PERSOALAN literasi keuangan di Indonesia bukan sekadar soal minimnya akses informasi, melainkan juga soal bagaimana informasi tersebut dikomunikasikan kepada masyarakat luas. Banyak individu sesungguhnya memiliki pengetahuan dasar mengenai pengelolaan keuangan, namun enggan menyampaikannya secara terbuka karena keterbatasan kemampuan berbicara di depan umum.
Ketakutan untuk tampil, kekhawatiran salah mengucapkan istilah teknis, hingga minimnya kebiasaan berdiskusi mengenai uang secara terbuka, menjadi faktor-faktor yang saling berkelindan dan memperlambat penyebaran pemahaman finansial yang sehat di tengah masyarakat.
Kondisi inilah yang menjadi titik tolak Mutiara Puspitasari, mahasiswa Universitas Pamulang, dalam menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang memadukan dua bidang keilmuan sekaligus, yaitu keterampilan komunikasi publik dan edukasi literasi keuangan.
Program pengabdian ini digagas sebagai realisasi Tri Dharma Perguruan Tinggi pada aspek pengabdian masyarakat, dengan sasaran utama warga di wilayah Tangerang Selatan yang selama ini kerap menghadapi hambatan psikologis ketika harus mendiskusikan urusan finansial secara terbuka.
Tema yang diangkat, “Peran Keterampilan Berbicara di Depan Umum dalam Meningkatkan Literasi dan Kepercayaan Publik terhadap Isu Keuangan,” dipilih bukan tanpa alasan. Fenomena membanjirnya informasi keuangan melalui media digital justru memunculkan tantangan baru: masyarakat dituntut tidak hanya paham, tetapi juga cakap menyaring dan meneruskan informasi tersebut agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau bahkan penyesatan opini di kalangan sesama.
Derasnya konten seputar investasi, pinjaman daring, maupun perencanaan keuangan pribadi yang beredar tanpa saringan yang memadai turut memperbesar risiko masyarakat terjebak pada informasi yang keliru maupun praktik keuangan yang merugikan.
Kegiatan ini juga dipersiapkan melalui tahapan observasi awal terhadap kondisi masyarakat sasaran, sehingga materi yang disusun benar-benar relevan dengan kebutuhan dan tingkat pemahaman peserta di lapangan.
Rangkaian kegiatan dibuka dengan penjelasan konseptual mengenai keterkaitan erat antara kemampuan public speaking dan tingkat kepercayaan publik terhadap suatu informasi. Disampaikan bahwa cara seseorang menyampaikan gagasan mulai dari intonasi, kontak mata, hingga struktur argumen yang logis turut menentukan sejauh mana pesan tersebut dipercaya dan diterima oleh pendengar.
Sebuah gagasan yang benar sekalipun dapat kehilangan kekuatannya apabila disampaikan dengan cara yang ragu-ragu, tidak runtut, atau tidak meyakinkan, sehingga penguasaan teknik komunikasi menjadi prasyarat penting agar substansi keuangan yang disampaikan benar-benar sampai dan dipercaya oleh audiens. Bertolak dari pemahaman itu, peserta diajak mempelajari teknik mengubah istilah keuangan yang kerap terasa asing dan teknis menjadi bahasa yang lebih membumi, sehingga lebih mudah dicerna oleh orang awam.
Selain pemaparan konsep, kegiatan ini juga menekankan pentingnya kesiapan mental sebagai bagian tak terpisahkan dari keterampilan berbicara di depan umum. Peserta diberikan latihan sederhana untuk mengelola rasa gugup, seperti teknik pengaturan napas, penataan pikiran sebelum berbicara, serta cara membuka pembicaraan dengan kalimat pembuka yang menarik perhatian pendengar sejak awal.
Aspek ini penting mengingat kepercayaan diri yang rendah kerap menjadi penghalang utama masyarakat awam ketika harus menjelaskan topik keuangan, sekalipun mereka sebenarnya memahami substansi permasalahannya. Puncak kegiatan diisi dengan sesi praktik langsung, tempat peserta bergiliran mempresentasikan topik keuangan sederhana di hadapan kelompoknya masing-masing, lengkap dengan masukan perbaikan seputar gestur, kelancaran bertutur, dan kekuatan argumentasi yang dibangun.
