TANGSELXPRESS – Korban tewas akibat kampanye militer terbaru Israel di Jalur Gaza, Palestina yang dimulai sejak Selasa, 18 Maret 2025 tembus 506 jiwa, hampir setengahnya adalah anak-anak.
Hal ini diumumkan oleh Kementerian Kesehatan Gaza pada hari Kamis, 20 Maret 2025 bahwa jumlah korban tewas dan luka-luka akibat serangan Israel yang kembali dimulai sejak Selasa dini hari usai gencatan senjata 19 Januari lalu.
Dalam pengumumannya, kementerian tersebut mengatakan sebanyak 506 warga Palestina tewas, 200 di antaranya anak-anak, sejak Israel mengakhiri gencatan senjata, sementara 909 lainnya luka-luka, dikutip dari Mehr 20 Maret 2025.
Sebelumnya, Kantor Perdana Menteri Israel mengonfirmasi dimulainya kembali perang di Jalur Gaza, dan cakupannya akan secara bertahap diperluas.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan dia telah memberi tahu militer untuk mengambil “tindakan keras” terhadap Hamas sebagai tanggapan atas penolakan kelompok itu untuk membebaskan sandera yang tersisa dan karena penolakan mereka terhadap proposal gencatan senjata.
Hamas sendiri diperkirakan masih menahan 59 dari sekitar 250 sandera yang ditangkap dalam serangannya pada 7 Oktober 2023 di Israel, dengan dalih Israel telah melanggar gencatan senjata dan membahayakan upaya mediator untuk mengamankan gencatan senjata permanen.
Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan dalam sebuah pernyataan video, jika para sandera tidak dibebaskan, “Israel akan bertindak dengan kekerasan yang belum pernah Anda lihat sebelumnya”.
Secara terpisah, kelompok militan Palestina Hamas mengatakan operasi darat dan penyerbuan ke Koridor Netzarim adalah “pelanggaran baru dan berbahaya” terhadap perjanjian gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua bulan.
Dalam sebuah pernyataan, kelompok tersebut menegaskan kembali komitmennya terhadap kesepakatan tersebut dan meminta para mediator untuk “memikul tanggung jawab mereka”.
Israel dan Hamas saling tuduh melanggar gencatan senjata, yang telah memberikan kelegaan bagi 2,3 juta penduduk Gaza setelah 17 bulan perang menghancurkan daerah kantong itu hingga menjadi puing-puing dan memaksa sebagian besar penduduknya mengungsi beberapa kali.







