selain kedua aktor tersebut, Gal Gadot, Gerard Butler, Israel Houghton, dan Andrea Bocelli juga menjadi sorotan dalam kontroversi yang berkaitan dengan sikap mereka terhadap Israel.
Lantas, siapa saja selebritas dunia yang menghadapi seruan boikot tersebut?
1. Noah Schnapp
Noah Schnapp menjadi sorotan setelah sebuah video dirinya bersama sejumlah teman beredar di media sosial pada November 2023. Dalam rekaman itu, terlihat sejumlah orang memamerkan stiker bertuliskan “Zionism Is Sexy” dan “Hamas Is ISIS”.
Video tersebut memicu reaksi dari sebagian warganet yang menilai pesan itu tidak pantas di tengah meningkatnya korban sipil dan krisis kemanusiaan di Gaza.
Akibat kontroversi tersebut, sejumlah penggemar menyerukan boikot terhadap Stranger Things, serial Netflix yang dibintangi Schnapp. Ada pula pengguna media sosial yang meminta agar aktor tersebut dikeluarkan dari jajaran pemeran.
Pada Januari 2024, Schnapp memberikan penjelasan mengenai pandangannya. Ia menyebut sikapnya terhadap konflik Israel-Palestina telah disalahpahami dan menyampaikan harapan agar warga sipil tidak menjadi korban kekerasan.
2. Brett Gelman
Brett Gelman, pemeran Murray Bauman dalam Stranger Things, turut menjadi perhatian karena dukungannya terhadap Israel yang disampaikan melalui media sosial.
Pada Desember 2023, Gelman juga mengunjungi Israel dan tampil dalam sketsa program komedi Israel, Eretz Nehederet.
Sikap dan aktivitas tersebut menuai kritik dari sebagian kelompok pendukung Palestina. Menjelang penayangan musim terakhir Stranger Things pada 2025, seruan untuk memboikot serial itu kembali muncul karena keterlibatan Schnapp dan Gelman.
Meski demikian, seruan di media sosial tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kontroversi tersebut menyebabkan penurunan jumlah penonton atau kerugian finansial bagi serial tersebut.
3. Gal Gadot
Gal Gadot, aktris asal Israel yang dikenal lewat perannya sebagai Wonder Woman, juga menjadi sasaran kritik terkait pandangan dan dukungannya terhadap Israel.
Pada September 2025, kelompok Venice4Palestine menyerukan agar penyelenggara Festival Film Venesia mengambil sikap terhadap aktor yang mereka anggap mendukung Israel. Nama Gadot dan Gerard Butler ikut disebut dalam kontroversi tersebut.
Namun, seruan itu perlu dibedakan dari keputusan resmi festival untuk melarang seorang aktor tampil. Keduanya disebut tidak masuk dalam rencana kehadiran festival sebelum acara berlangsung.
Kontroversi ini memperlihatkan bagaimana konflik Israel-Palestina turut memengaruhi perdebatan di industri perfilman internasional, khususnya mengenai hubungan antara pandangan politik dan partisipasi dalam acara budaya.
4. Gerard Butler
Gerard Butler, aktor yang dikenal melalui film 300 dan sejumlah film aksi lainnya, turut disebut dalam seruan boikot yang berkaitan dengan Festival Film Venesia 2025.
Kelompok Venice4Palestine mendorong industri hiburan agar lebih tegas menyikapi perang di Gaza. Dalam kampanye tersebut, Butler dan Gal Gadot termasuk nama yang dipersoalkan.
Di sisi lain, sutradara Julian Schnabel mengkritik gagasan memboikot aktor berdasarkan pandangan politik mereka. Menurutnya, pemilihan pemeran semestinya didasarkan pada bakat dan kemampuan profesional.
Kasus Butler lebih tepat dipahami sebagai kontroversi dan seruan boikot dari kelompok tertentu, bukan bukti bahwa seluruh industri hiburan telah memboikotnya.
5. Israel Houghton
Israel Houghton, penyanyi gospel asal Amerika Serikat, menjadi sorotan setelah rencana konsernya di Indonesia menuai penolakan.
Pemerintah menyampaikan keberatan karena khawatir pertunjukan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan politik yang berkaitan dengan Israel. Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menjelaskan bahwa pertimbangan tersebut bukan semata-mata didasarkan pada nama atau agama sang musisi.
Pernyataan Houghton yang menunjukkan dukungan kepada Israel turut menjadi perhatian dalam kontroversi tersebut. Namun, kasus ini berbeda dari seruan boikot terhadap aktor Hollywood karena berpusat pada kebijakan pemerintah terkait penyelenggaraan konser.
Status dan kronologi keputusan mengenai konser tersebut perlu merujuk pada keterangan resmi pemerintah dan penyelenggara.
6. Andrea Bocelli
Penyanyi tenor asal Italia, Andrea Bocelli, juga menghadapi seruan boikot terkait rencana konsernya di situs bersejarah Petra, Yordania, pada November 2026.
Gerakan Boycott, Divestment, Sanctions (BDS) di Yordania bersama kelompok pendukungnya menyerukan agar masyarakat tidak membeli tiket konser tersebut. Mereka juga mendesak pembatalan pertunjukan karena menilai Bocelli memiliki rekam jejak dukungan terbuka kepada Israel.
Seruan tersebut menjadi bagian dari upaya kelompok pendukung Palestina memberikan tekanan publik melalui keputusan untuk tidak menghadiri pertunjukan.
Namun, ajakan boikot tidak otomatis berarti konser telah dibatalkan. Seruan kelompok aktivis dan keputusan resmi penyelenggara merupakan dua hal yang berbeda.
Mengapa Selebritas Dunia Menjadi Sasaran Boikot?
Seruan boikot terhadap selebritas yang dianggap mendukung Israel berkembang seiring meningkatnya perhatian dunia terhadap situasi di Gaza. Media sosial menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik, menyebarkan informasi, dan menggalang dukungan terhadap Palestina.
Dalam sejumlah kasus, kritik diarahkan kepada selebritas yang secara terbuka menyatakan dukungan kepada Israel. Ada pula kampanye yang menyasar figur publik karena dinilai kurang bersuara mengenai penderitaan warga Palestina.
Salah satu gerakan yang mendapat perhatian pada 2024 adalah Blockout 2024. Kampanye ini mendorong pengguna media sosial memblokir akun selebritas tertentu untuk mengurangi jangkauan konten dan potensi pendapatan digital mereka.
Gerakan tersebut menguat setelah Met Gala pada Mei 2024. Sebagian pengguna media sosial mempertanyakan sikap selebritas yang menghadiri acara mewah ketika krisis kemanusiaan di Gaza masih berlangsung.
Kampanye itu tidak hanya menyasar artis yang secara terbuka mendukung Israel, tetapi juga sejumlah figur publik yang dianggap bungkam atau kurang menunjukkan kepedulian terhadap situasi di Gaza.
Meski demikian, seruan boikot, keputusan resmi pembatalan acara, dan dampak nyata terhadap karier atau pendapatan seorang selebritas merupakan hal berbeda yang perlu dinilai berdasarkan bukti masing-masing kasus.