Umpan balik diberikan secara langsung dan bersifat membangun, sehingga peserta dapat segera menyadari kekurangan yang perlu diperbaiki tanpa merasa dihakimi. Pendekatan berbasis praktik ini sengaja dipilih agar peserta tidak hanya memahami teori secara pasif, melainkan benar-benar mengalami sendiri proses berbicara di hadapan orang lain sebagai bentuk pembelajaran yang lebih bermakna.
Respons yang muncul selama kegiatan berlangsung cukup menggembirakan. Sejumlah peserta mengaku bahwa selama ini kendala utama mereka bukan terletak pada ketiadaan pengetahuan finansial, melainkan pada rasa ragu ketika harus menjelaskannya kepada orang lain, entah kepada keluarga, rekan kerja, maupun lingkungan sosial yang lebih luas.
Setelah mengikuti pendampingan, mereka merasakan peningkatan rasa percaya diri sekaligus kejelasan dalam menyusun penjelasan yang runtut. Beberapa di antaranya bahkan menyampaikan keinginan untuk mempraktikkan kembali materi yang diperoleh dalam pertemuan keluarga atau forum warga, sebagai langkah awal menularkan pemahaman yang sama kepada lingkungan terdekat.
Tokoh masyarakat setempat yang turut menyaksikan jalannya kegiatan pun memberikan apresiasi, menilai pendekatan yang menggabungkan latihan komunikasi dengan muatan edukasi finansial ini sebagai terobosan yang jarang ditemui namun sangat dibutuhkan, mengingat selama ini kedua aspek tersebut cenderung diajarkan secara terpisah dan jarang dipadukan dalam satu program pengabdian.
Antusiasme tersebut juga tampak dari keinginan sebagian peserta untuk mengikuti sesi lanjutan, sebagai indikasi bahwa kebutuhan akan pelatihan semacam ini masih sangat besar di tengah masyarakat. Harapan besar disematkan pada keberlanjutan dampak dari kegiatan ini.
Kecakapan berbicara di depan umum yang telah dilatih diharapkan tidak berhenti sebagai keterampilan personal semata, melainkan turut berperan sebagai penyaring alami terhadap simpang siurnya informasi keuangan yang beredar di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat budaya literasi yang lebih kritis dan terbuka untuk berdiskusi. Ketika semakin banyak individu mampu menjelaskan persoalan keuangan secara jernih dan meyakinkan, diharapkan tumbuh pula ekosistem sosial yang lebih tahan terhadap misinformasi, sekaligus lebih terbuka terhadap dialog seputar pengelolaan keuangan yang sehat.
Dalam jangka panjang, kemampuan semacam ini juga berpotensi mendorong lahirnya agen-agen literasi keuangan di tingkat akar rumput, yakni individu-individu yang tidak hanya paham secara pribadi, tetapi juga aktif menularkan pemahaman tersebut kepada lingkungan sekitarnya.
Pelaksana kegiatan juga berharap agar model pengabdian semacam ini dapat direplikasi pada komunitas lain dengan karakteristik berbeda, mengingat kebutuhan akan penguatan komunikasi dan pemahaman finansial akan terus tumbuh seiring kompleksitas ekonomi yang dihadapi masyarakat ke depan.
Penulisan artikel ini dimaksudkan sebagai catatan dokumentatif atas pelaksanaan kegiatan, sekaligus sebagai bahan rujukan bagi khalayak umum mengenai pentingnya memadukan keterampilan berkomunikasi dengan pemahaman keuangan di tengah derasnya arus informasi masa kini.
Melalui kegiatan pengabdian semacam ini, kampus tidak hanya berperan sebagai pusat pengembangan ilmu, tetapi juga sebagai jembatan yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat sehari-hari, sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam mendorong kemandirian dan kecerdasan finansial masyarakat luas.
Penulis:
Mutiara Puspitasari
Universitas Pamulang







